
"Bu, apa maksud ibu?" jihan kembali mempertanyakan maksud dari ucapan ibunya.
Ibra menatap aisyah tanpa berkedip karena rasa oenasaran yang begitu besar, bagaimana bisa aisyah mengatakan kalau ibra akan di tangkap warga.
"Itu, kamu tidak sadar apa yang ibra pakai." tanya aisyah menunjuk seprai yang sudah di lipat dan di letakan di meja.
"Apa! Aku gak paham loh, bu." ucap jihan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia benar-benar dibuat pusing oleh ibunya.
"Seprai itu, jihan. Ibu gak tau darimana ibra mendapatkan seprai itu, barangkali dia khilaf ambil jemuran tetangga depan sana. Bagaimana kalau orangnya mencari dan mengira ada maling jemuran. Ibra bisa di keroyok warga, apa kamu tidak kasihan." jawab aisyah dengan mata menyelidik ke arah ibra. Karena terdapat beberapa kantong plastik lainnya juga.
"Apa!" jihan dan ibra kembali terkejut, dengan ungkapan sang ibu. Tapi sedetik kemudian jihan tertawa terbahak. Bahkan dia sampai mengeluarkan airmata karena benar-benar tidak percaya dengan apa yang ibunya katakan.
"A, hahaha... Aku kok berharap itu benar ya, bu. Biar dia sekalian aja di arak keliling kampung." jihan kembali tertawa. Bahagia sekali dia, sedangkan ibra hanya diam entah apa yang dipikirkan nya. Dia benar-benar tidak percaya kalau dirinya yang tampan dan banyak uang itu bisa di kira maling jemuran.
"Hah, ibuku memang paling bisa bikin aku bahagia. Astaga! Sakit kali perutku." ucap jihan.
"Sudah puas tertawanya, hah!" ucap ibra kesal.
"Belum, aku sungguh bahagia. Membayangkan bagaimana kamu di arak keliling kampung."
"Astaga! Ini bukan hasik maling, bu. Biar aku jelaskan." ucap ibra.
"Eh! Benarkah. Kalau begitu ibu salah yah." ucap aisyah merasa tidak enak hati.
"Ibu tidak salah kok, yang salah itu memang dia bu. pagi-pagi sudah maling jemuran orang." jawab jihan.
"Ini bukan hasil maling, ini sengaja aku beli semalam. Karena di rumah ini kasurnya belum di pasang seprai." jawab ibra keceplosan.
"Ya ampun, maafkan ibu ya. Ibu benar-benar sudah dzolim menuduh kamu tanpa bertanya."ucap aisyah.
"Tidak apa bu, tadi waktu datang aku lupa, hingga barang-barang ini masih di sini. Harusnya tadi sudah aku berikan kepada ibu ais." Ibra segera meraih seprai dan beberapa plastik yang dia bawa dan memberikannya kepada aisyah.
Aisyah segera masuk untuk menyimpan apa yang ibra berikan, diapun kembali menemui ibra dan jihan yang masih berdiri di depan pintu tanpa pergerakan, terlihat jihan sedang berpikir. Wajahnya sangat serius memikirkan sesuaty yang baru saja dia dengar.
"Bengong mulu. Kesambet hantu kontrakan baru nyaho!" ucap ibra asal.
__ADS_1
"Tunggu, tunggu. Ini ada yang salah deh, tadi kamu bilang apa? Kamu bilang di rumah ini kasurnya belum pakai seprai. Darimana kamu tau?" tanya jihan dengan tatapan menyelidik. Matanya begitu tajam melihat wajah tampan ibra.
"Eh! Emang benar yah. padahal aku hanya asal bicara." jawab ibra bohong.
Jihan semakin intens menatap mata ibra, entah kenapa hatinya mengatakan kalau ibra sedang membohonginya. Sudah dua kali ucapan ibra yang membuat jihan menjadi curiga.
"Hei, berhenti menatapku. Aku tau kalau aku memang tampan, tapi caramu melihat membuatku ilfil." ucap ibra mengalihkan wajahnya dari tatapan jihan yang penuh selidik.
Ibra merasa harus lebih berhati-hati lagi, karena sepertinya jihan mulai curiga, gadis itu memang terlalu cerdas untuk mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut ibra.
