
Brakk
"Bagaimana bisa kejadian ini tidak kamu ketahui, rikoo!" Teriak ibra kesal.
"Apa saja yang kamu lihat disana?"
"Maaf bos, saya memang salah. Terakhir ibu aisyah keluar rumah dan saat akan mengikuti tiba-tiba saja ada seorang wanita minta tolong." Jawab riko.
"Apakah wanita itu cantik?"
"Ya, sangat cantik."
"Apa yang dia mintai pertolongan?"
"Hanya bertanya jalan."
"Hanya itu?"
"Ya, memangnya apa lagi bos?"
Pletak
Ibra benar- benar menyentil kening riko tang semakin hari semakin menyebalkan. Bagaimana bisa dia melupakan tugasnya hanya demi meladeni seorang gadis.
"Cari infonya dan laporkan segera sebelum pagi."
"Baik, tapi..."
"Tidak ada tapi."
"Ya, baiklah."
"Pastikan tidak ada gadis manapun yang akan mengacaukan semuanya."
"Saya tidak bisa menjamin bos, bagaimanapun saya pria normal!"
"Terserah!"
Ibra segera pergi dari hadapan riko, bicara dengan bujang lapuk itu hanya membuat tensi darahnya memburuk.
Sementara itu di kediaman angga...
"Astagfirallah! Dimana aku?" Ucap aisyah saat sudah sadar dari pingsannya. Kepalanya yang masih terasa berat membuatnya kembali tertidur di atas kasur. Ingatannya yang mulai bekerja segera mengingat jihan yang pastinya sedang mengkhawatirkan nya. Di rogohnya kantong baju gamisnya mencari ponsel yang seingat nya di letakannya di kantong gamisnya. Namun sayang ponselnya tidak dia temukan, entah kemana ponselnya. karena khawatir terhadap jihan dipaksanya kepala yang berat untuk berdiri dan menuju pintu, lagi dan lagi harapannya gagal, karena pintu terkunci.
Brak
Brak
Brak
"Riana, buka pintunya!!" Teriak aisyah di dalam sebuah kamar yang tanpa jendela. Aisyah berpikir dia dibawa kerumah riana karena dialah yang mengajaknya pergi dan bicara di sebuah cafe, namun tiba-tiba saja aisyah merasa mengantuk dan tidak tau apalagi yang terjadi. Karena saat sadar aisyah sudah berada di dalam kamar kecil yang hanya ada pentilasi kecil dipaling atas.
__ADS_1
"Rianaaa!!" Teriak aisyah lagi. Namun semuanya sia-sia karena tidak ada satupun yang perduli.
"Pah, kenapa dia dibawa kesini? Dia sangat berisik!" Ucap amanda setelah dia tau dari cerita angga.
"Karena hanya disini yang aman. Kamu tau sendirikan dirumah tante riana, disana ada bram dan juga si brengs*k ibrahim itu." Jawab angga masih dengan mode santainya. Dan kembali menyeruput kopi hitam kesukaannya.
"Iya, tapi dia berisik sekali! Kenapa tidak di bawa ke vila papah saja."
"Kamu benar juga, sangat berbahaya kalau disini. Papah yakin jihan pasti mencari kesini setelah semalam dia mencari di rumah tantemu." Ucap angga. Dia tidak kepikiran akan hal itu, padahal semalam riana mengabarinya kalau suami dan adik iparnya sedang mencari aisyah atas permintaan jihan.
"Tunggu apa lagi, pah. Ayo cepat bawa dia. Lagipula aku sudah jengah mendengar teriakan nya."
"Baiklah, papah akan meminta bos riki mengirim anak buahnya."
Amanda segera pergi meninggalkan papahnya yang akan menelpon temannya itu.
Namun rencana hanya tinggal rencana, karena jihan sudah terlebih dahulu merampas ponsel angga yang baru saja akan menelpon riki, entah sejak kapan gadis itu masuk. padahal angga sudah mewanti-wanti semua sekurity rumahnya agar mengatakan dia sedang keluar negri andai jihan datang mencari .
"Kamu!" Angga benar-benar dibuatnya terkejut. Bahkan jantungnya hampir saja lompat dari tempatnya saat melihat jihan didepan nya.
"Ya."
"Dasar tidak sopan! Masuk kerumah orang tanpa permisi."Hardik anga menutupi kekhawatiran nya. Namun jihan bukanlah gadis bodoh yang bisa dengan mudah di bodohi. Bahkan sudah sejak malam tadi dia memantau rumah angga setelah di antar pulang oleh zia, dia memutuskan bertindak sendiri karena menurutnya tidak ada yang bisa dia percaya siapapun itu.
