Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 21


__ADS_3

Jihan menatap ibunya yang terbaring lemah dengan selang infus . Setelah tadi dia sempat berpikiran buruk, kini setidaknya keadaan aisyah mulai membaik. Beruntung tadi segera dibawa kerumah sakit. Kalau terlambat sedikit saja nyawanya tidak akan tertolong. Begitulah ucapan dokter yang terus terngiang ditelinganya.


Rasa syukur terus teruntai dalam hati jihan, karena allah masih memberinya kesempatan melihat ibunya walaupun masih terbaring lemah.


Ceklek


Mendengar pintu dibuka, wajah jihan menatap seorang pria tampan yang masih berdiri dipintu. Kedua manik mata mereka saling bertemu dan entah perasaan apa yang membuat keduanya menahan pandangan itu. Hingga hentakan dibelakang sang pria meruntuhkan semuanya.


"Om, cepatlah! Sampai kapan mau berdiri dipintu. Aku mau masuk." ucap kinanti dari balik badan ibra.


Ibra segera menyingkir memberi jalan untuk kinanti dan juga nenek.


"Jihan, bagaimana ibumu?" tanya nenek menatap jihan dengan sendu.


"Alhamdulilah.. Ibu semakin membaik, nek." jawab jihan.


"Kak, maafkan mamah. Karenanya ibu ais jadi seperti ini." kinanti menunduk merasa bersalah.


"jadi ini ulah kak riana." gumam ibra. Matanya nyalang menatap jauh kearah luar jendela.


"Tidak masalah, ibuku masih baik. Tapi.... Kalau terjadi sesuatu kepada ibuku. Maafkan aku nek, kinan. Aku pasti akan membuat perhitungan dengan tante riana. Dan aku harap kalian tidak akan melindunginya." jawab jihan tanpa ekspresi.


Nenek dan kinanti hanya diam membisu, entah mau menjawab apa. Mereka sama-sama tau kalau jihan tidak akan mendengar nasehat seperti apapun kalau itu menyangkut ibunya.


"Apapun itu, aku akan berada di pihak kak jihan. Karena aku tau mamah sudah sangat keterlaluan." jawab kinanti tegas.


Ibra tersenyum mendengar ucapan keponakan nya, karena dia tau harus berpihak pada yang benar. Bukan karena dia ibunya lantas membenarkan yang salah.


Terlebih lagi kini ibra semakin mengagumi sikap jihan yang tegas dan tidak bertele-tele apalagi manja seperti wanita pada umumnya. Dia berbeda itulah yang ibra pikirkan.


"Om, apakah kamu akan terus berdiri disana?"


"Eh! Jangan sok tau." ibra merubah mimik wajah terkejutnya dengan pura-pura kesal.

__ADS_1


"Dari tadi nenek memanggil, tapi om ibra diem bae." jawab kinanti asal.


"Astaga! Kamu semakin mirip kak riana. Bawel dan berisik. Bersikaplah seperti jihan."


"Oh ya. Kenapa kak jihan, jadi.... Apakah ini tanda-tanda." goda kinanti dengan senyum menghiasi wajah mungilnya.


Ibra pergi begitu saja meninggalkan kamar rawat aisyah, tujuannya ingin menemui riana, dia ingin memeberi sedikit pelajaran buat kakak iparnya itu.


Jalan tergesa membuat ibra tidak memperhatikan langkahnya, hingga dia menabrak seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.


Bugh...


"Tante, apakah tidak apa?" tanya najib melihat zia jatuh terduduk akibat bertabrakan dengan ibra.


Najib segera meraih zia dan membantunya berdiri, dia melihat wajah pria yang menabrak tantenya.


"Kamu!"


"Makanya kalau jalan yang benar. Memangnya ini jalan nenek moyang mu!" hardik najib yang masih kesal karena insiden baku hantam itu.


Lagi dan lagi ibra mengabaikan ucapan najib, baginya itu tidak penting.


"Tidak masalah, saya pun tidak memperhatikan jalan." ucap zia menghentikan najib yang akan kembali nyerocos.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." ucap ibra kepada tante zia.


Ibra segera melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan zia dan juga najib yang masih tidak rela kalau zia memaafkan nya begitu saja.


"Ayo, apakah kamu mengenal pria tadi?" tanya zia dengan terus melangkah menuju ruang rawat aisyah.


"Dia yang menghajarku kemarin, dirumah nenek." jawab najib.


"Oh ya, memang kenapa? "

__ADS_1


"Dia om nya kinanti, dan dia menghajarku karrna dia pikir aku yang sudah mengajak kawin kinanti yang masih sekolah."


"Astaga! Dia sangat keren." ucap zia memuji ibra.


"Yang keponakan tante itu aku loh, dan yang dihajar juga aku. Kenapa tante jadi memuji pria itu!" kesal najib. Dia pikir tantenya akan membelanya. Ini malah kebalikannya, membuat najib kesal.


Zia terkekeh mendengar najib yang kesal.


"Itu ruangannya." ucap zia saat sudah melihat ruangan tempat dimana aiayah dirawat.


Zia dan najib mempercepat langkahnya dan segera memasuki kamar rawat aisyah setelah sebelumnya mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Jihan, bagaimana ibumu? Apa kata dokter." tanya zia saat sudah duduk di bangku tempat jihan duduk.


Zia melihat jihan yang wajahnya sangat pucat dan mata membengkak. Zia merasa sangat iba, dia sangat tahu bagaimana kehidupan jihan sebelum tinggal bersama dengan neneknya lagi. Dia sangat menyayangi ibunya. Pantas saja kalau sekarang wajah jihan sangat menderita melihat ibunya terbaring lemah.


"Alhamdulilah, ibu sudah lebih baik. Terima kasih tante sudah datang." jawab jihan dengan senyum manisnya.


"Kamu yang sabar, dan jangan banyak pikiran. Ingat kamu juga harus sehat." ucap zia.


Nenek yang di antar kinanti baru keluar dari toilet, segera menghampiri jihan dan zia yang sedang berbincang.


"Zia, kapan datang? " tanya nenek.


"Baru saja, nek." jawab zia meraih tangan nenek untuk diciumnya. Dan kinantipun segera meraih tangan zia.


"Kamu kinanti?" tanya zia menatap kinanti


"iya tante. Aku kinanti, silahkan dilanjutkan obrolan nya. Aku permisi ke kantin." jawab kinanti dan segera keluar setelah nenek menganggukan kepalanya.


Bersambung


hallo semuanya. terimakasih karena sudah membaca ceitaku, maaf kalau masih ada yang salah tulis. kalau kalian suka silahkan like dan berikan komentar serta saran dan kritik. Jangan lupa vote yah. Terima kasih ❤

__ADS_1


__ADS_2