Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 37.


__ADS_3

"Apakah aku bisa langsung bekerja?" Tanya jihan sesaat setelah dia dinyatakan diterima di perusahaan itu sebagai OG.


"Kembalilah besok. Hari ini kamu hanya akan di berikan seragam dan diberitahu tugas-tugasmu." Jawab riko. Dia lalu menelpon kepala OB.


Tidak lama seorang wanita paruh baya berhijab datang ke ruangan riko. Dia masih sedikit bingung karena biasanya kalau ada karyawan baru atau ofice girl baru bukan riko yang bertugas menyeleksi, tapi sekarang gadis yang katanya akan bekerja sebagai OG di kantor ini malah berada di ruangan riki.


"Bu fatma, berikan jihan seragam dan beritahu dia apa saja tugasnya. Tapi dia tidak bekerja hari ini, dia akan mulai bekerja besok pagi." ucap riko tegas, hingga fatma langsung menundukan wajahnya setelah beberapa saat tadi dia sempat berpikir macam-macam.


"Baik, pak. Ayo jihan, aku akan tunjukan loker dan pekerjaanmu." Ajak fatma. Jihanpun mengekor di belakang fatma setelah berpamitan kepada riko.


Setelah jihan pergi, riko segera menelpon ibra selaku bosnya. Rasa-rasanya setelah kehadiran gadis itu. Riko jadi harus bisa di segala bidang. Terutama bidang drama dan sandiwara. Karena permintaan bosnya itu semakin kacau saja.


Ceklek


Riko menoleh saat pintu terbuka lebar, dan menampakan ibra yang masuk seperti pencuri. Tengok kanan dan kiri.


"Astaga! Kantor sendiri saja, sudah kayak maling." ucap riko asal.


"Tutup mulutmu, kalau tidak mau gaji bulan ini hangus."


Riko langsung bungkam mendapat ancaman seperti itu, pasalnya cicilan mobil dan rumahnya tidak bisa di tunda bulan depan nya lagi.


"Bagaimana?" Tanya ibra. Dia duduk di sofa ruangan riko.


"Apa yang bagaiman?"


"Ck! Sejak kapan kamu jadi bod*h."


"Tugas yang diberikan bos. Akhir-akhir ini sangat banyak. Saya jadi bingung bos. Tugas yang mana yang sekarang bos ingin tau. Tugas menguntit, rumah tangga, atau sandiwara penerimaan karyawan baru." Ucap riko dengan wajah datarnya.


Astaga! si riko jujur banget sih.... Wkwkwkwkw


"Apa yang kamu katakan? Memang sebanyak itukah?" Ibra meraih gelas dan menenggak isinya hingga tandas. Setelah mendengar ucapan riko. Mendadak ibra jadi kepanasan.


"Dia sudah saya terima bos, dan besok baru mulai kerja." jelas riko tanpa di minta dua kali.


"Lalu, besok saya harus apa?" Tanya riko. Mengingat tugasnya banyak dan seringnya berubah-ubah sesuka hati ibra.

__ADS_1


"Besok apa yah? Jangan pikirin besok. Lebih baik sekarang carikan aku baju gamis yang bagus untuk ibu aisyah." jawab ibra. Sungguh kali ini permintaan ibra membuat riko membeku di tempat. Bagaimana bisa bosnya segila itu.


"Tapi, saya tidak tau ukuran dan modelnya bos."


"Katakan saja untuk wanita paruh baya, sekitar 45 tahunan kalo gak salah. Beli semua warna dan semua motif. Aku mau memberikan itu sebagai hadiah." ucap ibra tegas. kali ini dia tidak mau riko kembali membuat alibi apapun untuk menolak permintaan nya.


"Baiklah." jawab riko lemas. Entah apa yang ada di pikiran riko, wajahnya kini sudah semuram langit malam. Riko bergegas meninggalkan ruangan nya dan pergi ke pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Mencari butik ternama yang sudah dia telpon sebelumnya, agar menyiapkan semua pesanan nya.


Ibra merasa dia harus membelikan itu untuk aisyah, setelah tadi dia melihat beberapa jahitan di baju yang aisyah pakai, membuatnya tidak tega. Belum lagi saat melihat tas selempang yang jihan pakai. Itupun sudah banyak tambalan nya. Tapi entah kenapa gadis itu senang memakainya dan tidak pernah malu.


