
"Apa maksudmu? Kenapa jangan? Aku bebas mau pergi atau tetap disini?" jawab jihan. Dia tidak mengerti kenapa ibra bilang jangan.
"Gak ada maksud apa-apa. Hanya saja, kasihan ibu ais."
"Kasihan kenapa? Dia ibuku."
"Aku tau. Tapi kalau harus mencari rumah lagi akan sangat sulit.... Emm, baiklah. Biar aku yang tidak kesini, asal jangan pindah!" Ucap ibra akhirnya. Dia tidak mau kalau jihan sampai pindah rumah.
"Bu, ayo masuk." Ajak jihan. Dia mengapit tangan ibunya untuk masuk. Ibra mengekor di belakang mereka, melihat ibra mengekor jihan segera menutup pintunya.
Brak
"Aww! Astaga, jihan." Teriak ibra. Dia mengusap hidungnya yang sangat sakit.
"Aku sudah bilang kamu pergi! Bukan salahku jika hidungmu harus berkenalan dengan pintu itu." Teriak jihan dari dalam. Dia benar-benar puas.
"Tapi, bagaimana dengan baju-baju ini?!"
"Apa perduliku! Lagi pula itu bukan bajuku. Bawa saja sekalian aku dan ibu tidak butuh." Kembali jihan harus berteriak menanggapi pertanyaan ibra.
Aisyah hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena melarangpun akan percuma kalau jihan sedang seperti itu. Ditambah lagi soal riana tadi, aisyah terus kepikiran soal nenek yang sakit dan ingin bertemu. Entah apakah ucapan riana benar atau hanya agar dirinya kembali merawat nenek.
__ADS_1
"Bu, apa yang sedang ibu pikirkan?" Tanya jihan. Karena sejak tadi dia memanggil namun aisyah tidak bergeming dari tempatnya.
"Eh! Tidak ada." jawab aisyah bohong.
"Benarkah?"
"Iya, sudah kamu lebih baik mandi sebentar lagi dzuhur. oh ya, kok kamu sudah pulang? Bukankah ini hari pertamamu masuk kerja?"
"Iya, jihan sedang istirahat, dan tiba-tiba saja pak riko memintaku untuk makan siang di rumah saja. Jihan pun bingung bu, pak riko sangat baik bahkan seperti mengistimewakan jihan."
"Kenapa bingung? Bukankah itu bagus, artinya kamu akan pulang setiap jam makan siang."
"Aku rasa tidak. jihan tidak enak dengan karyawan lainnya."
"Ibu benar, biar nanti di kantor aku akan berterima kasih pada bos riko."
"Eh! Tapi... Apakah ibra sudah pulang?" Tanya aisyah lagi. Karena di depan rumahnya sudah tidak lagi terdengar suara ibra.
"Mungkin, aku tidak tau." jawab jihan dan pergi ke kamarnya untuk melaksanakan solat dzuhur terlebih dahulu sebelum makan siang.
"Lain kali jangan terlalu galak. Nanti ibu lama punya mantu apalagi cucu." Ucap aisyah. Dan itu berhasil menghentikan pergerakan jihan yang akan menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
Melihat jihan yang tidak jadi menutup pintu, aisyah segera pergi dari hadapan anaknya itu. Dia tidak mau mendapat pertanyaan beruntun dari sang anak.
"Apa maksud ibu?" Gumam jihan. Dia menutup pintu setelah aisyah pergi kedapur.
Sementara itu dikediaman nenek...
Riana dan angga benar-benar pusing dengan permintaan sekaligus ancaman nenek. Pasalnya jika mereka tidak bisa membuat jihan dan aisyah tinggal dirumah itu lagi. Maka semua harta milik nenek akan dihibahkan untuk yayasan. Angga benar-benar kesal kepada ibunya. Susah payah mereka menyingkirkan keduanya, kini harus dengan terpaksa meminta kembali.
"Bagaimana, ri? Apakah mereka mau?" Tanya angga yang melihat riana baru saja masuk dengan wajah kesalnya.
Sebenarnya tanpa bertanyapun angga sudah tau, pasti jawaban nya tidak. Namun dia berpikir apa salahnya bertanya siapa tau saja jawaban nya iya walaupun ada badai di wajah riana sang adik.
"Kamu sudah tau jawaban nya, kak. Untuk apa bertanya." Jawab riana semakin kesal.
"Sudah aku duga."
"Bukan itu saja, aku bahkan di usir oleh si jihan si*lan itu."
"Benarkah? Tapi bukannya katamu jihan sudah bekerja dan bagaimana bisa jam segitu dia di rumah?"
"Entahlah! Aku tidak tau. Kakak tanya sendiri saja!" riana benar-benar kesal. awalnya kalau tidak ada jihan, riana akan memaksa atau bahkan menyeret aisyab agar mau datang kerumah ibunya, kalqu ibunya sudah bisa di taklukan, dia yakin jihan akan ikut juga. Tapi rencananya gagal karena tiba-tiba saja gadis itu datang.
__ADS_1
Bersambung...