
Riana meninggalkan kediaman ibunya menuju rumah angga, rasanya dia ingin teriak dan mengumpat segala yang dia temui demi untuk melepas beban di hatinya.
Mobil melesat dengan kecepatan di atas rata-rata, rasa kesal, kecewa dan takut akan kehilangan kepercayaan ibunya membuat riana hilang kendali. Hingga tanpa sadar dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tidak biasa.
Tiiiiiinnnnnnn
Braakkk
Riana membanting setir ke arah kiri, namun naas di sana justru ada mobil lain yang akan keluar dan tabrakan pun tidak bisa dihindari.
Tok
Tok
Tok
"Hei, keluarlah!" Teriak seorang pria di luar mobil riana. Wajah orang tersebut terlihat sangat emosi.
Riana yang masih syok nampak masih bergeming di dalam mobilnya, dia benar-benar selamat dari maut. Pikiran nya semakin kacau saat suasana di depan nya mulai banyak orang dan ada mobil ambulan. Kepalanya berdenyut akibat benturan yang di alamainya. Namun begitu dia tidak pingsan.
"Mbak, keluarlah! Apakah kamu baik-baik saja." Teriak seorang perempuan yang entah siapa.
Setelah menata hati dan pikirannya, riana membuka pintu mobilnya.
"Apakah kamu baik-baik saja?" ulang seorang perempuan yang suaranya lebih baik ketimbang pria yang pertama menggedor kaca mobilnya.
"Ya, aku baik-baik saja. Maafkan aku, aku tidak..." ucapan riana menggantung saat melihat ada jenazah yang akan dimasukan kedalam ambulan.
"A,,, apakah itu..." riana menutup mulutnya tidak percaya, akibat kelalaian nya mengemudikan mobil hingga mengakibatkan tabrakan beruntun, bahkan harus menghilangkan nyawa orang lain.
"Ya, dia supir yang kamu tabrak mobilnya. Dia meninggal." jawab seorang perempuan tadi.
"Innalilahi... Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja. Aku melihat seseorang menyebrang dan... Ya allah. Hiks!" riana benar-benar syok mendapati dirinya sudah menghilangkan nyawa orang lain. Jantungnya berdetak tidak karuan, membayangkan banyak hal. Belum lagi bayangan sel penjara iba-tiba saja melintas di pikiran nya membiatnya bergidik ngeri.
Riana mengambil tasnya di mobil, di ambilnya ponsel dan dengan gemetar dia menelpon suaminya. Sayangnya sang suami justru tidak menjawab panggilan telpon riana.
"Ck! Kemana dia? Giliran lagi di butuhkan suka menghilang!" gumam riana kesal.
"Bu, mari ikut ke rumah sakit. Disana nanti ibu akan bertemu dengan pihak keluarga." Ajak seorang pria yang tadi berwajah garang seperti sedang emosi.
__ADS_1
"Baiklah, aku ikut kalian." Ucap riana. Dia kemudian mengikuti pria tadi menggunakan motor. Karena mobil riana pun terpaksa harus ditahan sebagai barang bukti di kantor polisi.
10 menit perjalanan riana dan pria tadi sampai di rumah sakit terdekat, dia menunggu semua administrasi yang harus dia lunasi sebagai bentuk tanggung jawabnya, meskipun kesalahan bukan semuanya karena riana. Tapi mau tidak mau dia tetap bertanggung jawab. Riana segera mengirim pesan untuk bram, memberitahukan kalau dirinya sedang berada di rumah sakit karena menabrak seseorang dan meninggal.
Tap
Tap
Tap
"Riana."
"Pah, akhirnya kamu datang... Hiks." Riana menghambur kedalam pelukan suaminya, air mata yang sejak tadi di tahannya akhirnya tumpah juga di pelukan suaminya. bahkan wajahnya pucat seakan tidak ada aliran darah disana.
"Tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja. Maafkan aku karena terlambat mengetahui ini semua." Ucap bram menepuk-nepuk punggung riana yang masih terisak.
