
"Dokterr!" Teriak jihan dengan sisa tenaga yang ada. Dadanya sesak melihat sang ibu tidak berdaya.
Beberapa perawat menghampiri dengan membawa brangkar, ibra segera membaringkan aisyah, dengan cepat para perawat membawanya ke ruang IGD.
"Maaf mbak, silahkan tunggu di luar saja." Ucap seorang perawat menghadang jihan yang hendak masuk kedalam. Dengan berat hati jihan menuruti ucapan sang perawat. Hatinya kembali cemas bahkan saat ini dia lebih takut daripada saat dulu ketika ibunya masuk kedalam ruangan yang sama.
"Jihan, maaf a..." Ibra menghentikan kalimagnya saat jihan menaikan tangan tanda dia tidak ingin mendengar apapun selain kabar ibunya yang akan baik-baik saja.
"Baiklah, aku akan bicara nanti." Ucap ibra, diapun duduk di depan ruangan itu. Sedangkan jihan masih terus saja bolak-balik dengan gelisah.
"Bos, saya..."
Jihan melirik tajam saat melihat riko sang atasan ada di dekat ibra. Melihat lirikan mata jihan riko berhenti bicara bahkan dia sangat sulit menelan salivanya sendiri. Entah apa yang akan terjadi kalau sampai jihan kalau riko adalah anak buah ibrahim.
"Pak riko, apakah anda mengenal dia?" Tanya jihan menunjuk ibrahim. Beberapa kali ibrahim menghembuskan napas berat, entah kenapa melihat jihan seperti itu dia begitu sangat takut, bahkan lebih menakutkan saat dia diburu oleh beberapa preman dengan senjata tajam.
"Saya... Ya, saya mengenalnya." Jawab riko dengan senyum yang dipaksakan.
"Oh..." jawab jihan. Dan kembali mengalihkan pandangan nya ke pintu ruang IGD mengharap dokter segera keluar dengan kabar baik.
Glek...
Lagi dan lagi dia harus bersusah payah menelan salivanya, dan ternyata hanya jawaban oh saja yang keluar dari mulut jihan.
Ibrahim memebri kode agar riko segera pergi dari sana. Hanya dengan kedipan mata riko mengerti apa maksudnya.
"Jihan, saya permisi. Semoga ibumu baik-baik saja, selesai pekerjaan nanti saya akan kembali menemuimu di sini." Pamit riko kepada jiha , dan sontak saja ucapan riko yang akan menemui jihan lagi mendapat tatapan tajam dari ibrahim.
"Terima kasih, pak. Maaf sudah merepotkan." Jawab jihan. Hanya itu yang bisa dia ucapkan saat ini. Walaupun ada banyak pertanyaan dan kecurigaan di dalam hatinya. Namun dia tidak akan membahasnya sekarang karena hatinya masih sangat mengkhawatirkan sang ibu.
Mendapat tatapan tajam dari ibrahim, riko segera pergi dari sana sebelum bos nya itu terkena serangan jantung akibat menahan emosi terlalu lama.
Tringgg...
Baru saja dua langkah, ponsel riko berbunyi satu notif masuk dari sang bos.
Ibrahim:
"Jangan pernah balik kesini, paham! Atau gajimu satu tahun aku hibahkan ke yayasan."
Riko:
"Baik bos."
Riko benar-benar pusing membaca chat dari ibrahim, bagaimana mungkin gaji satu tahun dia hibahkan begitu saja. Melihat riko yang masih berdiri dan belum juga pergi, kembali ibrahim mengirimkan pesan.
Ibrahim:
"Apa lagi yang kamu tunggu? Mau aku depak dari tempatmu berdiri. Hah?"
__ADS_1
Riko kembali menatap ibrahim dengan senyum kecut, lalu pergi dengan langkah dua ribu, rasanya kalau bisa menghilang ingin sekali dia menghilang saja dari hadapan bosnya yang bucin itu, belum lagi jadian dengan jihan, dia sudah sebucin itu.
Sementara itu di rumah nenek....
"Kinanti, antar aku kerumah sakit sekarang." Pinta nenek kepada kinanti saat dia tau kalau aisyah dibawa ke rumah sakit dan belum sadar juga.
"Tapi, nek."
"Kalau kamu tidak mau, lebih baik kamu pulang saja kerumah ibumu."Ucap nenek dengan kesal.
"Aku akan bicara dengan papa dulu, sebab nenek juga sedang sakit. Itu sangat beresiko kalau nenek harus kesana."
"Lama-lama kamu sama saja menyebalkannya!"
"Saraaahhh! Saraaahhh!!" Teriak nenek dengan begitu lantangnya. Kinanti bahkan sampai terkejut mendengar suara lantang nenek memanggil sarah asisten rumah tangga yang bram pekerjakan di rumah nenek.
