
"Arghhhh... Dasar ipar tidak tau diri!!" pekik riana, saat dirinya di dorong kuat hingga hampir menyentuh dinding.
"Aku bersyukur karena sejak awal sudah tidak menyukaimu!!" Sambung riana masih dengan wajah kesalnya.
"Ck! Lapula aku tidak sudi disukai wanita ular sepertimu!" jawab ibrahim.
"Kamu harus ingat, kalau terjadi sesuatu kepada kakak ku, aku bukan hanya akan menghajarmu, tapi juga membunuhmu!!" sambung ibrahim geram.
Hatinya terus menerus memikirkan keadaan kakaknya yang masih di tangani dokter di ruang IGD. Matanya tidak berhenti melihat kearah pintu berharap dokter segera keluar dan memberi kabar baik.
"Kenapa? Apakah kamu begitu mencemaskan kakakmu itu? Hah, kalian semua memang bodoh." Ucap angga, yang entah sejak kapan dia ada di sana dan memperhatikan gerakan kepala ibrahim yang terus menoleh ke arah pintu ruang IGD.
"Bagus kalian disini! Harus kalian ingat, tidak akan pernah satupun dari rencana yang ada di otak kalian akan kalian dapatkan. Tidak akan pernah!! Aku pastikan kalian tidak akan mendapatkan apapun dari kakak ku." Ucap ibrahim dengan dada yang begitu sesak melihat kenyataan kalau orang yang di cintai kakaknya, justru adalah orang yang menghancurkan nya dari dalam.
"percaya dirimu sangat bagus, anak muda. Tapi sayang, itu hanya sebuah bualanmu. Karena kenyataannya kakakmu tidak akan sanggup kehilangan adikku!!" Jawab bram dengan wajah menyebalkan.
"Itupun kalau dia masih hidup!" sambungnya.
Satu tinjuan mendarat diwajah angga, hingga mengalirkan darah di sudut bibirnya.
Angga hanya tertawa melihat emosi ibrahim mulai tersulut. Dia nampak semakin senang saat pemuda itu terlihat mengeraskan rahangnya dengan gigi bergemeletuk.
Ceklek
Pintu ruang IGD terbuka, seorang dikter datang menghampiri ketiganya.
__ADS_1
"Apakah ada yang bernama riana?" Tanya sang dokter.
"ya, dok. Saya istrinya." jawab riana dengan wajah yang dibuat sekhawatir mungkin, namun dalam hatinya bersorak bahagia.
"silahkan masuk, pasien ingin bertemu dengan anda."
Riana hanya menganggukan kepalanya dan segera masuk, dokterpun mengekor dibelakang riana. Namun ibrahim menarik tangan sang dokter sesaat akan menutup pintu ruang IGD.
"Dok, bagaimana kakak saya?"
"Maaf, tuan. Kami semua sedang berusaha. agar pasien bisa melewati masa kritisnya. Saat ini pasien masih belum sadar, hanya saja tadi sempat bergumam dan menyebut nama riana. Lalu kembali tidak sadarkan diri. Semoga saja saat mendengar suara istrinya pasien bisa melewati masa kritisnya." Jawab sang dokter. Sungguh jawaban itu membuat dunia ibrahim runtuh seketika. Melihat ibrahim begitu terguncang sang dokter sangat khawatir. Namun angga segera mendekqti dan meminta dokter itu agar meninggalkan mereka. Sang dokterpun segera masuk dan menutup pintunya.
"Bagaimana? Aku pastikan kakakmu tidak akan sadar dalam waktu yang sangat lama." bisik angga ditelinga ibrahim.
Bagh
Bagh
Ibrahim seperti orang yang kesetanan mendengar ucapan angga, hingga dia hilang kendali, tidak menyadari kalaau posisinya saat ini berada di runah sakit. Beberapa perawat pun berdatangan untuk memisahkan keduanya.
"Panggil sekurity, sepertinya orang itu sudah gila!!" Teriak angga nyaring. Saat sudah berhasil dipisahkan oleh beberapa orang perawat.
sekuritypun berdatangan untuk mengamankan ibrahim.
"Pak, bawa dia!" Teriak angga meminta sekurity membawa ibrahim pergi.
__ADS_1
Sekuritypun menarik ibrahim agar ikut dengan mereka, namun langkah mereka terhenti saat suara seseorang meminta agar tidak menyentuh ibrahim.
"Biarkan dia pak, dan jangan menyentuhnya!" Teriak riko lantang. dia tidak menduga kalau bosnya akan diperlakukan aeperti itu.
"Saya yang akan menjaminnya agar tidak melakukan keributan."
"Baiklah, tolong jangan melakukan keributan disini."
Riko hanya menganggukan kepalanya menjawab ucapan sekirity itu, dan kini fokusnya tertuju ke arah ibrahim yang nampak berantakan.
"Bos, ikut saya." bisik riko di telinga ibrahim.
"Aku tidak bisa meninggalkan kakaku dengan manusia-manusia iblis itu, riko!"
"Saya tau, tapi kita harus punya rencana."
"mereka itu iblis, harusnya bos menjadi ustazd atau kalau perlu menjadi seorang kiyai agar bisa membasmi semua iblis itu!" sambung riko geram karena bosnya lebih mengedepankan emosi ketimbang akalnya.
"Aku sedang tidak bercanda riko! Kak bram sedang sekarat saat ini!"
"Saya sedang tidak bercanda, sekarang ikut saya"
Ibrahim melihat wajah riko yang begitu serius,akhirnya diapun mengikuti langkah riko dan meninggalkan angga yang terus menatap kearah ibrahim dan riko pergi.
"Apa yang akan mereka lakukan?" gumam angga, diapun segera menelpon riki meminta agar seseorang mengikuti ibrahim dan mengabarkan semua yang dilakukan ibrahim.
__ADS_1
Bersambung....