
"Tapi, maaf. Ini sangat terkesan memaksa." ucap zia yang masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan angga. Bisa-bisanya seorang ayah melakukan hal memalukan seperti ini.
Ditambah lagi, cara pandang angga terhadap zia. Membuat wanita paruh baya itu merasa sedikit meremang.
"Kami tidak memaksa nyonya." jawab angga dengan mengedipkan mata.
"Astaga! Aku sangat tidak mengerti. Bagaimana bisa nenek mempunyai anak macam ini." gumam zia didalam hatinya.
Zia dan angga masih saja terus berdebat, diantara mereka bahkan tidak ada yang mau mengalah.
"Paman, angga. Maaf sebelumnya, ini sangat mengejutkan saya." ucap najib. Dia merasa bingung harus mengatakan apa.
"Jadi saya... Saya tidak bisa menerima lamaran ini." sambungnya dengan wajah menunduk.
"Apa! Jadi kamu menolak amanda." ulang angga yang tidak percaya kalau najib akan menolak amanda yang menurutnya sangat cantik. Bahkan diantara semua cucu nenek, amandalah yang paling cantik.
Ya itu semua karena jihan masih tidak mengerti caranya berdandan, andai saja jihan di poles oleh ahlinya. Amanda mah lewat gaes...
"Maaf, paman. iya saya menolaknya." jawab najib.
Zia merasa bahagia karena najib bisa mengambil keputusan dengan cepat, padahal awalnya zia berpikir kalau najib akan meminta waktu. Tapi ternyata ponakannya langsung sat set, membuat zia mengacungkan kedua jempolnya.
"Nek, maaf." ucap najib kepada nenek yang selama ini sudah dia anggap neneknya sendiri, setelah kedua orangtuanya meninggal.
"Kamu tidak salah, tidak harus minta maaf." ucap nenek menepuk tangan najib.
"Angga, riana, bram. kalian pulang saja. Ajak amanda sekalian, kalian benar-benar memalukan!" ucap nenek meminta semuanya pulang.
"Tapi bu, amanda... "
"Tidak ada tapi, sekarang juga pulanglah!" ucap nenek memotong kalimat angga.
Angga, riana dan bram serta amandapun segera pamit meninggalkan rumah najib. Tinggalah nenek, aisyah dan jihan yang entah ada dimana anak itu.
"Ais, dimana jihan?" tanya nenek.
"Entahlah, bu. Tadi dia pamit mau keluar dulu." jawab aisyah.
"Ya sudah, mungkin jihan sedang perjalanan kesini." ucap nenek.
__ADS_1
Nenek dan aisyah kembali meminta maaf kepada zia dan najib, nenek sungguh malu dengan kelakuan anak sulungnya, yang entah setan apa yang merasukinya hingga bisa nekat melamar seorang laki-laki untuk anak perempuannya.
"Tidak apa-apa, nek. Hanya saja kami sungguh terkejut, andai saja ada pembicaraan diawal mungkin tidak akan seperti ini." Ucap zia merasa tidak enak hati karena nenek beberapa kali meminta maaf.
"Dimana, jihan?" tanya zia kemudian.
"Eh! Kok sepi. Pada kemana?" tanya jihan yang tiba-tiba saja masuk tanpa salam.
"Nah itu dia." jawab nenek.
"Jihan, kamu darimana? Daritadi ibu dan nenek menunggu." ucap aisyah sesaat setelah jihan duduk disampingnya.
"Maaf, bu. Jihan sudah tidak kuat ingin tertawa. Itulah kenapa aku keluar daripada aku mentertawakan kelakuan paman dan amanda disini."
Najib dan zia hanya menggelengkan kepala mendengar pengakuan jihan yang terlalu jujur.
***
Jihan yang akan memasuki kamarnya terpaksa menghentikan langkah kakinya, ketika pendengarannya menangkap suara yang sangat familiyar di telinganya.
"Apakah ada tamu?" gumam jihan bertanya-tanya.
Tap
Tap
Tap
"hai, apa kabar?
"kamu! Mau apa?" tanya jihan, saat mendapati najib yang sudah berada dihadapan nya.
"pertanyaan macam apa itu! Aku ya suka-suka mau datang kapan." jawab najib asal.
"Terserah!" jihan kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai dua.
"jihan, apakah kamu mau kerja dikantorku?" tanya najib.
Pertanyaan najib membuat jihan kembali menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Aku tidak minat!" jawab jihan singkat.
"Apa kamu mau mencobanya dulu?"
"Astaga! Sepertinya dia salah makan." gumam jihan yang masih dapat di dengar oleh najib.
"Aku bahkan belum makan. apakah kamu mau menemaniku makan?"
"Makanlah sendiri! Lagipula aku heran deh. Kenapa kamu masih juga datang kerumah ini. Apa kamu tidak takut diusir paman fan tante, hah!" teriak jihan.
prok
Prok
Prok
"wah, rupanya ada bibit pelakor dirumah ini!" ucap seseorang yang tidak lain adalah riana.
jihan mendengus kesal saat tau siapa yang datang, jihan merasa selama dia berada dirumah nenek, dia tidak akan merasakan ketenangan yang dia impikan. Jangankan menulis novel ber bab-bab, satu bab saja rasanya susah sekali. Banyak sekali gangguan yang datang dirumah ini.
"Najib, kalau kamu tidak mau dengan amanda, bagaimana kalau dengan anak ku saja." ucap riana saat sudah berada di depan najib.
"Duh gusti! Ini apa lagi." gumam najib.
"jihan, apa kamu tidak punya etika, hah! Turun dan buatkan aku minuman!" teriak riana.
"Ya, baiklah." jawab jihan, diapun turun kembali menuju dapur.
Riana terus membicarakan kinanti anaknya, bahkan tanpa ragu mengatakan kalau pernikahan siripun dia mau asalkan kinanti bisa menikah dengan najib seorang pria tampan yang sukses dan mapan, perusahaan nya banyak dimana-mana.
"Dasar sudah gila!" umpat jihan didalam hatinya.
Jihan tidak mengerti dengan cara berpikir tantenya itu, bagaimana bisa dia menjadikan masa depan anaknya seperti itu.
"Tante, silahkan." ucap jihan meletakan segelas teh hangat.
"Bagaimana, najib. Apakah kamu mau?" tanya riana saat melihat najib yang hanya diam mendengarkan celotehannya.
"Akan saya pikirkan, tante. Dan alangkah baiknya tante bicara terlebih dahulu dengan kinanti." jawab najib.
__ADS_1
"Baiklah, itu bukan hal yang sulit."
Bersambung