
Setwlah kepergian kinanti, nenek pun segera memasuki kamarnya tanpa mau perduli dengan keadaan di rumahnya. Semakin tua hidupnya semakin kacau karrna ulah dari kedua anaknya itu.
"pah, lepaskan aku!" teriak riana saat bram masih menarik riana hingga ke mobilnya.
"aku bisa jalan sendiri!"
"kalau begitu, kamu pulang sendiri dan kerjakan swmuanya sendiri tanpa lagi harus melibatkan aku di dalam hidupmu, riana!" bentak bram dengan mata menatap tajam.
Degh
"A,,, apa maksudmu?" tanya riana terbata.
"Aku rasa kamu bukan orang bodoh, hingga tidak memgerti maksud ucapanku!"
Brak
Bram membanting pintu mobil dan pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu, riana yang masih belum mengerti arah pembicaraan bram tidak sempat mencegah kepergian suaminya itu.
"Maaassss,,, arrgh! Si*lan, ini semua ulah perempuan itu!!" umpat riana kesal.
Dia masuk kembali kedalam rumah ibunya dan masih mendapati angga sang kakak yang terduduk di ruang tamu.
"kak, ayo pergi. Kita harus bertemu riki." Ajak riana saat melihat angga yang hanya diam saja duduk di sofa.
"Kamu urus dulu rumah tanggamu itu, ri. Aku tidak mau mempertaruhkan rumah tanggamu hanya demi menunaikan ambisimu itu." Jawab angga tanpa melihat ke arah riana.
"Apa maksudmu itu? Kamu sudah tidak mau membantuku lagi?"
"Ri, mengertilah! Posisi kita sekarang sedang tidak bagus. Kamu tidak boleh mempertaruhkan rumah tanggamu itu walaupun kamu sudah tidak mencintai bram namun dia itu aset yang harus kamu pertahankan."
__ADS_1
"Selalu itu itu saja ucapanmu, kak. Aku sudah tidak tahan lagi harus berpura-pura baik hanya demi menunaikan permintaanmu agar aku mempertahankan pria itu."
"Aku muak!" Riana berlalu pergi dari hadapan angga dengan perasaan kesal.
"Ck! Kamu harus tetap bersama bram, ri. Karena kita belum mengeruk semua harta pria itu." gumam angga dengan seringai di bibirnya.
Sementara itu di kediaman najib..
Ceklek
Saat pintu di buka kinanti segera berhambur kedalam pelukan najib, najib yang terkejut refleks mengangkat kedua tangannya dan membiarkan gadis itu memeluknya.
Glek
Susah payah najib menelan salivanya, pasalnya ini kali peetama dia dipeluk seorang gadis, bingung harus apa akhirnya najib hanya bisa terus berdiri dengan posisi menangkat tangannya ke atas.
Tiiiiinnnnnnn...
"maafkan aku, kak." ucap kinanti lirih.
"kalian ini! Peluk-pelukan di depan rumah, maksudnya apa?" tanya zia saat sudah turun dari mobilnya.
Najib tidak menjawab apapun, dia hanya melirik kinanti yang menunduk dengan wajah sembabnya.
"Ayo masuk dulu." Titah zia kepada keduanya.
Najib dan kinanti mengeor di belakang zia, kinanti yang merasa bersalah terus menundukan wajahnya. Entah kenapa dipelukan najib diaa merasa nyaman.
"Kinanti, ada apa? Kenapa kamu menangis?" Tanya zia membuka percakapan, karena sejak tadi kinanti hanya menunduk saja.
__ADS_1
"Emmm.... Sebelumnya, aku minta maaf kak najib. Karena sudah memeluk kakak." Ucap kinanti massih dengan wajah tertunduk.
"Ya, aku maafkan. Walaupun kamu sudah mencuri pelukan pertamaku." jawab najib. Sontak saja kinanti mengangkat kepalanya menatap najib, dihatinya bersorak bahagia karena pelukan pertama najib dilakukan dengannya, rasa bahagia itu mengukir jelas di senyuman kinaanti yang tidak disadarinya.
Melihat itu zia hanya menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku juga tan, karena aku datang kesini sore-sore. Itu semua karena aku sedang kesal terhadap keluargaku, dan entah kenapa hanya rumah kak najib yang ada di pikranku. Hingga aku datang kesini." sambung kinanti lagi.
Zia menarik napas dalam, dia yakin kalau sudah terjadi perang besar di rumah gadis itu, karena nenek begitu sangat menyayangi jihan. Namun, kedua anaknya justru membuat semuanya menjadi kacau.
"Tan, apakah aku..." kinanti menjeda ucapannya, karena terdengar salam dari depan, suara itu tidak asing di telinga kinanti.
"Assalamu'alaikum."
"wa'alaikumsalam." Jawab zia dan semuanya.
"Paman!"
"Ibrahim, ayo masuk." Ucap zia.
Ibrahim masuk kedalam dan melihat kinanti yang membuang mukanya saat ibra menatapnya.
"Ck! Gadis itu merajuk rupanya." batin ibra.
"Tan, maaf. Aku mau mengajak keponakanku itu untuk pulang." Ucap ibra setelah duduk.
"Aku tidak mau!!" teriak kinan.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau. Aku akan menikahkanmu dengan dia." ucap ibra menunjuk najib.
__ADS_1
"Apa?!!"
Bersambung....