Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 41.


__ADS_3

"Apa kamu ada rencana lain?" Tanya angga kepada riana yang masih diam tanpa suara.


"Tidak ada! Aku akan tetap menunggu gadis itu pergi, baru aku mendatangi aisyah." jawab riana.


"Baiklah."


Riana segera pamit pulang karena sudah hampir masuk waktu ashar, dia tidak mau suaminya pulang dan tidak mendapati dirinya di rumah.


Sementara itu zia dan najib sedang menuju ke rumah aisyah, zia ingin mengutarakan niatannya melamar jihan untuk najib sebelum semuanya terlambat dan jihan malah menjadi milik ibra.


"Tan, apakah tante yakin." Tanya najib. Matanya tetap fokus menatap ke depan jalanan.


"Iya, apakah kamu ragu? Bukankah kamu mencintai jihan?"


"Eh! Dari mana tante tau?"


"Perkara mudah mengetahui kamu jatuh cinta kepada jihan."


"Sangat terlihatkah?"


"Ya. Di mata tante sangat terlihat, atau mungkin dimata orang lain pun. Entah kalau dimata jihan."


"Ck! Aku tau tante akan mengatakan hal itu."


Zia terkekeh mendengar ucapan najib. Dia yakin kalau dia yang memintanya jihan akan mau, entah kalau urusan hati. Karena zia sendiri tidak melihat cinta dimata jihan untuk najib. Berbeda dengan keponakan nya itu.


Rumah yang dituju akhirnya terlihat, entah kenapa tiba-tiba rasa gugup menyerang najib. Hingga dia tidak langsung memarkirakn mobil di depan rumah aisyah.


"Hei, sampai kapan mau disini?" Zia menepuk tangan najib yang masih di posisi memegang setir.


"Eh! Memangnya sudah sampai ya?"


"Dasar pecundang! Baru juga melihat rumahnya sudah lupa ingatan apalagi berhadapan dengan jihan. Sepertinya napasmu akan segera berhenti."

__ADS_1


"Aku.."


"Ayo cepat! Tante tidak menerima alasan apapun." Ucap zia. Memotong kalimat yang akan najib katakan.


Akhirnya najib membelokan mobilnya menuju teras rumah jihan. Entah perasaan apa yang tiba-tiba saja najib rasakan. Yang pasti rasanya seperti orang mau buang angin.


"Ayo turun!" Ajak zia. Dia semakin kesal karena najib sudah sangat mengulur waktu. Padahal ini sudah hampir jam lima sore.


"Assalamu'alaikum."


Zia dan najib menoleh ke asal suara, dan ternyata ucapan salam dari jihan yang baru saja pulang kerja lengkap dengan seragam OG perusahaan.


"Jihan! Wa'alaikumsalam." Jawab zia dan najib bersamaan.


"Kamu..."


"Ayo masuk tante, apakah akan kerumah?" Tanya jihan memotong ucapan zia.


"Ada."


Zia mengekor dibelakang jihan yang dengan senang hati memepersilahkan zia masuk setelah pintu dibuka. Berbeda dengan najib yang masih tetap berdiri di teras rumah sebelah mobilnya yang sudah terparkir cantik di teras.


"Apakah kamu tetap akan disana? Hah!" Ucap jihan. Sontak saja najib terkejut karena suara jihan seakan masuk kedalam lubang telinganya yang kosong tanpa ada suara-suara lainnya.


"Baguslah! Disitu tempat yang cocok untukmu." Sambung jihan lagi dan berlalu masuk kedalam rumah.


Zia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan najib. Orang yang begitu cuek dan kadang tidak perduli dengan apapun. Malah menjadi seperti sekarang.


Najib segera masuk dan duduk disebelah zia yang sudah terlebih dahulu di dalam.


"Apakah kamu tidak akan pingsan disini?" Tanya zia sedikit berbisik.


"Tidak!"

__ADS_1


"Yakin."


"Iya, tante. Aku tidak akan pingsan. Lagipula cuma seorang jihan apa istimewanya."


"Tidak istimewa saja sudah membuat jiwamu melayang entah kemana."


"Eh! Maksud tante apa?"


Zia tidak menjawab lagi, karena jihan sudah berada didekatnya setelah tadi pamit membuat minuman.


"Jihan, kemana ibumu?" tanya zia yang sedari tadi tidak melihat aisyah.


"Aku pun tidak tau, tante. Biasanya ibu tidak pernah kemana-mana. Ini tadi aku cari di kamar dan di belakangpun tidak ada." Jawab jihan.


Terlihat sekali wajahnya yang khawatir. Melihat itu zia mengurungkan niatnya, dia akan membantu jjihan menemukan ibunya terlebih dahulu.


"Najib, coba kamu telpon nenek atau siapa saja di sana. Tanyakan apakah ibu aisyah ada disana." Pinta zia kepada najib yang masih belum mengerti apapun.


Degh


Jihan baru ingat kalau siang tadi riana mendatangi ibunya. Tanpa menunggu lagi jihan segera menyambar tasnya dan berlari ke luar rumah. Tujuannya adalahendatangi riana di rumahnya.


Zia segera memyusul jihan yang pergi begitu saja saat mendengar dirinya mengatakan rumah nenek.


"Ck! Pasti ada masalah lagi!" dengus zia kesal. Zia yakin kalau ada sesuatu yang terjadi hingga jihan segera pergi saat mendengar ucapannya.


"Jib, susul jihan. Kita kerumah nenek."


Najib segera mengekor dibelakang zia walaupun dia sedikit belum paham ada apanya. Mau bertanyapun enggan, karena najib yakin bukan jawaban yang akan dia dapatkan melainkan semprotan dari tantenya itu.


Bersambung...


Selamat malamm sahabat semuanya.. Maaf yah akhir-akhir ini up nya agak lama. Soalnya masih riweh ( sibuk) sama bocil... yang masih setia membaca terima kasih ya, jangan lupa dukungan nya.

__ADS_1


__ADS_2