
"Kalian!! Ada apa? Kenapa dengan pak riko, ibrahim?" Tanya jihan saat tau yang membuka pintu dengan tidak sopan itu adalah ibrahim. Ya, ibrahim terpaksa mendorong pintu itu karrna dia harus menarik riko yang sudah babak belur entah siapa yang menghajarnya.
"Kenapa di bawa kesini? Panggil dokter dan bawa ke IGD." Zia benar-benar panik melihat luka di sekujur tubuh riko.
Najib segera memanggil dokter setelah membantu ibrahim menaikan riko ke atas ranjang.
"Ada apa? Dan, dimana kinanti?" Tanya jihan saat riko sudah di tangani dokter.
Ibrahim menghembuskan napas kasar. "Aku tidak tau pasti. Riko menelpon dan saat aku tiba di tempat dia sudah dalam keadaan seperti itu. Maaf! Aku membawanya kesini. Karena aku merasa ada yang mengawasi saat aku masuk rumah sakit. Aku terpaksa mengendap-endap agar tidak di ketahui dan sampailah di sini." jawab ibrahim.
"Dimana kinanti?" Ulang jihan. Entah kenapa dia mengkhawatirkan gadis itu.
"Dia aku titipkan di rumah pak surya, aku rasa ada yang tidak beres! Aku takut terjadi sesuatu terhadap kinanti, maka aku sengaja menitipkannya di sana sebelum aku pergi." jawab ibrahim dengan napas turun naik karrna lelah.
"Ck! Si riko si*lan. Berat banget badannya." Gumam ibrahim. Namun jihan dapat mendengar gumaman itu, membuatnya mengulum senyum. Dan, ternyata senyum tipis itu tertangkap mata oleh najib yang sejak tadi menatap jihan dan ibrahim bicara. Najib memalingkan wajahnya. "Dasar manusia dajjal!" Umpatnya dengan wajah kesal. Zia yang melihat perubahan sikap najib sangat tau betul apa sebabnya. Akhirnya demi untuk meredam kecemburuan sang ponakan, zia menghampiri jihan dan ibrahim.
"Ibra, tadi ibumu datang kesini." Ucap zia langsung pada intinya.
__ADS_1
Mendengar itu seketika mata ibrahim membulat. Rahangnya mengeras dengan tangan mengepal menahan emosi. Ibrahim tidak menyangka kalau ibu tirinya akan secepat itu mencari jihan.
"Kamu tidak perlu khawatir. jihan tidak sendiri ada tante dan juga najib tentunya." sambung zia.
Kalimat terakhir zia membuat kepala ibrahim berputar 180 drajat demi untuk menatap najib di ujung sana yang juga sedang menatap ketiganya.
"Aku tau kalau kamu sedang cemburu." bathin ibrahim.
Brukkk...
Ibrahim ambruk seketika tepat di depan jihan, hingga jihan dengan segera meraihnya kepangkuan.
Matanya menyipit melihat najib sangat dekat dengannya, Entah setan apa yang merasuki ibrahim seketika dia bahagia melihat wajah cemburu najib. Hingga ide konyol melintas begitu saja di kepalanya untuk mengerjai najib yang sedang cemburu. Dan dia berhasil karena terlihat sekali najib begitu kesal saat jihan meraihnya dan menempatkan kepala ibrahim di pangkuannya.
Mata najib membulat sempurna, kedua alisnya bertaut membentuk garis lurus memanjang saat tidak sengaja melihat senyum ibrahim. "Nama saja ibrahim, kelakuan fir'aun!" gumam najib semakin kesal.
"Jib, ayo bantu angkat! Kenapa kamu diam saja!" Seru jihan kesal karena najib hanya melihat tanpa berniat membantu.
__ADS_1
"Najib, ayo angkat." sambung zia yang sama kesalnya.
"Ck! Dia bisa bangun sendiri!" Ucap najib berdecak kesal.
Jihan benar-benar tidak mengerti dengan ucapan najib. "Dasar payah! Bilang saja kalau kamu tidak kuat mengangkatnya, iyakan? Payah, payah, payah! Harusnya kamu pakai daster saja di rumah." umpat jihan kesal.
Ibrahim ingin sekali terbahak mendengar umpatan jihan untuk najib, dia harus benar-benar terlihat tidak berdaya kalau sampai jihan menyadari kekonyolannya bisa habis dia.
Mata najib mendelik mendengar umpatan jihan, bisa-bisanya dia di suruh pakai daster, sangat memalukan. Zia mengulum senyum mendengar umpatan jihan. Pasalnya zia pun kesal karena najib benar-benar tidak mau membantu. Pria tampan itu bahkan meninggalkan ruangan dengan wajah masam.
Najib keluar tanpa mengatakan apapun, wajahnya benar-benqr terlihat kesal membuat zia bertanya-tanya. Karena tidak biasanya najib bertingkah seperti itu. Zia pun segera keluar setelah membantu jihan menaikan ibrahim ke atas sopa. Dan meminta dokter untuk mengecek keadaan ibrahim.
"Ibrahim!!! Awas kamu! Gara-gara kamu jihan memintaku memakai daster." gerutu najib kesal. Tangan nya memukul-mukul dinding.
Pletak..
"Astaga! Siapa...."
__ADS_1
Bersambung...