
"Baiklah, ayo. Karrna kalaupun aku memintamu menunggu pagi itu akan percuma." Ucap ibrahim kala kinanti sudah berada di ambang pintu.
"Maafkan aku, paman. Aku memang tidak akan menunggu pagi, aku mau segera bertemu dengan papah."
"Kak jihan, terima kasih karena sudah memberitahuku." Ucap kinanti dengan wajah sendu. Dia sangat kacau saat tau kalau sang papah dalam keadaan tidak baik-baik.
Akhirnya kinanti menuju ke rumah sakit bersama dengan ibrahim dan riko. Wajah khawatir sangat terlihat jelas di wajah cantiknya, entah kenapa kinanti terus saja gelisah hingga dia terus meremas jari jemari tangannya, tentu saja pemandangan itu mengganggu penglihatan ibrahim yang juga ikut merasakan apa yang kinanti rasakan.
"Tenangkan dirimu, kinan." Ucap ibrahim akhirnya.
Tidak ada jawaban dari kinanti dia benar-benar tidak bisa mengendalikan kegelisahan yang menyerang hatinya. Rasa takut dan entah apa lagi yang bersarang di dalam otaknya.
"Paman, seandainya aku tidak datang malam ini. Apakah kalianpun tidak akan memberitahuku?" Tanya kinanti.
Degh
Ibrahim benar-benar tidak menyangka kalau pertanyaan itulah yang justru keluar dari mulut keponakannya.
__ADS_1
"Tidak, aku justru sengaja menemui jihan untuk membantuku mengabarimu. Kqrena aku tau kamu masih marah." jawab ibrahim. Dia sekarang mengerti kenapa riko mengajaknya bertemu dengan jihan.
Tidak lagi ada jawaban dari kinanti, dan akhirnya mobil yang riko kendarai sudah sampai di depan rumah sakit internasional. Kinanti segera berlari ke ruangan IGD seperti yang dia ketahui kalau bram di rawat di sana.
Sampai di depan ruangan tampak sepi tidak ada siapapun disana, hingga kinanti kembali berbalik badan menuju tempat informasi namun langkahnya terhenti kala mata bulatnya menangkap sosok riana yang sedang menangis di peluk sang kakak.
Entah apa yang kinannti pikirkan hingga jiwanya seketika melayang melihat sang ibu menangis, pikirannya terus mendoktrin kalau sudah terjadi hal yang tidak di inginkan. Ibrahim yang melihat kinanti hanya berdiam mematung segera mengikuti arah pandang sang keponakan. Diapun mendapati riana yang masih menangis. Entah tangisan itu asli atau palsu karena kenyataannya semua terjadi karrna ulahnya.
Dengan cepat ibrahim menghampiri kakak beradik itu, riko yang melihat keadaan akan kembali memanas segera mengekor di belakang ibrahim.
Srakkk...
"Dia sudah mati!" jawab angga dengan seringai di bibirnya.
Bugh!
Satu pukulan mendarat kembali di wajah angga hingga sudut bibirnya kembali berdarah. Kinanti hanya diam membisu melihat dan mendengar semua itu.
__ADS_1
"Pukul saja! Itu semua tidak akan mengubah keadaan. Kalau kakakmu sudah mati. Ha ha ha ha ....." Ucap angga dengan tawa yang menggelegar. Dia tidak menyadari kalau semua ucapan nya di dengar oleh sang keponakan.
"Bagaimana ibrahim? Bukankah mudah membuatmu hancur. Bahkan sehancur-hancurnya. Satu tepukan dua lalat mati!" Sambung angga dengan wajah bahagianya.
Ibrahim luruh seketika, seakan tenaganya habis terkuras hanya dengan mendengar kabar kematian sang kakak. Entah kenapa rasa kesal yang menggebu kini hanya tinggal penyesalan. Menyesal karena tidak dari dulu memisahkan kakaknya dari iblis seperti riana.
Bruk...
"Kinanti!" teriak riana, saat melihat kinanti yang jatuh pingsan. Riana dan angga baru menyadari keberadaan kinanti.
"kinanti, apakah dia mendengar semuanya." gumam angga.
Ibrahim segera meraih kinanti yang tidak jauh darinya. Dia segera membawa kinanti menjauh dari riana dan angga.
"Ibrahim!! Mau kamu bawa kemana dia? Hah!!" teriak riana.
Tanpa memperdulikan teriakan riana, ibrahim diikuti riko terus berlari mencari dokter agar kinanti segera di tangani.
__ADS_1
"Ibrahim, berhenti!" teriak riana.
Bersambung...