Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 23


__ADS_3

Riana benar-benar kesal karena dirinya merasa jadi sangat tidak berarti untuk suaminya, karena ternyata bram lebih membela aisyah.


Ibra menatap riana seakan sedang menguliti kakap iparnya itu.


"Apa? Jaga matamu! Aku kakak iparmu, bukan musuh yang harus kamu tatap seperti itu." ucap riana ketus.


Tidak ada tanggapan dari ibra, awalnya ibra akan memberi riana pelajaran karena sudah membuat jihan susah. Tapi setelah bram memberikan ultimatum kalau dialah yang akan memperingati riana, ibra akhirnya mengalah. Walaupun banyak hal yang ingin ibra katakan kepada kakak iparnya itu.


Riana melenggang pergi meninggalkan ibra yang menatapnya tanpa ekspresi. Ibra sendiri sedang bingung dengan dirinya, entah bagaimana awalnya hingga dia bisa sangat perduli pada gadis manis bernama jihan itu.


"Hayo, lagi ngelamun jorok yah." ucap kinan menghentakan punggung ibra.


"kalau ngomong jangan sembarangan! Lagipula apa yang kamu katakan tadi?" tanya ibra menatap penuh selidik.


"jangan menatapku seperti maling! Aku keponanamu."


"Ck! Kamu hampir sama dengan ibumu."


"Bagaiman hasilnya? Apakah kamu sudah lulus dan akan kuliah dimana?"


"Aku akan masuk kmpus B, dan aku sudah mendaftarkan diri disana" jawab kinan santai.


"jangan membahas soalku, aku lebih tertarik kalau kita membahas soal kak jihan." sambung kinan dengan mulut penuh dengan apel yang dia makan.


"Telan dulu makananmu, kamu bisa tersedak karen itu."


Ibra segera beranjak diam-diam dari duduknya meninggalkan kinan yang masih sibuk dengan ponselnya, dia tidak mau kinan kembali nyerocos.


"Eh! Kok pergi." ucap kinan yang melihat ibra sudah menaiki motornya.


Kinan berlari kedepan, tapi langkahnya kalah cepat karena motor ibra sudah melesat meninggalkan rumah mewah itu.


"Ish! Menyebalkan. Padahal aku mau bertanya banyak." gumam kinan kesal.


***


Bram yang baru samapai dirumah nenek segera memarkirkan mobilnya, dia tidak menyangka kalau ternyata dirumah mertuanya sudah ada seorang satpam hingga memudahkan mobilnya masuk, tidak seperti biasanya dia harus menunggu di depan pagar sampai penghuni rumah keluar.


"Terimakasih, pak." ucap bram kepada pak satpam saat sudah keluar dari mobilnya.


Pak satpam yang ber name tag hasan itu, mengangguk kepala menjawab ucapan bram.


"Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam"


Bram segera masuk kedalam, yang ternyata nenek dan aisyah sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati sarapannya.


"Bram, tumben sekali. Apakah tidak ke kantor?" tanya nenek saat melihat bram yang mengucapkan salam.


Bram menyalami ibu mertuanya dengan sopan. Dan menganggukan kepala kepada aisyah. melihat bram aisyah segera undur diri ke dapur untuk membuat minuman.


"Aku sengaja mampir, bu. Ingin melihat keadaan kak aisyah, yang menurut kinan sempat dirawat dirumah sakit." jawab bram setelah mendudukan dirinya di sofa.


"Kak ais, tolong maafkan istriku." ucap bram, saat aisyah meletakan satu cangkir teh hangat di meja.


"Tidak apa, itu hanya ketidaksengajaan dan aku memang sedang tidak enak badan." jawab aisyah.


"Aku menyesal baru mengetahui ini, andai tau lebih awal aku akan menjenguk kak ais dirumah sakit."


"Terima kasih, bram."


Setelah meminta maaf dan berbincang dengan ibu mertuanya, bram undur diri, dia segera meluncur ke kantornya setelah pamit kepada ibu mertuanya dan juga aisyah.


