Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 43.


__ADS_3

"Jihan, sebaiknya kita pulang dulu." Ajak zia. Setelah bram benar-benar membawa riana naik ke atas.


"Aku tidak bisa, tan. Aku harus tau dulu dimana tante riana menyembunyikan ibuku." jawab jihan.


"Apakah kamu akan menunggu bram bicara dengan riana?"


"Ya, hanya itu solusi untuk saat ini. Tante bisa pulang dulu, aku minta maaf karena sudah melibatkan tante zia dan juga najib."


"Tidak masalah. Kalau begitu aku pun akan menemanimu sampai ada seseorang di rumah ini. Tante tidak akan tenang meninggalkanmu disini sendirian."


"Baiklah, terima kasih."


Najib dan zia menemani jihan di rumah besar riana, entah pergi kemana penghuni rumah itu hingga rumah besar itu terasa sangat sepi.


Tap


Tap


Tap


"Kalian!"


"Ibrahim."


"Sedang ada acara apa di sini?" Tanya ibra dan duduk di samping najib setelah dia menyalami zia. Najib yang nampak kesal melihat wajah santai ibra dengan berani meninju wajah ibra.


Bugh!


"Astaghfirallah!" Teriak zia dan jihan bersama.


Ibra yang tidak tau apa-apa langsung geram karena najib sudah meninju wajahnya. Ibrapun akan melayangkan pukulan namun terhalang oleh jihan dan zia.


"Jangan! Apa yang kamu lakukan najib?" Teriak zia kesal. Karena keponakan nya tidak bisa menahan emosinya.


"Dia pantas mendapatkan nya. Gara-gara dia ibu aisyah hilang." jawan najib.

__ADS_1


"Apa! Ibu ais hilang?" Wajah kesalnya kini berubah panik. Lagi-lagi dia kecolongan. Padahal ibra sudah meminta riko selalu mengabari semua tentang jihan dan aisyah. Karena dia tau kalau jihan sedang di incar oleh riki. Bos kaya raya tapi bajing*n.


"Jangan pura-pura tidak tahu." Ucap najib. Hingga ibra kembali terpancing emosi.


"Aku memang tidak tahu! Jadi apa urusan nya denganmu? Kenapa sejak tadi kamu menuduhku? Hah!" Teriak ibra dengan mencengkram erat kerah baju najib.


"Ck! Bukankah selama ini kamu menyuruh seseorang memata-matai jihan?"


"Aku tau kalau kamu pun terlibat dalam hilangnya ibu aisyah."


"Hentikan omong kosongmu itu! Dasar g*la."


"Hentikan!" Teriak jihan yang sudah tidak bisa sabar lagi. Kedua pemuda di depannya benar-benar menambah kekesalan dl hatinya.


"Aku tidak perduli kalian mau saling hajar atau saling bunuh. Tapu tolong, lakukan itu di luar sana atau di tempat lain. Jangan menambah kekacauan yang sudah ada. Dan aku peringatkan kepada kalian berdua kalau benar salah satu dari kalian. atau bahkan kalian berdua terlibat. Aku tidak akan segan menghajar kalian sampai m*ti!" Teriak jihan kesal. Rasanya dia ingin menumpahkan semua rasa kesal di hatinya.


Tidak ada yang berani menjawab ucapan jihan, bahkan zia sendiri hanya diam. Dia merasakan bagaimana jihan yang sangat mengkhawatirkan ibunya. Bahkan rasa kesal dan khawatir terlihat jelas di wajah cantiknya.


"Aku akan bicara dengan kak riana. Dia harua menjelaskan semua ini." Ucap ibra akhirnya.


"Tidak perlu! Kakakmu sedang bicara dengan istrinya." jawab najib masih dengan nada kesal.


Ibra segera melangkah menuju lantai atas dimana bram tadi membawa riana. Jihan hanya bisa melihat saja tanpa ada niat melarangnya. Baginya siapa dan apapun yang dilakukannya tidak prnting. Yang terpenting dia bisa melihat dan membawa kembali ibunya.


Brak...


Ibra menghempaskan pintu kamar riana hanya dengan satu kali tendangan saja. Bahkan suara gaduh itu terdengar oleh jihan dan yang lainnya yang berada di bawah.