Bukan jihan tidak mau membeli yang baru, tapi tas itu kado ulang tahunnya yang di berikan ayahnya sebelum meninggal. Itulah sebabnya jihan tidak pernah lepas dari tas yang menurut ibra sudah tidak layak pakai itu. Sedangkan baju aisyah, jihan sudah beberapa kali membelikan nya, tapi aisyah selalu menolak dengan alasan uangnya lebih baik di tabung untuk masa depan jihan. Selama baju itu masih bisa di pakai maka aisyah tidak akan pernah membeli yang baru.


***


"Assalamu'alaikum." Jihan mengucap salam dengan semangat, pasalnya besok dia akan mulai bekerja.


"Wa'alaikumsalam." Jawab aisyah saat pintu di buka dan mendapati jihan yang tersenyum bahagia. Melihat senyum jihan, aisyah sudah bisa menebak kalau jihan pasti di terima bekerja.


"Masuklah, lanjutkan tersenyumnya di dalam. Ibu takut kalau ada yang melihatmu senyum sendiri di kira orang gila lagi." Ucap aisyah asal.


Aisyah terkekeh mendengar ucapan jihan yang selalu percaya diri itu.


"Bu, apakah selama aku pergi tidak ada yang mengganggu ibu?" Tanya jihan, dia duduk di bangku meja makan. Melihat sudah banyak makanan tersaji dimeja minimalis itu.


"Tidak ada." jawab aisyah singkat.


"Bu, apakah kita akan ada tamu?"


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Ibu masak sangat banyak, aku pikir akan ada tamu yang datang." jihan memperhatikan beberapa makanan itu, yang semuanya makanan kesukaan nya.


"Itu untukmu, karena ibu yakin kalau kamu pasti diterima bekerja." jawab aisyah. Meletakan dua piring kosong di meja.


"Makanlah, ini sudah hampir jam 12 siang. Tadi pagi pun kamu tidak sarapan."


"Aku makan nasi uduk tadi pagi, bu. Di sebrang kantor tempatku bekerja."

__ADS_1


"Tapi, kamu sekarang harus tetap makan."


"Ya, baiklah."


Baru saja akan menyendok nasi, pintu depan terdengar seperti ada yang mengetuk dan juga terdengar suara mobil berhenti.


Aisyah menatap jihan yang ternyata juga sedang melihat kearahnya.


"Biar aku yang buka, bu." Ucap jihan dan segera menuju depan. Aisyah pun mengekor dibelakang jihan.


"Kalian siapa?" Tanya jihan saat pintu sudah dibukanya.


"Kami kurir yang akan mengantarkan paket untuk ibu asiyah." jawab seorang bapak paruh baya.


"Eh! Apakah ibu pesan paket?" Tanya jihan kepada asiyah yang berada di belakangnya.


"Tidak, bagaimana cara ibu pesan. Ponsel saja ibu tidak pegang." jawab aisyah.


"Benar juga, ibu bahkan tidak memegang ponsel." Gumam jihan.


"Maaf pak, mungkin bapak salah alamat. Coba di cek ulang, mungkin aisyah yang lain." Ucap jihan ramah.


Kedua bapak-bapak itupun kembali mengecek nama dan alamat tujuan, dan semuanya benar sudah sesuai dengan yang ada di kertas alamat pemberian bosnya. Karena takut salah, bapak itupun memberikan catatan dari bosnya kepada jihan untuk di baca. Setelah jihan membaca catatan itu, semuanya memang tidak salah. Alamat dan namanya benar.


"Baiklah, neng. Karena sudah sesuai saya akan turunkan barang nya disini yah." Ucap salah satu bapak yang sudah menurunkan satu kardus dan meletakan di teras rumah.


Jihan dan aisyah pikir hanya satu kardus saja, tapi ternyata setelah satu kardua itu turun ada beberapa kardus lainnya juga diturunkan, hingga semuanya berjumlah 10 kardus.


"Apa ini? Kenapa sebanyak ini?" gumam jihan.


Setelah semua barang ny di turunkan, mereka langsung pamit untuk pergi. Aisyah mengiyakan keduanya. Dan mendekati jihan yang masih terpaku menatap semua barang yang sudah memenuhi teras rumah itu.


Bersambung....


Terima kasih ya gaes, karena masih setia membaca karya ku. Semoga selalu suka.


Love love love

__ADS_1


__ADS_2