
Tok
Tok
Tok
"Kak ais, buka pintunya!" Teriak seseorang di depan pintu rumah aisyah.
Ceklek
"Riana, mau apa?" Tanya aisyah. Dia sedikit terkejut karena riana mengetahui tempat tinggalnya sekarang. Entah siapa yang memeberi tahunya tempat ini.
"Ikut aku!" Riana menarik tangan aisyah keluar rumahnya.
"Lepasin, ri. Kamu mau apa?" Tanya aisyah. Dia menghempaskan tangan riana yang memegang tanganmya.
"Ibu sakit! Dan itu semua karena kalian!." Teriak riana kesal. Karena aisyah sekarang berani melawannya.
"Bukankah dia ibumu. Lalu kenapa kamu mencariku."
"Wow sudah berani rupanya! Dasar tidak tau diri." Tangan riana sudah melayang di udara hendak menpar aisyah. Namun seseorang menangkapnya.
Tap.
__ADS_1
Plak
Plak
Riana yang tidak mengetahui kedatangan jihan, tidak bisa menghindari tamparan itu.
"Dasar gadis tidak tau diri.!" teriak riana.
"Pergi dari sini! Dan jangan pernah menampakan wajahmu di depanku." Usir jihan. Dia benar-benar emosi melihat riana datang apalagi dia melihat riana hendak menampar ibunya.
"Pergi!" Ucap jihan lagi dengan penuh penekanan.
"Aku akan balas semua perlakuanmu padaku!" Ancam riana dengan napas naik turun.
Riana segera meninggalkan rumah itu dengan menghentakan kakinya. Dia benar-benar kesal karena tidak berhasil membawa aisyah bertemu ibunya. Dia juga sangat kesal kepada ibunya karena selama sakit hanya jihan dan aisyah yang dia tanyakan. Membuat angga dan riana pusing dibuatnya.
"Bu, apa yang tante bicarakan? Dan darimana dia tau kalau kita disini?" Tanya jihan saat riana sudah tidak lagi terlihat.
"Tidak ada." Aisyah tidak mau jihan tau kalau kedatangan riana memberitahu tentang neneknya yang sakit.
"Ini pasti ulah si ibra, dia yang memberitahu tante riana rumah ini." Ucap jihan masih dengan mode kesal.
"Jangan su'udzon, kalau salah jadinya fitnah."
__ADS_1
"Tapi..." Ucapan jihan menggantung saat mendengar salam dari luar pagar.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." jihan dan aisyah kompak melihat ke arah suara. Ternyata ibra yang datang. Melihat ibra tentu saja jihan langsung melabraknya dengan rentetan pertanyaan mengenai riana.
"Di sini hanya kamu yang tau tempat ini. Aku yakin kamulah yang sudah memberitahu tante riana. Iyakan?" Ucap jihan dengan mata tajam menatap ibra yang terlihat bingung mendapat tuduhan dari jihan.
"Aku..."
"Jangan pura-pura bod*h. Kalian memang sama saja!" Ucap jihan memotong kalimat yang akan ibra katakan.
"Bu, apa maksudnya? Aku benar-benar tidak tahu. Aku kesini karena aku mendapat laporan kalau paket yang aku kirim untuk ibu aisyah sudah sampai." Jawab ibra.
Aisyah dan jihan saling melihat, mereka kini tau siapa orang yang membuat tumpukan kardus itu memenuhi teras rumahnya.
"Oh, jadi kamu! Bawa semua barang itu. Aku dan ibu tidak butuh semua itu. Berhenti mengikutiku dan pergilah yang jauh." Jihan semakin kesal karena sikap ibra sudah menyinggungnya.
"Jihan, bukan begitu. Ini juga ada kesalahan, harusnya memang tidak sebanyak ini. Aku hanya ingin berterima kasih sama ibu ais dengan memberinya baju. Namun karena aku tidak tau ukuran motif dan warna yang pas jadilah debanyak ini." Jelas ibra. Dia berharap jihan mau sedikit melunak. Namun harapan hanya tinggal harapan. Jihan bahkan semakin emosi.
"Aku tidak butuh penjelasan apapun! Pergi kalian dan jangan pernah kesini. Atau aku yang akan pergi dari sini." Ancam jihan.
"Eh! Jangan." Teriak ibra refleks. Dia tidak mau jihan pergi dari rumah itu.
__ADS_1
Bersambung...