"Jihan, ayo. Jangan terlalu curiga kepada orang lain, mungkin memang hanya kebetulan saja." ucap aisyah menyudahi kecurigaan jihan, walaupun aisyahpun memang sedikit curiga kepada ibra. Tapi, entah kenapa hatinya mengatakan kalau pria didepannya itu hanya sedang mencoba memberikan perhatian saja.
"Baiklah"
Jihan dan aisyah segera keluar rumah untuk mencari bahan agar bisa dimasak. Ibra menghembuskan napas besar ketika jihan sudah tidak lagi terlihat, sungguh dadanya sangat sesak mendapat tatapan intens dari jihan. Dia takut jihan mengetahui rencananya. Kalau sampai terjadi maka semuanya akan gagal. Walaupun rencananya untuk memberikan pekerhaan kepada jihanpun belum tentu berhasil. Tapi setidaknya ibra lega karena jihan dan aisyah sudah mempunyai tempat tinggal.
Ibra segera menghubungi riko, dan membuat janji bertemu di cafe biasa.
****
"Apa rencanamu kali ini, ri?" tanya angga kepada riana yang masih asik dengan ponselnya.
"Untuk apa lagi, bukankah ibu memintamu agar tidak lagi menemui mereka."
"Iya, tapi aku tidak akan mengikuti apa yang ibu katakan. Jujur saja aku masih belum puas. Andai saja suamiku tidak ikut campur.... Arghhh! Menyebalkan."
Riana masih tidak lupa apa yang bram katakan kepadanya, dia bahkan mengancam akan menceraikan riana, andai dia tidak mau mendengar ucapan suaminya.
flasbak on
"Aku harap kamu mau mendengarku kali ini." ucap bram saat riana baru saja memasuki kamarnya.
"Apa yang sedang kamu bicarakan, pah?" Tanya riana tanpa perduli wajah suaminya sudah sangat kesal.
"Jangan pura-pura bodoh. Aku tau kamu dan angga sudah merencanakan ini semua. Asal kamu tau ri, ibra ada di pihak jihan. Dan kamu tau, dia sekarang sudah menyiapkan segalanya demi membela jihan dan aisyah." ucap bram penuh penekanan.
__ADS_1
"Dan itu artinya, kamu akan menghadapiku juga." sambung bram dengan mata menatap tajam riana.
Degh!
Sungguh riana begitu sangat takut melihat sorot tajam mata suaminya. Selama ini baru kali sekarang bram begitu marah kepada riana.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi, atau aku akan menceraikanmu. Andai kamu tidak mau mendengarkanku."
Glek
Susah payah riana menelan salivanya, bahkan napasnya ikutan sesak mendengar semua ultimatum yang bram berikan kepadanya.
flasback off...
"Kamu tenang saja, ri. Aku akan membuat rencana lain, sebab si tua bangka riki itu juga sangat menginginkan jihan." ucap angga. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu.
"Kamu jauhkan saja adik iparmu itu dari jihan, karena dia akan membuat kita sulit menyentuh gadis miskin itu." sambung angga.
Riana pun mulai memikirkan rencana, entah rencana apa lagi.
"Bagaimana perjodohan kinanti dan najib? Apakah berjalan lancar." Tanya angga.
"Ck! Jangan pura-pura tidak tau, kamu bahkan melakukan penjebakan, hanya karena gadis itu disukai najib." jawab riana.
"Ya, kamu benar. Entah apa istimewanya gadis miskin itu."
Riana tidak lagi menjawab ucapakan angga, dia sibuk dengan ponsel nya berbalas pesan dengan seseorang yang akan membantunya menyingkirkan jihan. Mereka tidak menyadari kalau seseorang sudah mendengar semua percakapan mereka..
"Kalian benar-benar jahat! Bisa-bisanya kalian merencanakan hal yang sangat memalukan... Hiks..hiks" Air mata mulai menetes di sudut matanya
"Benar kata jihan, suatu hari nanti saat kebenaran itu terungkap. Maka hari itu juga penyesalan terbesar akan dirasakan."
"Ini bahkan belum satu minggu, tapi allah sudah menunjukan siapa yang benar dan siapa yang salah." Gumamnya.
__ADS_1
Hatinya benar-benar sakit mengetahui kenyataan nya. Pantas saja tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba dia ingin mengunjungi rumah angga, ternyata allah menuntunnya agar memgetahui dan mendengar langsung kebenarannya...
Bersambung