Dia kini bisa bernapas lega karena sudah meminta maaf kepada kakak iparnya itu. Bram tidak habis pikir dengan sikap riana yang begitu membenci aisyah, padahal menurutnya aisyah sangat baik, dia bahkan rela merawat mertuanya yang bukan tanggungjawabnya melainkan tanggung jawab riana dan angga. Harusnya mereka berterimakkasih. Tapi malah melakukan hal tidak baik, di tambah lagi bram pun mendengar kalau angga sudah menjual rumah aisyah warisan satu-satunya peninggalan almarhum suaminya.


Bram sampai pusing memikirkan hal itu, padahal dari segi materi baik angga ataupun riana tidak ada yang kekuarangan harta, tapi entah kenapa mereka malah iri terhadap aisyah yang bahkan hidupnya jauh lebih susah daripada mereka. bram merasa mereka sudah hilang akal.


"Pagi pak." ucap sarah sekretaris bram.


"pagi."


"Maaf pak, didalam ada ibu riana."


Tanpa menjawab ucapan sarah, bram segera masuk kedalam ruangannya. Dan benar saja riana sudah duduk manis di sofa dengan wajah yang masih terlihat marah.


Bram tidak perduli kalau istrinya itu akan terus marah, karena baginya memberinya peringatan di awal akan jauh lebih baik.


"Kamu darimana? Bukankah harusnya sudah lebih dahulu sampai." tanya riana


"Dari rumah ibu" jawab bram. Dia segera membuka semua berkas yang harus dia tanda tangani.


"Untuk apa?"


"Apakah kamu kesini hanya untuk menanyaiku? Kalau iya, lebih baik kamu tunggu dirumah. Kita akan membahasnua setelah aku pulang." tegas bram.


Riana terbelalak mendengar suara tegas suaminya, mau tidak mau dia akhirnya mengalah dan keluar dari ruangan bram dengan menghentakan kakinya. Bram hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang kekanakan.

__ADS_1


Setelah riana pergi, pintu ruangan kembali terbuka dan ternyata ibra yang datang.


"Kak, tadi aku melihat kak riana." ucap ibra, dia duduk dimana tadi riana duduk.


"Ya, apakah kamu juga melihat wajahnya yang sangat menakutkan itu?" tanya bram tanpa melihat ibra, dia terus sibuk membuka lembar demi lembar berkas yang harus ditanda tangani.


"Ck! Untuk apa. Aku bahkan melarikan diri saat melihatnya dari belakang. Aku tidak mau mood ku jadi kacau." jawab ibra asal.


"Jangan kurang ajar! Dia kakak iparmu."


Ibra terbahak mendengar ucapan bram, yang menurutnya sudah bucin akut kepada riana.


"Ya baiklah."


"Ada apa kesini?" tanya bram setelah menyelesaikan semua berkas dan kembali menumpuknya.


"Hanya iseng saja. Aku bosan dirumah."


"Apakah kamu tidak berniat bergabung denganku?" tanya bram menatap manik hitam milik ibra.


"Tidak."


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa, tapi aku mau bertanya satu hal padamu dan kamu harus menjawabnya."


"Tanyakan saja." jawab ibra menenggak air yang baru saja dia ambil.


"Apakah kamu menyukai jihan?"


Uhuk


Uhuk


"Aataga!" ucap bram memberikan tisu kepada ibra saat semua minuman itu tumpah di meja.


"Aku pergi." ucap ibra segera beranjak dari tempat duduknya.


"Hei, ada apa denganmu? Aku hanya bertanya. kamu jawab saja kenapa harus pergi."


"Aku masih ada urusan yang lebih penting, daripada mendengar pertanyaan konyolmu itu." jawab ibra sebelum benar-benar keluar dari ruangan bram.


Bram melihat sesuatu yang lain dari adiknya itu, dan bram meyakini kalau ibra mempunyai perasaan spesial kepada jihan. Kini di otaknya mulai merencanakan sesuatu agar ibra dan jihan bisa bersatu seperti yang sudah dia dengar dari cerita kinanti.


Bram akan meminta jihan bekerja di perusahaan yang dikelola ibra, dia tidak tau kalau jihan bukan orang yang mudah untuk di ajak bekerja sama, apalagi jihan tidak pernah mau terikat dalam jadwal yang membuatnya harus melakukan hal yang sama setiap harinya. Jihan lebih suka bekerja bebas sesuai pemikirannya sama halnya seperti ibra.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2