Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 14


__ADS_3

Jihan dan najib duduk saling berhadapan, namun keduanya hanya diam tanpa ada yang mau membuka suara, hingga zia merasa sangat menyesal harus mempertemukan kedua manusia beda jenis itu.


"Kalau kalian sepwrti ini, kapan kita pesan makanan." tanya zia akhirnya. Dia sudah sangat pusing melihat jihan dan najib gang seperti tom dan jery.


"Aku tidak lapar!" ucap najib.


"kalau kamu tidak mau pesan, lebih baik kamu pulang saja!" ucap jihan berharap najib pulang.


"Kamu juga tidak makan, atau lebih baik kita pulang saja berdua!" ucap najib asal.


"Jangan percaya diri! Aku sedang mikir mau makan apa."


"Memangnya otak kecil sepertimu bisa mikir juga." kembali najib bicara asal jeblak.


"Apa perdulimu! Biarpun kecil ini otak ku, memangnya kamu punya otak. Hah!


"Astaga! Tante, meminta kalian untuk pesan makanan. Kenapa kalian jadi meributkan perihal otak. Apa kalian mau makan otak-otak, supaya otak kalian berdua bertambah. Siapa tau bertambah juga pintarnya." ucap zia kesal.


"Aku tidak suka otak-otak!" ucap jihan dan najib bersamaan.


"Terserah kalian!"


Zia segera memanggil pelayan cafe dan memesan makanan. Tapi tidak untuk jihan dan najib, zia tidak mau ambil pusing dengan kelakuan mereka berdua dan lebih memilih untuj segera pesan makanan. Sepertinya rencananya jalan dengan jihan akan batal, gara-gara penampakan najib yang merubah mood jihan.


"Mbak, saya pesan itu saja. Untuk mereka biarkan saja mereka kelaparan. Karena diantara keduanya tidak ada yang punya uang." Ucap zia kepada pelayan cafe, hingga sang pelayan tersenyum menanggapi ucapan zia yang konyol.


Hingga jihan dan najib saling melihat dengan mengerutkan dahi.


"Baik bu, terimaksih. Pesanan nya akan segera kami buatkan." Ucap pelayan sebelum meninggalkan meja zia.


"Tan, aku punya uang kok. Entah kalau dia." ucap najib dengan mata melirik jihan.


"Terus kamu pikir aku gak punya, begitu! Jangan naif. Siapapun orangnya kalau mau duduk di cafe sudah pasti punya uang." Ucap jihan kesal. Entah kenapa melihat najib bawaan nya kesal terus, udah kayak ibu hamil lagi ngidam.


"ya kali, kamu kan pengangguran." najib sama sekali tidak ada niat untuk mengalah.


"Hah, kalau belum kenal jangan sok tau!" jawan jihan.


"Aku tau, kamu kan memang pengangguran. Makanya ikut aku kerja, terima saja penawaranku." ucap najib.


"Aku tidak minat! Kamukan pernah bilang. Daripada aku lebih baik amanda atau kinan yang lebih pantas, lalu kenapa sekarang jadi maksa aku sih, aneh!"


"Ya, aku cuma kasian aja sama kamu. Memangnya kamu gak bosen dirumah terus."

__ADS_1


"Bukan urusanmu! Kamu urus saja urusanmu dan jangan masuk ke dalam hidupku. Hidupku sudah cukup rumit, jangan sampai kamu menambah daftar kerumitan di dalamnya."


"Astaga! Kalian benar-benar memalukan. Tante minta kalian berdamai. Untuk saat ini saja! Oke." ucap zia yang mulai tidak tahan dengan keributan dua manusia di depan nya.


"Aku gak mau!" kembali jihan dan najib bersuara sama.


"Ah, ya sudahlah! Kalau begitu, biar tante pulang saja. Lama-lama disini asam lambungku bisa kumat." ucap zia, dia segera berdiri dan meraih tasnya.


"Eh! Kok pulang." ucap najib.


"Ayo, tante. Kita pulang saja, jihan sudah gak mood duduk disini." sambung jihan, meraih tangan zia dan menariknya.


Zia dibuatnya bingung setengah mati, pasalnya dia hanya menggertak saja, tapi kenapa jihan malah benaran ngajak pulang.


Duh, tante zia kemakan omongan sendiri nih gaes....