Mendengar suara nenek yang begitu kencang, sarah yang sedang menyapu di ruang tamu segera berlari menghampiri nenek.
"Iya, nek. Ada yang bisa sarah bantu?" Tanya sarah dengan napas yang naik turun karena dia berlarian menuju lantai dua.
"Apa saja kerjaanmu? Dipanggil dari tadi baru datang!" Hardik nenek dengan wajah ketus.
kinanti menyadari emosi yang neneknya lampiaskan kepada sarah. Itu semua karena permintaannya yang dia tolak.
"Nek, bibi sarah sudah cepat loh." ucap kinanti dengan lembut.
"Diamlah! Aku tidak butuh kamu. Lebih baik kamu pulang saja." Jawab nenek dengan ketus.
"Ba... Baiklah."jawab sarah gugup.
Kinanti hanya mengangguk saat melihat sarah menatapnya meminta peprsetujuan nya. Setelah nenek dibawa kebawah oleh sarah, kinanti segera menghubungi papahnya agar datang kerumah nenek.
*
"Dok, bagaiman ibuku?" Tanya jihan saat dokter baru saja keluar dari ruang IGD.
"Maafkan saya..."
"Apa maksud dokter meminta maaf? Ibuku baik-baik saja kan? Jawab dokter? Ibuku baik-baik saja kan?" Teriak jihan. Hingga ibra harus segera meraih jihab agar dia tidak nekat dan menghajar sang dokter.
"Jihan, tenanglah! Dengarkan dulu apa yang mau dokter katakan." Ucap ibra meraih jihan dan membuat jarak antara dia dan sang dokter.
"Dokter ini sangat lama, ibra. Apakah dia tidak tau, kalau aku sudah menunggunya dari tadi disini. Tapi begitu keluar dia hanya mengatakan maaf. Apa maksudnya?" Teriak jihan dengan bibir bergetar. Jihan benar-benar takut terjadi hal buruk kepada ibunya. Karrna hanya ibunya lah satu-satunya yang membuatnya bisa bertahan.
"Maafkan saya, saya sudah memerisa semuanya dan pasien baik-baik saja. Tidak ada yang salah, hanya saja pasien mengalami koma. Dan kami belum menemukan apa penyebabnya." Ucap dokter menjelaskan.
"Apa katamu? Bagaimana bisa anda tidak tau, dokter! Bukankah anda dokter? Lalu bagimana bisa anda mengatakan itu, hah!" Teriak jihan semakin tidak terkontrol. Bahkan ibrahim sendiri merasa kesulitan menenangkan jihan.
"Jihan, tenanglah! Kamu jangan seperti ini." Ucap ibrahim.
__ADS_1
"Tenang! Katamu aku harus tenang! Andai saja kamu yang ada disana, aku pasti akan tenang." jawab jihan dengan mata menatap tajam. Melihat jihan yang seakan hendak menerkamnya, ibrahim meminta perawat mentuntikan obat penenang kepada jihan. Setelah jihan tenang dan tertidur segera dia dibawa keruangan dimana aisyah akan di rawat.
"Dok, berikan ruangan dan perawatan yang paling terbaik di rumah sakit ini, saya mau ibu aisyah segera sadar." Ucap ibrahim
"Tentu saja." jawab sang dokter.
**
Prank
Prank
Semua benda yang ada di kamar tamu dihempaskan oleh nenek, dia benar-benar kesal dan kecewa karena ulah anak-anaknya aisyah kembali harus masuk rumah sakit.
Tap
Tap
Tap
"Kinanti, ada apa?" tanya angga saat sudah masuk kedalam rumah nenek.
"Paman, duduklah. Kita tunggu yang lainnya." jawab kinanti dengan wajah khawatir.
Tidak lama bram dan juga riana memasuki rumah nenek.
"Pah, mah..."
"Kinanti, ada apa?" Tanya bram.
"Nenek mengamuk, pah." Jawab kinanti.
"Apa! Kenapa?" Tanya semua yang mendengar jawaban kinanti.
"Maafkan aku, saat aku menerima kabar dari kak amanda, kalau ibu ais masuk rumah sakit. Aku terkejut hingga mengeraskan suaraku. Dan ternyata nenek mendengarnya. Dan nenek memaksa ingin bertemu ibu ais." Jawab kinanti dengan air mata yang sudah luruh.
"Apa!" kali ini bram yang terkejut mendengar penjelasan kinanti.
"Apa ini? Kenapa kak aisyah masuk rumah sakit dan kalian tidakengabariku?" Tanya bram dengan wajah yang mulai mengeras.
"Semua ini..."
"Semua ini ulah istri dan iparmu, kak! Bahkan sekarang ibu ais koma dan entah kapan dia akan sadar."
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Bersambung.....