
Tak
Tok
Tak
Jihan terus saja mengetuk meja di depannya, membuat zia menghembuskan napas kasar melihat tingkah jihan yang aneh semenjak pulang dari rumah riana.
Zia mendekati jihan, di pegangnya tangan yang sejak tadi terus saja mengetuk meja di depannya. " Apa yang kamu pikirkan? Sejak tadi, tante perhatikan kamu terus saja mengetuk meja itu." jihan menatap zia dengan tatapan nanar.
"Tan, apakah aku orang baik?" tanya jihan membuat kedua alis zia bertaut menjadi satu.
"Apa yang membuatmu bertanya seperti itu?"
"Tan, paman bram memberikan semua aset dan perusahaannya untukku, dia bahkan tidak memberikan kinanti apapun selain satu bidang tanah kosong yang entah apa maksudnya."
"Jihan, tante tidak tau pasti kenapa bram melakuakan hal itu. Tapi, mendengar ceritamu kalau kinanti bukan darah daging bram. Mungkin ada alasan di balik itu semua."
"Apa? Jihan tidak mau seperti ini. Aku merasa sudah sangat jahat kepada kinanti." jihan meraih tangan ibunya yang masih belum juga ada tanda-tanda akan sadar.
"Bu, bangunlah! Aku butuh ibu..."
Zia hanya bisa menatap jihan dengan iba, dia sendiri sempat terkejut saat mendengar kalau kinanti ternyata bukan anak kandung bram.
Ceklek...
Jihan dan zia kompak melihat ke arah pintu yang terbuka. Kedua mata jihan menyipit melihat siapa yang datang.
"Ada urusan apa, anda datang kemari?" tanya jihan sarkas, saat tau siapa yang datang. Bahkan tanpa mengetuk pintu dia sudah lancang masuk membuat jihan berdiri seketika. Ya, dia adalah dinda ibu tiri ibrahim dan seorang pria yang jihan tidak kenal.
__ADS_1
"Aku masih ada urusan denganmu, jihan." jawab dinda dengan senyum sinis. Mata zia terus awas menatap pergerakan kedua orang yang baru dilihatnya.
"Aku tidak pernah merasa punya urusan dengan anda! Apa anda tidak salah orang?" tanya jihan dengan wajah datar.
"Jelas tidak! Karena kamulah gadis yang sudah merampok semua harta bram anak dari suamiku! Harusnya kamu sadar diri kalau kamu bukan siapa-siapa di keluarga kami! Kamu bahkan tidak berhak satu sen pun atas harta itu." jawab dinda.
Sraaakkkk...
Di lemparnya beberapa kertas di atas meja depan jihan. "Tanda tangani surat-surat itu!!" Ujar pria yang entah siapa.
"Cepatlah! Agar urusan ini segera selesai. Aku malas berlama-lama bicara dengan orang miskin sepertimu!" dinda berucap lantang dengan mata tajam menatap jihan.
Brakkk...
Satu gebrakan jihan di atas meja, membuat mata dinda membulat sempurna.
Byuuurrr... Jihan menumpahkan satu teko air yang berada di atas meja dengan senyum jahatnya.
Plukkk...
Di buangnya kertas yang basah itu kelantai hingga mengenai sepatu pria itu.
Jihan berjalan ke arah pintu dan membukanya lebar-lebar. "Kalian pergilah! Buatlah surat-surat sebanyak mungkin. Karena kalian akan mengalami hal ini sebanyak kalian memaksaku. Aku memang miskin tapi aku tidak gila seperti seperti kalian!"
"Silahkan pulang! Sebelum aku menghajar kalian, hingga kalian tidak bisa pulang dari sini!!" Teriak jihan lantang.
Dinda menatap sang pria dan menganggukan kepala. Merekapun melangkah keluar dengan angkuhnya.
"Dasar gadis miskin!! Ini baru awal. Aku pastikan kammu menyesal!!" Ucap dinda dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Aku tidak takut!!" jawab jihan, membalas tatapan itu lebih tajam lagi.
"Dan, aku tidak akan pernah memberimu kesempatan untuk menguasai semua milik paman bram! Walaupun aku harus mati!!"
"Jangan sombong!! Kamu tidak tau siapq aku!" Dinda melangkah melewati jihan dengan senyum licik. Membuat siapapun yang melihatnya akan bergidik ngeri.
Brakkk..
dibantingnya pintu itu setelah keduanya pergi, hingga membuat zia terkejut.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu mau membuatku mati terkejut, hah!" Umpat zia kesal.
"Ck! Aku lupa kalau ini rumah sakit. Ini yang aku khawatirkan, tan. Warisan itu seperti mata pedang yang tajam." Ucap jihan dengan pandangan sayu menatap sang ibu yang masih terbaring tenang tanpa terganggu dengan kebisingan yang terjadi.
"Kamu benar jihan. Tapi, tante rasa kamu harus mempertahankan apa yang sudah menjadi milikmu. Sepertinya mereka bukan orang baik-baik."
"Ya, wanita itu ibu sambung paman bram! Aku rasa ada yang janggal dengan kematian paman."
"Jihan, ini berbahaya! Kamu harus..."
Ceklek...
Pintu kembali terbuka dan lagi-lagi tanpa mengetuk terlebih dahulu. Membuat zia menghentikan ucapannya.
"Najib!! Kamu memang harus aku hajar!!" Ucap jihan kesal. Sudahlah kesal ditambah kedatangan najib membuat jihan semakin kesal dibuatnya.
"Eh! Kenapa..."
Brakk... Pintu yang baru saja terbuka oleh najib, kembali terbuka dengan suara yang lebih nyaring membuat ketiganya menatap ke arah pintu bersamaan.
__ADS_1
Bersambung.....