
Najib dan kinanti benar-benar terkejut mendengar ucapan ibra yang akan menikahkan mereka.
"Kalau bicara, jangan asal bunyi saja!" Ucap najib dengan wajah kesal.
"Loh memangnya salah? Dia tidak mau pulang, aku tidak bisa membiarkan kalian berduaan sedangkan kalian bukan mahram. Kan lebih baik kalian aku nikahkan saja." Ucap ibrahim.
"Lagipula. Bukankah kalian tadi sudah berpelukan." Sambung ibra santai.
Glek
"Itu semua ketidaksengajaan." jawab najib kesal melihat wajah ibrahim, seakan dirinya sudah mengambil kehormatan keponakan nya saja, hingga harus dinikahkan.
"Sudah, sudah! Kalian malah meributkan hal yang tidak penting." Ucap zia menengahi perdebatan antara najib dan juga ibrahim.
"Kinan, kalau kamu masih belum mau pulang, kamu akan menginap di rumah tante. Bagaimana?" Tanya zia kepqda kinan.
Tanpa berpikir lagi, kinan menganggukan kepalanya menyetujui usulan zia.
"Bagaimana ibra? Apakah di izinkan?" Tanya zia kepada ibrahim.
"Asal tidak bersama dia, aku setuju saja." Jawab ibra dengan mulut monyong ke arah najib.
"Paman, sekarang pulang sana." Usir kinanti. Dia malas berlama-lama melihat pamannya itu, karrna menururnya ibrahimpun sama saja. Dia termasuk kedalam daftar orang yang membuatnya kesal dan kecewa.
__ADS_1
"Baiklah, aku pergi. Satu hal perlu kamu ingat kinan, kamu tidak bisa memutuskan hubungan apapun yang bersangkutan dengan darah. jadi, saranku kamu jangan merajuk seperti itu. Cari dan buktikan kalau kamu ingin tau seperti apa sifat asli ibumu itu." Ucap ibra sebelum akhirnya dia pamit kepada zia.
Keluar dari rumah najib, ibra meluncur ke rumah sakit. Dari sana baru dia akan kembali ke rumah nenek.
Tiiiiiiinnnnnn....
"Ck! Mau m*ti lo!?" Teriak ibra kesal.
"Maaf pak, saya buru-buru karena anak saya sakit." Ucap si pengendara motor yang menyalip mobilnya. Karena terburu akhirnya si motor mengenai bodi mobil ibra dan jatuh di depan mobil. Beruntung ibra segera mengerem dan dalam kecepatan yang biasa. Hingga dia tidak melindas si pengendara motor.
"Lain kali pake ot*k! Anak sakit, lalu kamu mau mati. Begitu!" sungut ibra masih dalam mode kesal.
"Pergilah! saya rasa motormu baik-baik saja."
Ibra segera masuk kedalam mobilnya dan kembali melajukannya dengan kecepatan sedang. Dirumah sakit dia tidak masuk dan menemui jihan, dia hanya melihatnya dari jauh, karena dia yakin jihan tidak akan mau bertemu dengannya. Hingga akhirnya ibra memutuskan untuk segera pulang, entah kenapa perasaan nya sejak tadi terus teringat kakaknya. Yang awalnya dia akan pulang ke rumah nenek kini berubah haluan dan segera pulang kerumah kakaknya.
"Pak, ada apa ini?" Tanya ibra kepada security rumahnya.
"Itu, den. Tuan bram, tadi di bawa kerumah sakit." Jawab sekurity dangan wajah khawatir.
"Kenapa? Siapa yang bawa?"
"Bu riana yang bawa, den. Saya tidak tau kenapanya, tapi...."
__ADS_1
"Tapi apa?"
"Sebelumnya, tidak sengaja bapak mendengar tuan bram dan bu riana bertengkar hebat, dan...."
"Ck! Baiklah, terima kasih infonya. Aku sudah mengerti sekarang."
Ibrahim segera meluncur kerumah sakit dimana bram dibawa oleh riana, jantungnya berpacu dengan cepat. dia merasa kejadian beberapa tahun silam sedang dia hadapi lagi saat ini, dimana dulu dia harus mengejar waktu saat sang ibu meregang nyawa dan nyatanya secepat apapun, dia tetap tidak dapat melihat sang ibu lagi. Kini keadaan seakan sedang mengingatkan nya ke masa silam, dia tidak mau lagi kehilangan orang yang paling dicintainya setelah sang ibu. Ya, walaupun ayahnya masih hidup, namun ibrahim tidak pernah menganggap hidup karena ayahnya lebih memilih bersama dengan wanitanya setelah ibu tiada, sang ayah bahkan tidak pernah menanyakan keadaannya dan kakaknya.
Tap
Tap
Tap
Riana, yang sedang duduk diruang tunggu harus mendongakan kepalanya saat langkah cepat kaki seseorang mendekatinya.
"Aaarrgghhh... Lepaskan aku, bodoh!" Teriak riana, saat tangan kekar ibrahim menariknya dengan kasar. Hingga riana memekik kesakitan.
"Kamu pikir aku sebodoh kakak ku, hah! Dasar perempuan iblis! Kalau saja bukan karena kakak ku, sudah aku habisi kamu dan juga kakakmu itu!"
"Silahkan saja! Dan setelah itu, kamu akan melihat kakakmu menjadi gila karena kehilanganku." ucap riana tersenyum licik.
Bersambung...
__ADS_1