Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 20


__ADS_3

"Riana, ada apa ini? dan, kapan kamu datang?" Tanya nenek saat sudah di depan pintu kamar aisyah.


Kinanti mengekor dibelakang neneknya, dan melihat jihan yang terus menyebut ibu sambil terus menepuk-nepuk pipinya.


"Kak jihan, ibu kenapa?" tanya kinanti di balik punggung neneknya.


Mendengar pertanyaan kinanti, mata nenek beralih melihat jihan dan aisya yang berbaring dipangkuan jihan.


"Ya allah, ais kamu kenapa?" tanya nenek histeris dan masuk melewati riana. Melihat itu riana semakin kesal bahkan anak dan ibunya lebih mengkhawatirkan mereka daripada bertanya tentang dirinya..


"pakai minyak kayu putih." ucap nenek.


Jihan yang tidak menyadari akan hal itu, merutuki dirinya sendiri karena sedari tadi hanya menepuk dan memanggil nama ibunya. hatinya merasa takut akan kehilangan sosok orangtua yang tinggal satu-satunya. Hingga membuatnya melupakan bagaimana cara menyadarkan orang yang pingsan.


Kinanti bergegas mengambil minyak kayu putih didalam kamarnya, dan ingin segera memberikan nya kepada nenek.


"Kamu, ayo ikut mamah pulang!" riana menarik tangan kinanti saat melewatinya berulang kali demi untuk memeberikan perhatiannya kepada aisyah yang juga dipanggilnya ibu.


"Mah, nanti kita bicara. Ibu ais sedang butuh ini." jawab kinanti memperlihatkan sebotol minyak kayu putih.


"Itu bukan urusanmu! Dan berhenti memamggil wanita miskin itu dengan sebutan ibu. Dia bukan ibumu." bentak riana kesal. Hingga membuat botol minyak kayu putih yang kinanti pegang terlepas dari tangannya.


Mendengar keributan riana dan kinanti, jihan segera meletakan kepala ibunya di bantal dan segera menghampiri kinanti. Dia mengambil minyak kayu putihnya dan melewati ibu dan anak itu tanpa sepatah katapun.


"Lihatlah! Bahkan orang yang kamu perhatikan. Tidak mengatakan apapun dan hanya melewatimu begitu saja." ucap riana saat melihat jihan mengambil minyak itu tanpa ekspresi.


"Mah, kak jihan sedang panik. Lebih baik mamah pulang saja." jawab kinanti kesal terhadap riana, karena selalu saja menhina jihan dan isyah.


"Baru satu hari kamu disini, tapi sudah banyak membangkang! Jauhi mereka. Mamah tidak mau kamu tertular miskin seperti mereka." hardik riana. Dan pergi begitu saja meninggalkan kinanti yang air matanya sudah hampir luruh.


Kinanti menyesal, karena jihan harus mendengar semua ucapan ibunya yang begitu menyakitkan. Tidak mau berlarut dalam penyesalan, kinanti segera menghapus air matanya dan menghampiri jihan di dalam kamar aisyah.


"Nek, bagaimana ibu ais?" tanya kinanti saat sudab berada didalam kamar.


"Alhamdulilah, sudah sadar. kamu telpon dokter agar datang kesini. Untuk melihat keadaan aisyah." pinta nenek kepada kinanti.


Kinanti segera melakukan apa yang nenek suruh. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi dokter keluarga.


Tidak butuh waktu lama, dokter keluarga nenek sudah datang dan langsung melihat keadaan aisyah


"Bagaimana ibu saya dok?" tanya jihan tidak sabar.


"Tidak apa-apa, bukan hal yang mengkhawatirkan. Hanya saja darahnya sangat rendah, istirahat yang cukup dan jangan lupa minum obat yang saya resepkan." jawab dokter itu, dan menuliskan beberapa resep obat.


Setelah memeriksa dan meresepkan obat, sang dokterpun undur diri. kinanti mengantar sang dokter sampai kedepan rumah nenek.

__ADS_1


Baru saja menutup pintu, suara mobil kembali terdengar membunyikan klakson. Kinanti kembali membuka pintu dan mendapati ibra didalam mobilnya.


"Ada apa? Apakah om disuruh ibu menjemputku?" tanya kinanti. Dia tidak langsung membukakan pagar rumah nenek.


"Ck! Sejak kapan aku menjadi pesuruhnya." jawab ibra.


"Lalu"


"Buka dulu pintunya."


Kinanti segera membuka pintu pagar yang dikunci dan membiarkan ibra mendorongnya hingga muat untuj satu mobil masuk.


"Bilang sama nenekmu, agar dia mempekerjakan seorang satpam, kalau begini sangat merepotkan." ucap ibra saat baru saja memarkirkan mobilnya di halaman luas itu.


"Akan aku pikirkan."