"Aku pikir paman sedang diluar negri seperti yang sekuritymu katakan." jawab jihan dengan senyum mengerikan.
"Apa... Apa maksudmu?" Tanya angga gugup.
"Tapi apa?"
"Tapi aku bisa menjadi lebih mengerikan dari malaikat maut, kalau sampai aku menemukan apa yang aku cari di rumah ini."
Degh!
Seketika wajah garang angga berubah pucat pasih. Angga sangat tau kalau jihan ahli dalam hal beladiri, bahkan untuk menghajarnya bukanlah hal yang sulit. itulah kenapa dia hanya bisa menggunakan cara-cara licik untuk membuatnya dan aisyah sengasara.
"Apakah paman sedang memgalami anemia akut?" Tanya jihan santai masih dengan senyuman, namun tidak dengan mata dan telinganya yang terus waspada siapa tau dia mendengar atau melihat sesuatu yang bisa mengantarkannya kepada ibunya.
"Apa maksudmu? Bicaramu sangat tidak sopan."
"Aku takut paman menderita anemia, karena wajah paman terlihat sangat pucat! Atau..." Sengaja jihan menggantung ucapannya dia hanya ingin tahu ekspresi yang angga tunjukan demi untuk meyakinkan hatinya.
"Pergilah! Aku akan segera pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan." Usir angga. Dia tidak mau jihan mendengar teriakan Aisyah. Tapi entah kenapa wanita itu berhenti teriak, atau mungkin dia lelah. Itu menguntungkan untuk angga karena jihan tidak akan menemukan ibunya.
"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum membawa ibuku pulang!"
"Hei! Memangnya kamu siapa? Hah! Ini rumahku dan tidak ada ibumu yang miskin itu disini!"
"Benarkah? Bagaimana kalau aku menemukan nya disini."
"Apa kamu berpikir aku akan mengizinkanmu mengacak rumahku, hah!"
__ADS_1
"Dasar tidak punya adab. Sudah miskin tidak tau aturan!"
"Apa perduliku! Aku hanya ingin ibuku. Tidak perduli kamu mengizinkan atau tidak aku akan tetap mencari ibuku disini."
"Jangan macam-macam atau aku akan memanggil security agar menyeretmu dengan paksa."
"Silahkan saja! Panggil semuanya. Aku tidak takut, aku akan tetap memeriksa semua rumah ini tanpa terlecuali."
"Dasar keras kepala!"
"Security!!!" Teriak angga dengan penuh tenaga.
Tapi bukannya security yang masuk, melainkan ibra dan riko.
"Kalian!" Ucap angga dengan jantung yang sudah berdegup kencang.
Kedatangan ibra dan riko membuat jihan bertanya-tanya. Bagaimana bisa mereka di rumah angga.
"Pak riko." Gumam jihan yang masih dapat didengar riko dan ibra.
"Securityyy!!!!" teriak angga lagi. Dia mengabaikan kedatangan ibra dan riko.
Namun security yang di panghil tidak juga menampakan batang hidungnya.
"Berhenti berteriak, paman! Securitymu tidak akan datang. Karena mereka sudah aku amankan." Ucap jihan.
Ibra dan riko saling pandang seakan sedang melakukan telepati melalui pandangan mata mereka.
"Jadi, yang mengikat semua securitu itu, kamu?" Tanya riko akhirnya.
"Ya, karena mereka sangat merepotkan!" jawab jihan datar.
"Dasar gadis si*lan!" Hardik angga dengan wajah merah padam.
"Apq yang kalian lakukan disini! Pergi semuanya." Teriak angga lagi.
"Katakan baik-baik, dimana ibuku?"Tanya jihan penuh penekanan.
"Aku sudah bilang tidak tau! Apakah kamu masih tidak paham juga, hah?"
"Aku tidak percaya padamu!! Apa kamu tidak mengerti? Katakan atau aku potong lidahmu agar sekalian tidak bisa bucara!" Teriak jihan akhirnya mengeluarkan kekesalannya.
Glek
Angga benar-benar tidak bisa berkutik, walaupun mulutnya melawan tapi hatinya sangat ketar ketir. Pasalnya jihan tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Papah, ada a... Apa?" Tanya amanda yang terkejut saat melihat jihan.
Bersambung...
Malam sahabat semuanya....
__ADS_1
Terima kasih yah masih setia membaca karyaku, dan semoga selalu suka....