
Setelah mendapat panggilan telpon dari ibra, riko segera meluncur menuju cafe tempat biasa mereka bertemu. Dia tidak mau sampai telat dan akan membuat ibra murka.
Tak
Tok
Tak
Jari-jari ibra mengetok meja didepannya, dia sungguh sangat kesal karena kembali harus menunggu riko, anak buahnya itu lagi dan lagi terlambat datang.
Hah, hah, hah...
"Maaf, bos. saya terlambat." Ucap riko di antara napasnya yang masih memburu, dia terpaksa harus berlari karena motor yang dikendarainya mengalami kebocoran.
"Ck! Sepertinya kamu sudah bosan bekerja denganku, ri." Ucap ibra datar.
Glek
Riko hanya diam saja, dia tidak mau salah bicara saat posisinya sedang terancam.
"Apa mulutmu juga sudah tidak berfungsi, hah?" sambung ibra. "Maaf, bos. Ban motorku tiba-tiba saja bocor." jawab riko.
"Sekarang katakan padaku. Apa yang kamu dapat dari penyelidikanmu semalam?" tanya ibra langsung kepada intinya.
"Laki-laki bernama riki itu, sudah memberikan banyak uang untuk angga. Agar dia bisa memiliki jihan." jawab riko
"Brengs*k! Aku harus bicara dengan kak bram. Ini pasti ulah kak riana."
"Kak riana sudah mengetahui dimana jihan tinggal. Dia bahkan meminta seseorang untuk mengganggunya." ucap riko.
"Satu lagi."
"Apa?"
__ADS_1
"Angga ingin agar kak riana menjauhkan bos dengan gadis itu."
"Ck! Aku ingin tau, apa yang bisa dia lakukan. Mungkin tanpa bantuanku pun, jihan mampu menghancurkan angga dan orang-orangnya. Gadis itu sangat cerdas untuk di manipulasi."
"Lalu, sekarang saya harus apa bos?" tanya riko seperti biasa.
"Kamu, carilah wanita untuk di jadikan istri. Agar kalau aku memintamu datang, kamu tidak banyak alasan." jawab ibra asal.
"Bukankah itu akan menyulitkanku pergi nantinya. Karena menurutku wanita sangat cerewet, dia akan bertanya banyak hal."
"Kamu benar juga, kalau begitu kamu tidak usah menikah seumur hidup."
"Apa!"
Ibra segera pergi meninggalkan riko yang masih nampak terkejut, pria tampan itu selalu saja kalah telaq.
Dengan langkah besar ibra memasuki rumah mewah bram.
"Ya " jawab ibra singkat. Matanya tetap fokus menatap layar ponsel di tangannya.
"Om, aku di sini. Bukan di jempolmu." ucap kinanti kesal.
"Astaga! benar kata riko perempuan sangat cerewet."gumam ibra.
"Untung saja jihan tidak secerewet dirimu." ucap ibra. Dia melihat kinanti sudah rapih dan cantik.
"Kenapa tiba-tiba membandingkanku dengan kak jihan."
"Atau jangan-jangan...."
"Diamlah! Anak kecil dilarang berpikir macam-macam."
"Aku bukan anak kecil! Aku bahkan sudah bisa bikin anak." ucap kinanti asal.
__ADS_1
Pletak
"Aw" kinanti meringis saat keningnya di sentil ibra.
"Bersihkan otakmu, baru pergi. Aku tidak mau punya ponakan yang otaknya mesum."
Kinanti terkekeh mendengar ucapan ibra yang bahkan irang tuanya saja tidak seperhatian itu kepadanya.
"Aku tidak mau! Daah om ibra." teriak kinanti segera melarikan diri dari hadapan ibra. Kinanti tidak mau pria di depannnya akan banyak menginerogasinya kalau dia tidak segera pergi.
Ibra segera memasuki rumah besar itu, saat kinanti sudah tidak lagi terlihat. Entah mau kemana gadis itu, padahal ini hari minggu. Tidak mungkin dia ngampus.
"Ibra, darimana saja kamu? Semalaman tidak pulang." ucap bram saat melihat adiknya itu baru pulang.
Suara bram menghentikan langkah ibra, dia masih kesal kepada kakaknya karena tidak benar-benar menghukum riana. Ibra merasa kalau bram terlalu memanjakan istrinya yang culas itu.
"Bukan urusanmu." jawab ibra datar.
"Kamu masih marah padaku? Hem."
"Entahlah! Marahpun aku rasa percuna saja." jawab ibra. Dia segera berlalu dari hadapan bram menuju kamarnya.
Ibra berhenti sesaat ketika berpapasan dengan riana yang akan memberikan kopi kepada bram. Sorot tajam ibra membuat cangkir kopi yang riana bawa ikut bergetar. Riana tidak bisa menahan rasa gugupnya saat mendapat sorot tajam itu.
"Kendalikan tanganmu. Kalau tidak cangkir itu akan pecah. seperti kau juga harus bisa mengendalikan kelakuanmu kalau tidak kepalamu yang akan pecah, kak riana." ucap ibra sarat akan makna.
Ibra kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.
Riana benar-benar gugup, sampai keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya.
"Apa yang harus aku lakukan pada adik iparku yang gila itu." batin riana.
Bersambung
__ADS_1