Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab7 Tante zia


__ADS_3

Tiiiiiiiiinnnnn...


Brak


"Astaga! Apakah kamu tidak punya mata, hah!" teriaknya masih di dalam mobil mewahnya.


Jantung yang masih berdebar membuatku mengabaikan ucapan pria di dalam mobil itu.


"Neng, kamu tidak apa?" tanya seorang bapak-bapak dengan seragam serba hitam.


"Tidak apa, pak. Hanya lecet saja." jawabku.


"Mari bapak bantu." bapak itu mengulurkan tangan membantuku untuk bangun, setelah motor yang menimpaku di angkatnya.


Tiiiiiinnnnn...


"Bisa cepat tidak? Saya sudah terlambat dan kalian masih juga di situ." teriak nya lagi.


Entah siapa orang didalam mobil itu, bukannya minta maaf atau sekedar basabasi apa kek, dia masih dengan sombongnya berkali-kali membunyikan klakson mobilnya.


Aku segera menepi dibantu bapak tadi, dan mobil itupun segera masuk tanpa merasa salah.


"Duduk dulu, neng. Biar bapak ambilkan minuman." ucapnya


"Oh, tidak usah pak. Saya tidak apa" jawabku


"Maaf, kamu ini siapa? Bapak tidak pernah melihatmu di kantor ini. Apakah kamu orang baru?" tanya nya sambil duduk di depanku yang sedang membersihkan luka lecet di kaki ku.


"Bukan pak. Saya tidak kerja disini. Hanya saja saya di suruh nenek untuk memberikan titipan nenek kepada najib." jawabku.


"Jadi kamu temannya pak najib."


"Emmm... Iya pak. Saya orang suruhan nya." jawabku.


"Bapak siapa?" tanyaku lagi.


"Saya security disini, neng. Apakah tampang bapak tidak seperti security?"ucapnya


"Ah... Ha ha ha, maafkan saya pak. Bapak lebih seperti seorang bodyguard. Tidak ada yang membuat bapak terlihat seorang security." ucapku.


"Berarti terlihat seperti tukang pukul begitu? Ha ha ha" ucapnya dengan terbahak.


Hampir 10 menit kami ngobrol ngalor ngidul. Sampai akhirnya aku pamit untuk segera memberikan bekal kepada najib setelah luka ku di obati dan membersihkan baju yang nampak kotor.


"Saya masuj dulu pak. Terimakasih karena sudah membantu ."pamitku.


"Silahkan neng."


Aku segera masuk ke dalam gedung 5 lantai ini. Sesaat mataku dibuat takjub dengan dekorasi didalamnya, dimana tidak seperti kantor-kantor yang sering aku lihat di tivi. Ini lebih seperti tempat ibadah karena di desain dengan banyaknya kaligrafi dan beberapa foto seorang ulama.


Entah kantor apa ini. Bahkan semua karyawan perempuan menggunakan hijab.


"Jihan."


jantungku hampir saja berpindah tempat melihat makhluk tuhan di depanku yang berparas sangat tampan.


"Sedang apa kamu disini?" tanya nya lagi.


"Emmmmm..."

__ADS_1


"Ayo ikut aku." ucapnya.


Aku segera mengekor dibelakngnya, memasuki lift menuju lantai 5. Sampai di atas aku di ajaknya masuk kesebuah ruangan yang sangat mewah dengan desain tak kalah menakjubkan fengan yang aku lihat dibawah. Nuansa hijau membuatku merasa nyaman disini.


"Sudah melamun nya?" tanya nya lagi.


"Eh! Aku... Aku mau mengantarkan ini." ucapku menyodorkan sebuah rantang, dan dia langsung menerimanya.


"Duduklah. Mau minum apa?" tanyanya lagi.


"Air putih saja."


Najib segera mengambilkan nya, dan meletakan di depanku.


"Terimakasih."


"Lain kali tidak usah repot." Ucapnya sambil tangan nya dengan cepat membuka rantang yang aku bawa.


"Kamu memang merepotkan. Bahkan gara-gara ini aku hampir mati." ucapku.


Uhuk


Uhuk


"Minumlah." aku menyodorkan segelas air yang tadi dia letakan untuk ku.


Diminumnya hingga tandas.


"Apakah hanya mengantar makanan saja kamu bisa mati?"


"Ya, karena tadi di depan kantormu ada orang gila bawa mobil."


Menyebalkan memang, wajah dan mulutnya sangat tidak singkron.