"Bukan dipikirkan, tapi beritahu."


"Iya, iya. Lagipula siapa yang menyuruh om datang, apakah om kesini hanya untuk mengomentari pagar rumah nenek."


"Iya." jawab ibra menjawil hidung kinanti yang mancung.


Mereka berdua segera masuk, dan kinanti segera membuatkan minuman untuk ibra yang sudah disuruhnya duduk di sofa ruang tamu.


"Wah, ada tamu rupanya." ucap nenek saat melihat ibra duduk diruang tamu.


"Apa kabar, nek?" tanya ibra sopan.


"Alhamdulilah baik, kamu bagaimana? Apakah sudah punya istri?"


"Jangan bertanya seperti itu, kesan nya aku sudah sangat tua sekali."


"Kamu masih saja sama, kapan-kapan segera ubah penampilanmu ini, jangan seperti preman pasar. Kalau begini terus mana ada gadis yang mau denganmu."


"Om ibra sudah menemukan gadis itu, nek." celetuk kinanti dari arah belakang.


"Jangan berisik!" ucap ibra saat kinanti meletak segelas teh panas di meja.


"benarkah, apakah dia cantik?" tanya nenek antusias.


"Jangan dengarkan dia, nek. rasa-rasanya setelah dijodohkan. Otaknya jadi ikut korslet." ucap ibra kesal.


Nenek dan kinanti terkekeh melihat sisi lain dari seorang ibra yang dingin dan jarang tertawa itu.


"Kalau memang sudah ada, jangan menunggu lebih lama lagi. Segera saja halalkan gadis itu." ucap nenek mengabaikan wajah ibra yang semakin kesal.

__ADS_1


"Ah, ya. Baiklah. Akan aku bawakan beberapa ke hadapan nenek." jawab ibra asal.


Mendengar ucapan ibra nenek dan kinanti sontak terkejut, bagaimana bisa dia membawa beberapa. Apakah itu artinya ada lebih dari satu.


"Om jangan bercanda, satu saja sangat sulit. Bagaimana bisa om mengatakan beberapa." celetuk kinan asal.


ibra menyentil kening kinanti yang menurutnya sangat bawel, dia merasa kinanti sangat mirip dengan riana yang bawel. Hingga membuat ibra segera pergi dari rumah karena kedatangan riana yang terus marah-marah, entah marah dengan siapa.


"Nenek!" teriak jihan dari dalam kamarnya.


Nenek dan kinanti sangat terkejut mendengar teriakan jihan, bagaimana tidak. Jihan selalu bicara ngirit dan belum pernah teriak seperti ini.


"Ya allah, jihan. Ada apa?" gumam nenek. Segera bangkit dan menaiki tangga. Kinanti dan ibra mengekor dibelakang nenek.


Tap


Tap


Tap


"Jihan, ada apa?" tanya nenek saat pintu kamar aiaya sudah dibuka, dan melihat jihan yang sedang memeluk ibunya.


"Nek, ibu pingsan lagi. Setelah tadi muntah-muntah." jawab jihan, dengan air mata yang sudah mengalir di sudut matanya.


Ini kali pertama nenek melihat jihan menangis, setelah lama tinggal dirumahnya.


"Ibra, angkat aisyah. Dan kita bawa ke rumah sakit."


Ibra dengam cepat meraih aisyah dan membopongnya menuju mobil. jihan dan kinanti mengekor dibelakang ibra yang sedikit berlari.


"Nek, tunggu saja dirumah. Biar jihan dan ibra yang kerumah sakit." ucap ibra saat nenek hendak masuk kedalam mobil.


"Tapi,,,"


"Kinanti, jaga nenek." sambung ibra mengabaikan penolakan yang akan diucapakan nenek.


"Baiklah." jawab kinanti dan dia segera membuka kunci pagar. Agar mobil segera keluar menuju rumah sakit.


"Katakan pada nenek, agar segera mencari satpam." teriak ibra yang sempat-sempatnya memikirkan hal itu. Hingga membuat jihan kesal karena teriakan ibra begitu sangat memekakan telinganya.


"Cepatlah!" ucap jihan.


Ibra segera menancap gas dan mengemudikan mobil dengan kecepatan luar biasa, hingga rumah sakit hanya ditempuh dalam hitungan 10 menit. Untung saja jihan sudah terbiasa dengan kebut-kebutan, kalau tidak bisa-bisa dia kena serangan jantung karena ulah ibra yang membawa mobil seperti itu.


Ibra segera membopong aisyah, dan berteriak memanggil para perawat dan dokter. Membuat jihan hampir tidak percaya manusia batu didepannya itu bisa khawatir juga, bahkan itu ditunjukan untuknya dan ibunya yang selama ini tidak seorangpun mengkhawatirkan keadaannya kecuali nenek.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2