
"jihan, tante tidak tau masalah apa yang sedang kamu hadapi, tapi tante berharap kamu tidak memupuk dendam di dalam hati." Ucap zia yang melihat begitu besar rasa benci terhadap neneknya.
"Aku sedang tidak ingin membahas itu, tan. Lagipula aku tidak akan menaruh rasa benci ini seandainya mereka tidak memulainya." jawab jihan dengan mata menatap wajah sang ibu yang entah sampai kapan akan tertidur.
"Bu, aku mohon bangunlah. Aku sangat merindukanmu, aku merindukan suaramu, bu. Merindukan masakanmu dan ocehan ibu yang selalu memenuhi telingaku. Aku janji tidak akan bangun kesiangan lagi, akupun janji tidak akan membenci siapapun seperti permintaan ibu, asalkan ibu bangun yah, aku tidak punya siapapun selain ibu, aku butuh ibu, aku... Hiks!" Suara jihan begitu lirih hingga zia dan najib tidak terasa meneteskan air mata mendengar semua yang jihan ucapkan yang begitu terasa sampai ke hati. Seorang anak yang di besarkan hanya oleh seorang ibu dan selalu ada di setiap saat kini jihan harus melihat sang ibu terbaring lemah yang entah kapan akan membuka mata.
"Jihan, kamu harus lebih sabar lagi. Percayalah kalau ibumu akan kembali berkumpul dengan kita lagi, karena sejujurnya ada yang mau tante katakan juga dengan ibumu." Ucap zia.
"Apa yang mau tante katakan?"
"Emmm.... Tidak, lupakan saja."
"Apa..."
Tring... Tring...
Ponsel zia berbunyi nyaring, membuat jihan mengurungkan apa yang ingin dia katakan. Zia menerima panggilan telpon dengan segera dan segera pamit kepada jihan setelah menyudahi pembicaraan nya di telpon.
"Jihan, tante pulang dulu. Besok pagi tante kesini lagi, kamu jaga kesehatan jangan lupa makan dan tidur yang baik." Pamit zia kepada jihan.
Jihan hanya menganggukan kepalanya menjawab ucapan zia, entah kenapa dia sering sekali mencurigai semua sikap orang-orang yang ada di sekelilingnya, setelah tadi dia curiga terhadap ibr dan riko, kini jihanpun merasa ada uang aneh pada sikap zia. Ditambah lagi najib yang hanya diam saja tanpa mengatkan satu katapun sejak kedatangannya bersama zia. Kini zia dan najib sudah pergi meninggalakn kamar rawat aisyah... Rasa sedih kembali memeluk diri jihan, dia benar-benar merasa sendiri.
Segala pemikiran buruknya dia tepis jauh-jauh agar tidak semakin memburuk dan menjadikan hatinya semakin membenci dan mencurigai semua orang.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman nenek...
Brak
Nenek membuka pintu dengan segela tenaga yang dia miliki, hingga pintu terhempas memebentur dinding hingga menimbulkan suara yang mengejutkan. Dia masuk dengan langkah terburu, membuat ibrahim dan bram pun sedikit berlari menyeimbangkan langkah kaki mereka.
Riana dan angga yang masih menunggu di rumah nenek terkejut mendengar suara benturan antara daun pintu dan dinding.
Segera angga bangun dari duduk nya yang sedang menikmati makan malam bersama riana. Namun belum sempat kaki angga mrlangkah, nenek sudah berada di depan mereka dengan raut wajah mengerikan.
Mendapat tatapan tajam dari sang ibu, riana segera menghentikan aktivitas makan nya, dia bahkan dengan susah payah menelan salivanya sendiri. Bukan takut dengan tatapan mata ibunya melainkan melihat bram yang juga menatapnya dengan cara yang berbeda.
"I.... ibu, kalian sudah pulang? Ayo kita makan bersama." Ajak riana dengan suara yang sedikit bergetar. badannya seakan menggigil saat matanya beradu pandang dengan sang suami.
"Bram, katakan kepadaku sekarang. Mau aku atau kamu yang mendidik istrimu?" Tanya nenek dengan wajah datar tanpa melihat ke arah bram.
Lagi dan lagi riana harus bersusah payah menelan salivanya sendiri, mencerna maksud dari ucapan sang ibu.
"Jawab bram!! Kalau kamu sudah tidak mampu mendidiknya biar aku yang akan mendidiknya sekarang!!" Teriak nenek.
Ibrahim yang mencemaskan kesehatan nenek segera meraih tangan neneknya dan menenangkannya.
"Nek, tenanglah! Jaga kesehatanmu. Urusan kak riana biar jadi urusan kak bram, namun jika seandainya kak bram tidak mampu aku yang akan mengurus kedua anakmu itu." Ucap ibra dengan suara dinginnnya. Membuat angga mengerutkan dahinya mendengar ucapan ibrahim.
__ADS_1
"Heh, bocah!! Apa maksudmu bicara seperti itu? Memangnya apa yang mau kamu urus dariku?" Tanya angga kesal.
"Banyak! Salah satunya tentang si bandot tua riki!!" jawab ibrahim tanpa melihat wajah angga.
Degh
Degh
Degh
Seketika angga langsung bungkam saat nama riki keluar dari mulut ibrahim.
"Bagaimana kak bram? kamu atau aku yang mengurus istri culasmu itu?!" Teriakk ibrahim lantang. Sejujurnya dia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya yang meletup-letup didadanya.
"Aku serahkan semuanya kepadamu saja!" Jawab bram tegas.
Deg
Jantung riana seakan berhenti berdetak saat mendengar kalimat itu, bagaimanapun ibrahim pasti tidak akan memberinya ampun.
"Mas, apa maksudmu?!" Teriak riana lantang.
"Ibu juga, apa yang sudah merasuki kalian? Hingga pulang-pulang kalian seperti ini, hah? Apa yang gadis itu,,,"
__ADS_1
"Tutup mulutmu!!" Bentak bram dengan mata melotot. Hingga riana langsung terdiam seketika....
Bersambung....