Ceklek


Mendengar pintu dibuka, aku dan najib serentak mengalihkan pandangan ke arah pintu.


"Hai kak najib" sapa amanda.


"Hai manda, ada angin apa kamu dan andre datang kemari?" tanya najib sambil memeluk pria yang datang bersama amanda.


"Aku...." ucapan pria tadi berhenti saat matanya melihatku yang sedang duduk di sofa.


"Ada apa, dre? Apa kamu mengenal jihan?" tanya najib saat melihat pria yang bernama andre menatapku.


"Kamu mengenalnya, jib?" tanya nya


"Kamu ngapain disini? Bikin malu saja!" teriak amanda. Seperti biasa wanita cantik itu sangat hobbi berteriak.


"Kamu juga mengenalnya?" tanya andre kepada amanda.


"Dia itu gadis pembawa sial! Lebih baik kamu jangan dekat-dekat." jawab amanda.


"Ya... Gara-gara dia body depan mobilku penyok. Pantas saja ternyata dia memang gadis pembawa sial, baru bertemu saja sudah sangat merepotkan."ucap andre yang di setujui amanda.


"Tutup mulutmu! Kalau saja kamu waras, kamu gak akan nabrak motorku! Lagipula kamu itu cowo, mulutmu dilarang lemes macam cewe saja!" Ucapku yang mulai terpancing emosi.


"Woaaah berani juga kamu! Kamu tidak tau siapa saya? Hah!" bentak nya dengan mata membulat.

__ADS_1


Pantas saja dia berteman dengan amanda, ternyata sama-sama gila.


"Apa perduliku! Lagipula aku tidak minta makan dirumahmu. Gak penting siapa kamu!"


"Dan satu lagi! Jangan bilang aku pembawa sial. dan jangan pernah juga mengatakan siapa kamu di depanku atau apa jabatanmu. Karena bagiku, itu semua tidak penting!" ucapku penuh penekanan.


"Jihan! Jaga bicaramu!" teriak amanda.


"Pak najib yang terhormat, aku permisi. Besok-besok jangan lupa sarapan, agar tidak merepotkanku." ucapku dan berlalu dari hadapan mereka.


Entah apa yang najib pikirkan dia menatapku tidak berkedip. Sesaat sebelum membuka pintu, ternyata terlebih dahulu ada yang masuk hingga aku menurunkan kembali tangan yang akan memutar kenop pintu.


Ceklek


"Eh, jihan."


"Tante zia."


"Kamu ngapain disini? Kamu kerja disini?" tanya tante zia.


Ya aku mengenal tante zia sejak aku masih sekolah smp, berkat dia juga lah aku bisa belajar ilmu bela diri.


"Ayo, akan tante kenalkan kamu dengan najib." ucapnya.


"A.. Apa?" belum juga aku mengatakan sesuatu, tante zia sudah mengapit tanganku, hingga aku mengikuti langkahnya.


"Rupanya sedang ada tamu." Ucap tante zia saat melihat amanda dan andre yang sedang duduk di sofa.


"Tante, ada apa?" tanya najib.


"Tidak ada yang penting, hanya ingin menengok ponakan tante yang tampan dan lucu." jawab tante zia.


Mataku membulat mendengar ucapan tante zia, apanya yang lucu kalau tampan mungkin iya.


"Ck! Jangan katakan itu lagi. Aku sudah besar." ucap najib dengan wajah yang memerah. Entah malu atau marah.


"Iya... Iya, kamu sudah besar. Makanya, segera carikan calon menantu buat tante. Atau tante saja yang akan mencarikan nya untukmu."


"Bagaimana kalau, jihan saja." ucap tante zia.


Uhuk


Uhuk


"Amanda, hati-hati dong." ucap tante zia.


" Tan, apa tidak ada kandidat lain, selain dia" ucap amanda menujuk ke arahku.


" Misalnya?" tanya tante zia.


"Emmm... Misalnya manda gitu? Atau kinan." jawab amanda dengan percaya diri.


"Baiklah, tapi jihan tetap masuk dalam kandidat yang akan tante pilihkan untuk najib." ucap tante zia


"Kalian bicara apa? Andre ayo ikut aku, akan aku kenalkan kamu dengan seluruh staf di kantor ini" ucap najib mengakhiri obrolan tante zia.


Setelah mereka pergi, tante zia memintaku menemaninya ke salon. Sebenarnya salon salah satu tempat yang sangat membosankan. Tapi karena tante zia orang yang banyak membantuku, aku menerima saja ajakan nya. Lagipula ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2