"Ibrahim" Ucap bram yang tidak menyangka kalau adiknya akan pulang malam ini. Padahal sydah hampir satu minggu dia tidak pulang. Hatinya sudah yakin kalau ibrahim sudah mengetahui keadaan yang sedang terjadi.


" Apa yang sedang kalian lakukan! Begini caramu menghukum istri kurang aj*r ini, kak?" Tanya ibrahim yang melihat bram sedang memeluk riana dilantai yang masih terua menangis.


"Bukan.. Tapi..."


"Kalau kakak tidak bisa menghukumnya paling tidak kakak sudah tau dimana dia menyembunyikan ibu ais." teriak ibra lagi.

__ADS_1


"Kakak sedang menangakan nya. Tapi tiba-tiba saja asam lambung riana kambuh. Aku tidak tega." Ucap bram dengan wajah khawatir.


Sedangkan riana masih terus menangis di lantai dengan berpura-pura kalau asam lambungnya benar-benar naik akibat stres.


"Ck! Masih saja percaya. Kalau begitu berikan dia, biar aku yang bertanya dengan caraku sendiri." Ucap ibra geram karena kakak laki-lakinya itu benar-benar bucin akut.


"Jangan ibra, biar kakak saja. Besok pagi kamu sudah akan tau dimana kak aisyah berada."


"Apa yang kakak katakan? Apakah kakak tidak melihat bagaimana jihan menunggu di bawah dengan wajah khawatirnya. Apa kakak tidak melihat kalau jihan bahkan tidak akan meninggalkana rumah ini sampai dia mendapatkan info dimana ibunya di sembunyikan oleh istrimu itu!" Teriak ibra semakin kesal.


"Andai kamu tidak ikut campur, sudah aku habisi istrimu istrimu itu. Asal kamu tau saja kak, dia itu penipu ulung!" sambung ibra dengan menghempaskan kembali pintu yang sudah setengah rusak.


"Ingat, besok pagi atau aku yang akan bertindak dengan caraku." Ancam ibra sebelum dia benar-benar pergi dari kamar itu.


Ibra turun dengan wajah yang sangat tidak enak di lihat, dia tidak perduli kepada orang yang ada di ruang tamu yang sedang melihatnya dengan tatapan heran. Namun ibra benar-benar mengabaikan semuanya dan pergi begitu saja. Tujuannya adalah bertemu dengan riko setelah tadi membuat janji bertemu ibra akan meminta penjelasan riko tentang ini, kenapa dia sampai tidak mengetahui kejadian ini.


Riana menatap bram yang juga sedang melihatnya, entah apalagi yang bisa dia lakukan agar istrinya itu mau memberitahu dimana aisyah.


Bram turun untuk menemui jihan setelah dia membantu riana minum obat dan tidur. Rasa bersalah kepada jihan membuatnya malu menemui gadis itu. Namun bagaimanapun dia harus bicara karena jihan pasti menunggunya.


"Maafkan aku, aku belum mendapat jawaban nya. Aku pikir lebih baik kamu pulang dulu, insya allah ibu ais baik-baik saja." Ucap bram saat sudah berada di hadapan jihan.


"Besok aku akan pastikan riana memberitahu dimana ibumu."Sambungnya lagi.


"Apakah ucapanmu bisa dipercaya, paman?" Tanya jihan menatap wajah bram dengan intens.


"Aku pastikan."


"Andai paman tidak mampu membuat tante riana bicara, aku sendiri yang akan membuatnya bicara atau tidak bicara selamanya!" Ancam jihan dengan wajah datar.


Hatinya seakan sudah tidak lagi punya rasa iba kepada siapapun. Karena terlalu seringnya riana dan keluarga ayahnya membuat sakit dan meninggalkan kecewa.


"Aku permisi! Tolong pastikan ucapanku tidak akan berlaku kepada istrimu, paman." jihan pergi begitu saja dari hadapan bram. Zia dan najib mengekor dibelakang jihan.


Bram semakin frustasi menghadapai keadaan yang membuat otaknya terasa beku hingga tidak ada satupun solusi yang muncul..

__ADS_1


"Arrggghhh! Angga pasti tau kemana riana membawa kak aisyah."


Bersambung....


__ADS_2