"Aku sangat takut, pah. Aku takut kalau aku harus di penjara karena sudah menghilangkan nyawa orang lain. Aku takut, hiks." ucap riana dengan suara gemetar.
"Jangan takut, kita akan bicara kepada keluarga korban. Kalau ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Ini kecelakaan." jawab bram menenangkan riana.
Disaat itu juga sebuah brangkar di dorong keluar dari kamar jenazah, ditangisi oleh seorang wanita dan 4 orang anak kecil. Kemungkinan itu adalah keluarga korban.
Riana benar-benar merutuki dirinya sendiri yang sudah kejam membuat ke empat anak itu menjadi yatim.
Tanpa riana sadari, wanita tadi mendekatinya dan menamparnya berulang kali, bahkan menarik rambut riana yang panjang.
Plak
plak
"Argghhhh, sakit! Lepaskan." teriak riana. Berusaha melepaskan dirinya dari si wanita. Yang tak lain adalah istri korban.
"Kamu bilang sakit, hah! Sakit mana sekarang aku dan ke empat anakku, atau hanya karena rambutmu yang aku jambak. Bahkan rasa sakitmu akan hilang dalam beberapa menit, sedangkan kami..." wanita itu jatuh dilantai dengan airmata yang masih terus mengalir.
Riana menatap iba kepada si wanita, dia lantas duduk dan berusaha menenangkan si wanita walaupun mungkin itu tidak akan berefek apapun.
"Bu, ibu jangan menangis. Ayo kita pulang. Ayah akan segera di makamkan." ucap seorang anak kecil yang di perkirakan baru berusia 12 tahun.
"Siapa nama mu, nak?" tanya bram dengan lembut.
__ADS_1
"Aku nisa, om." jawab sang anak yang bernama nisa.
"Nisa, om akan ikut kerumah bersamamu dan ibumu. Apakah boleh?"
Nisa melihat ibunya meminta persetujuan, dan setelah ibunya menganggukan kepala nisa pun mengiyakan permintaan bram.
Siang itu bram dan riana ikut kerumah yang menjadi korban tabrak riana, sampai sore mereka disana. Membicarakan segala hal. Termasuk menanggung semua biyaya hidup dan pendidikan anak-anak si korban, sebagai bentuk tanggung jawab riana dan bram, karen istri korban pun tidak memperpanjang masalah ini ke jalur hukum. tapi sang ibu menolaknya karena dia tidak mau menjadi beban orang lain, sampai akhirnya riana dan bram mempekerjakan sang ibu di rumah mertuanya bram. Barulah wanita itu mau.
Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya riana dan bram pulang ke rumah mereka, tentu riana belum bisa bernapas lega, karena bram justru mulai menginterogasinya kenapa bisa terjadi kecelakaan tersebut.
Mau tidak mau riana pun menceritakan semuanya, dan akhirnya bram kembali emosi karena ternyata riana dan angga masih juga berencana membuat jihan dan aisyah sengsara.
***
"Najib, najib!" teriak zia sesaat setelah dia masuk kedalam rumah mewah najib.
"Kemana anak itu?" gumam zia.
karena yang punya tidak ada, zia pun mendudukan diri di sofa. Membuka aplikasi novel online.
"Tante, sejak kapan disitu?" tanya najib yang baru saja masuk.
"Sejak kamu lahir!" jawab zia asal.
"Eh! Tante mau apa? Jangan bilang amu ceramahin aku lagi."
"Iya, tante mau tanya. Apakah kamu sudah menemukan dimana jihan tinggal atau apa gitu? Soalnya nomor ponsel jihan mendadak tidak aktif semenjak malam itu."
"Aku sudah mencarinya, dia tinggal di sebuah rumah di dalam komplek. Letaknya paling ujung, akupun belum kesana."
"kalau tante mau kesana bareng aku saja, tapi jangan sekarang."
"Kapan?"
"Nanti saja, aku mau makan dulu."
"Ya, baiklah. Tante akan menunggumu disini."
Bersambung.
__ADS_1