Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 48.


__ADS_3

Ceklek


Mendengar suara pintu di buka, jihan yang berada di dekat ranjang ibunya segera mengalihkan matanya melihat siapa yang datang.


"Assalamu'alaikum." Ucap nenek saat matanya beradu pandang dengan mata jihan yang sudah sangat sembab karena terlalu banyak menangis.


"Wa'alaikumsalam." Jawab jihan. Diapun kembali menatap sang ibu dan mengabaikan kedatangan neneknya.


Keadaan semakin tegang saat jihan menepis tangan nenek yang akan meraih tangan aisyah.


"Tetap di sana dan jangan pernah mendekat!" Ucap jihan penuh dengan penekanan.


"Jihan..."


"Dan aku tidak mau mendengar apapun dari mulutmu itu, nek.!" Kembali jihan berucap sebelum neneknya melanjutkan ucapan nya.


Bram, ibra dan kinantipun tampak tidak diam saja, seakan mulut mereka semua terkunci. Melihat jihan yang berusaha menahan emosinya agar tidak meledak.


"Kak jihan, bagaimana ibu ais?" Tanya kinanti mencairkan suasana. Namun bukannya mencair, jihan justru semakin emosi.


"Apakah matamu sudah tidak berfungsi? Atau hanya basa basi saja kamu menanyakan itu? Kalian semua yang menyebabkan semua ini dan sekarang datang kesini dengan membawa ucapan-ucapan yang tidak berguna! Pergilah! Aku bukan keluarga kalian, mulai hari ini!" Teriak jihan dengan mata menatap tajam semua yang ada di ruangan.


"Jihan.... "


"Tidak paman, akupun tidak mau mendengar apapun darimu. Benar, aku sudah banyak paman bantu hingga akupun merasa seperti mempunyai seorang ayah, tapi tidak untuk kali ini. Karena istrimu tentu lebih utama dari apapun juga untuk kamu bela dan kamu lindungi!" Ucap jihan kembali memotong ucapan bram.


"Kalian pergilah! Terima kasih sudah datang. Aku bukan keluarga kalian dan jangan pernah lagi menambah kesulitan dalam hidupku dan juga ibuku!." Sambung jihan dengan suara yang bergetar menahan emosi.


Nenek menangis tergugu mendengar semua ucapan jihan, tidak ada yang salah dari semua itu, jihan berhak mengatakan nya karena sakit hatinya lebih dari siapaoun juga. Beruntung dia tidak nekat dan menghajar semua orang.


Ceklek....


Zia dan najib yang tidak mengetahui keadaan di dalam ruangan itu langsung masuk dan menghampiri jihan, dirinya baru sadar saat mendengar tangisan nenek yang begitu pilu, hingga dia menatap najib dan hanya di balas dengan gelengan kepala oleh najib.


"Maaf, aku tidak tau. Silahkan dilanjutkan lagi." Ucap zia dengan perasaan yang entah apa. Dia pun hendak keluar lagi namun tangannya di tahan jihan hingga langkahnya kembali terhenti.


"Tetaplah di sini, tan." Pinta jihan.


"Tapi, apakah tante tidak menggannggu? Mungkin kamu selesaikan dulu saja, setelah itu tante akan balik lagi kesini." Ucap zia dengan senyum khasnya.

__ADS_1


"Tidak, tan. Aku sudah selesai, hanya mereka saja yang tidak tau malu hingga masih tetap di sini!" Jawab jihan tegas.


Degh


Zia benar-benar tidak menyangka kalau jihan akan mengatakan hal itu, hingga dia sendiri tidak enak hati terhadap nenek dan juga yang lainnya.


"Nek, ayo kita pulang. Lihatlah cucu yang selama ini nenek tangisi kepergian nya. Bahkan dia sudah tidak mempunyai hati." Ucap kinanti yang mulai kesal dengan ucapan jihan.


"Ya, ajak pulang nenekmu itu dan ingatkan dia jangan menjadikan sikapnya semakin menyakiti ibuku, karena sikapnya lah anak-anaknya membuat hidupku dan ibuku semakin memburuk!"


"Jangan meminta dan mengharapkan apapun dari kami, karena kalau nenek sampai mati karena menangisi kesalahannya kepadaku dan ibu. Maka kamilah yang menjadi tersangka oleh keluarga besarnya itu. Yang sejatinya mereka hanya mementingkan hartanya bukan ibunya."