Akhirnya zia dan juga jihan pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan najib yang masih terbengong dengan makanan di meja, yang sempat zia pesan. Mau tak mau dia harus memakannya sekaligus membayar tagihannya.


***


"****! Dasar tidak berguna." umpat seorang pemuda tampan dengan tampang urakan.


Sesekali pandangannya menerawang jauh entah kemana, tapi dia terus saja mengumpat dan mengomel orang yang sedang bicara dengannya di ponsel. Entah ada masalah hidup apa dia.


"Bisakan tidak menelpon dijalan! Dan tolong parkir pada tempatnya. Ini jalan umum." ucap jihan yang merasa kesal karena mobilnya harus kembali terhenti.


"Kamu, menghalangi jalanku. Tentu itu masalah! Gara-gara kamu. Aku harus beberapa kali berhenti hanya dalam jarak 2 meter saja." jawab jihan.


"Bukan urusan gue, itu masalah lo."


"Astaga! Dasar manusia batu. Entah dari planet mana pria ini datang." gumam jihan. Dia kembali harus mengalah, Daripada harus berdebat dengan manusia macam itu. Ini semua gara-gara nenek, yang memintaku membawa mobil, harusnya aku tadi pake motor saja. Aku pasti sudah sampai di sana.


Jihan terpaksa mengalah, entah kenapa hatinya sangat dongkol sekali. jihan merasa kalau ini adalah pertanda, kalau dia tidak di izinkan pergi ke rumah riana. Entah apa maksud neneknya meminta jihan menjemput kinanti dirumahnya.


Akhirnya jihan sampai di depan rumah mewah riana, rasa malas membuat jihan masih belum juga keluar dari dalam mobil.


"Ah, rasanya aku lebih baik tidak makan seminggu, daripada harus masuk ke rumah ini." gumam jihan.


Tok Tok Tok


"Maaf, neng. Cari siapa? Tanya satpam rumah riana.


Jihan menurunkan kaca mobilnya dan memberikan senyuman manisnya.

__ADS_1


"maaf, pak. Saya mau menjemput kinanti. Apakah dia sudah siap." jawab jihan ramah.


"Oh, ini neng jihan ya. Ayo masuk dulu neng, maaf saya tidak tau. Kirain cuma orang iseng yang parkir didepan pagar rumah." ucap satpam dengan ramah.


"Eh! Gak usah pak, saya tunggu disini saja. Kalau boleh minta tolong, eu.. Tolong panggilkan kinantinya saja." ucap jihan.


"Oh, begitu. Baiklah."


Pak satpam segera masuk, meninggalakan jihan yang menarik napas lega. Karena akhirnya dia tidak harus masuk menemui kinanti.


Sambil menunggu, jihan merebahkan badannya di jok mobil yang sudah direndahkan. Rasa kesal membuatnya lelah.


Tiiiiinnnnn


"Astagfirallah." jihan terperanjat kaget.


Brak


"Heh! Turun." teriak seorang pemuda yang turun dari mobilnya.


Jihan segera turun, ingin tahu siapa orang yang tidak punya otak, yang sudah membuatnya hampir mati saking kagetnya.


"Kamu!" teriak jihan saat tahu, kalau pemuda itu manusia batu yang membuat perjalanan nya ke rumah kinanti jadi terhambat.


"****! Lo lagi. Minggir!"


"Tidak! Kali ini aku gak akan mengalah buat manusia batu macam kamu."


Pemuda itu pergi meninggalkan jihan, membuat jihan tidak habis pikir apa maunya.


Tiiiiinnnnnnnnnn


Tiiiiinnnnnnnnnn


"Eh! Ada apa ini?" tanya satpam, yang segera membuka pagar pintu karena mendengar keributan.


"Neng jihan, ada apa ini?" tanya pak satpam.


"Tuh, ada orang gila pak." jawab jihan asal.


Pak satpam pun menghampiri mobil di belakang mobil jihan.


"Eh! Den Ibra." pak satpam terkejut saat melihat ternyata didalam mobil adalah adik dari suami riana.

__ADS_1


Ibrahim abdulah. Pemuda tampan dan mapan, hanya saja lebih suka dengan penampilan berantakan, riana sangat tidak menyukainya kalau dia datang kerumahnya. Karena ibra akan selalu mengomentari apapun yang dilakukan riana.


Bersambung..


__ADS_2