Degh


"Apa maksudmu, jihan?!" Teriak kinanti


"Tanyakan kepada ibumu itu!" Jawab jihan menatap nyalang ke arah kinanti yang juga menatapnya.


"Aku tau ibuku tidak menyukaimu dan ibu ais. Tapi ibuku tidak seperti yang kamu tuduhkan. Dia menyayangi nenek bukan karena hartanya." Teriak kinanti lagi dan lagi.


"Ya, anggap saja seperti itu, seperti pikiranmu." Ucap jihan dengan senyum mengejek.


"Ya dia ibumu dan bukan ibuku. Jadi, aku bebas mengatakan apapun dan lagipun apa yang aku katakan adalah kenyataannya. Buka matamu, jangan seperti ayahmu yang dibutakan oleh cinta!" Ucap jihan


Degh


Kali ini bram yang merasa tertampar. Bagaimana tidak, sudah berulang kali riana melakukan kesalahan dan bram mengetahui itu. Namun tidak ada tindakan berarti darinya.


Ibra tersenyum puas mendengar ucapan jihan untuk sang kakak yang bucin akut. Bahkan ibra tidak segan bertepuk tangan saat jihan menyinggung sang kakak.


"Dengar itu kak, bahkan jihan sadar kalau dirimu itu sangat payah!" Ucap ibra menekankan kata payah ditelinga sang kakak.


"Sudahlah! Ayo kita pulang, jangan ribut disini. lagipula kalian semua memang tidak berhak di sini, karena kalian penyebab ibu ais berada di rumah sakit." Ucap ibrahim. Dia mendekati nenek dan menuntunnya keluar walaupun nenek awalnya tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri. Namun dengan segala cara ibrahim meyakainkan nenek hingga akhirnya nenekpun mau pergi meninggalkan ruangan aisyah di rawat.


Bram dan kinanti mengekor di belakang, dengan hati dan pikiran yang di penuhi banyak pertanyaan. sepanjang jalan pulang mereka semua hanya diam saja sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan nenek sama sekali tidak mengeluarkan suara dari semenjak keluar rumah sakit tadi.


Sementara itu riko yang telah selesai dengan pekerjaan nya segera menuju ke rumah sakit, dia lupa kalau ibrahim sudah memperingatinya agar tidak datang ke rumah sakit menemui jihan.


Dengan cepat riko menuju rumah sakit, tujuannya hanya satu dia ingin melihat keadaan aisyah. Ya, selama mengawasi aisyah dan jihan, beberapa kali riko bertemu langsung dengan asiyah dan selalu di sambut baik oleh wanita paruh baya itu, bahkan riko selalu di siapkan makan saat bertemu di rumahnya. Perlakuan itu membuat riko seperti kembali mempunyai seorang ibu. kerinduannya terhadap ibunya membuat riko menganggap aisyah seperti ibunya sendiri.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


"Jihan, apakah saya boleh masuk?" Tanya riko di balik pintu ruang rawat aisyah.


"Siapa?" Tanya jihan.


"Saya, riko."


Ceklek


"Pak riko, ada apa?" Tanya jihan setelah pintu di buka.


"Maaf mengganggu, saya hanya ingin tau keadaan ibu aisyah." jawab riko, dia melihat ada zia dan juga najib di dalam ruangan.


"Tidak apa, mari masuk pak." Ucap jihan.


"Terima kasih. Saya rasa tidak usah, saya hanya mau melihat keadaan ibu aisyah dan sekarang sudah melihatnya. Kalau begitu saya permisi."Ucap riko, membuat jihan mengerutkan dahi melihat tingkah aneh bos nya itu.


"Secepat itu?"


"Ya, lagipula ibu aiayah sedang tidur."


"Ya, anda benar pak. Ibuku sedang tidur, walaupun dokter mengatakan kalau ibu mengalami koma, dan entah kapan sadar nya, mungkin seminggu, sebulan, setahun atau..." Jihan tidak mampu mengatakan lebih lanjut hatinya terlalu sakit saat kembali mengingat ucapan dokter tentang ibunya.


"Apa! Jadi ibu aisyah koma." Gumam riko dengan wajah terkejut.


"Iya, ibu koma."


"Maafkan saya jihan, andai saja..."


"Andai saja apa?"


"Tidak. Kalau begitu saya permisi." Riko segera pergi dari hadapan jihan sebelum dia keceplosan lebih banyak. Itu akan sangat mengancam perekonomiannya.


Kepergian riko dengan ucapannya yang menggantung membuat jihan semakin menaruh curiga.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2