Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 13


__ADS_3

Najib terus saja mondar-mandir di ruang tamu rumahnya, perasaannya entah kenapa begitu ingin bertemu dengan jihan.


"Sebenarnya, ada apa dengan diriku." gumam najib.


Dia terus saja menepuk-nepuk dadanya yang semakin berdebar.


"Assalamu'alaikum."


Ceklek


"Wa'alaikumsalam, tante." ucap najib saat pintu sudah dibuka.


Zia duduk di sofa ruang tamu najib, pandangannya sangat tajam menatap sang keponakan. Tapi yang ditatap seakan tidak perduli, sebab najib masih merasakan jantungnya yang terus berdebar tidak biasanya.


"Kamu, kenapa? Duduk!" pinta zia saat melihat keponakannya masih terus berdiri dengan gelisah.


Najib duduk berhadapan dengan zia, namun entah kenapa mulutnya seakan terkunci. Semua yang ingin dia katakan kepada tantenya hilang entah kemana.


"Kamu meminta tante datang hanya untuk melihatmu bengong, begitu?" tanya zia sarat akan sindiran.


"Hei, kamu sungguh tidak akan bicara! Baiklah. Kalau begitu tante akan menemui jihan." ucap tante zia lagi, saat najib masih terus diam tanpa mengatakan hal apa yang tadi dia sampaikan di telpon.


"Aku ikut!" ucap najib cepat.


"Ada apa ini?"


"Kamu sejak tadi diam saja, tapi setelah tante bicara tentang jihan. Kamu sangat semangat." zia menatap najib penuh selidik


"Jangan melihatku seperti itu, aku hanya butuh jalan-jalan." jawab najib.


"Bukankah, kemarin kamu baru dari rumah nenek?" tanya zia.


"iya"


"Dan, kamu semalam telpon mau membicarakan sesuatu, tapi malah diam saja. Dan sekarang apa? Kamu malah bilang butuh jalan-jalan. Ada apa?" tanya zia yang mulai curiga dengan keanehan keponakan nya.


"Sebenarnya aku mau mintavpendapat tante tentang kinanti, apakah dia baik?" tanya najib


"Benarkah kinanti? Atau jihan?" tanya zia tanpa menjawab pertanyaan najib.


"jihan, eh! Kok jihan sih. Emmm,,, maksudku kinanti, tante." jawba najib bingung.


"Ah, ya. Sekarang tante paham."


"Kinanti, masih sekolah. Apakah kamu mencintainya?" tanya zia.


"Tidak!"


"Lalu?"

__ADS_1


"emm.. Sebenarnya, tante riana berencana mmenjodohkanku dengan kinanti. Dan aku jawab akan memikirkan nya." Ucap najib ragu.


"Astaga! Najib. Kamu itu laki-laki dewasa. Harus bisa memutuskan. Mana yang kamu mau dan tidak!"


"Tante, tidak mengajarimu menjadi laki-laki seperti ini. Masa kamu kalah sama jihan sih!" ucap zia.


"Maksud tante?" najib bingung kemana arah pembicaraan tantenya.


"Lihatlah, jihan. Biarpun dia wanita tapi dia tegas dan bisa melindungi apa yang harus dia lindungi. Dan diapun bisa mengambil keputusan tegas tanpa melihat siapa yang meminta. Kalau dia suka atau tidak suka, dia akan langsung bicara tanpa mengulur waktu."


"Harusnya sebagai laki-laki kamu bisa tegas. Masa laki-laki kayak begini." sambung zia dengan melirik najib.


"Aku, tidak seperti yang ada dipikiran tante. Tapi,,, "


"Ah, kan. Pasti ada tapinya."


"Jangan melempem, macam kerupuk kesiram air."


"ya, iya. Baiklah! Bicara dengan tante, serasa bicara dengan jihan." ucap najib kesal.


"Ya, bagus. Jadi kamu sudah tau apa yang harus kamu katakan?" tanya zia memastikan.


"Sudah, aku akan menolaknya. Lagipula kinanti masih sangat muda. Kasian dia bilang punya banyak cita-cita yang ingin dia raih." jawab najib, dia mengingat bagaimana kinanti bicara kepadanya, kalau dia punya banyak cita-cita yang ingin dia capai, entah cita-cita apa yang ingin dicapai gadis itu. Tapi daripada amanda, kinanti memang jauh lebih baik. Usianya lebih muda dari amanda, tapi cara berpikirnya jauh lebih bijak kinanti daripada amanda.


Sedangkan jihan, najib tidak terlalu mengenal jihan. Karena semenjak ayahnya jihan meninggal. Jihan memang di asuh oleh ibunya yang entah mereka tinggal dimana. Najib baru bertemu jihan baru-baru ini saja. Tapi entah kenapa ada bagian hatinya yang mulai mengagumi gadis manis yang bar-bar itu.


"Hei, bengong lagi. Udah ah! Kalau gitu tante mau bertemu jihan." ucap zia membuyarkan lamunan najib.


"Tunggu, tan. Aku ikut." teriak najib.


"Kamu mendingan kekantor deh, jangan ikut tante." tolak zia.


"Aku sedang tidak kekantor, sekali-kali aku temani tante. Bagaimana?"


"Ya, baiklah!" jawab zia.


Setelah mendapat persetujuan zia, najib segera menelpon rio asistennya di kantor.


Mobil meluncur meninggalkan kediaman najib, zia yang sudah janjian dengan jihan melalui telpon menyetujui akan bertemu di sebuah cafe.


"Kita mau kemana ini?" tanya najib saat mobil yang zia kemudikan berlainan arah dengan rumah jihan.


"Katanya kamu mau nemenin, tante. Gimana sih." jawab zia


"Bukankah tadi tante bilang, kalau kita akan menemui jihan."


"Oh, jadi kamu ikut tante karena jihan."


"Eh! Bukan begitu, maksudku... "

__ADS_1


"Tante sudah janjian di cafe." jawab zia memotong kalimat yang belum najib selesaikan. Zia sekarang mengerti akan satu hal, hanya saja sepertinya najib akan kesulitan mengingat bagaimana kerasnya seorang jihan.


"oke" ucap najib yang entah kenapa hatinya meletup-letup seperti air sedang mendidih. Najib sendiri bingung dengan keadaan nya, pasalnya dia tidak pernah mengalami hal seperti yang sekarang dia rasakan.


Zia yang memahami hati ponakannya hanya bisa tersenyum melirik najib dengan ekor matanya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya zia memancing ekspresi najib.


"Hah, maksud tante? Memang aku kenapa?" jawab najib gugup.


"Baru ditanya begitu saja, kamu sudah salah tingkah. Bagaimana kalau disuruh melamar jihan. Nampaknya kamu akan mati sebelum menikah."


"Tante, do'akan yang baik-baik. Aku tidak mau menjadikan jihan janda." ucap najib asal.


"Astaga! Jadi kamu... "


"Tante, sudahlah!"


"A ha ha ha... Ada yang jatuh cinta nampaknya, tapi roman-romannya jalan nya tidak akan sesuai pikiranmu yang dangkal itu. "


"Astaga! Sepertinya aku keponakan tiri." ucap najib menepuk nepuk kepalanya.


Zia terkekeh mendengar ucapan najib. Tempat yqng ditujupun sudah terlihat, zia memarkirkan mobilnya dan kemudian segera turun saat melihat ternyata jihan sudah memasuki cafe.


"Jihan!" panggil zia sedikit teriak.


"Tante, aku pikir sudah menunggu." ucap jihan saat melihat zia berada dibelakangnya, jihan twraenyum senang melihat zia yqng selalu heboh kalau bertemu dengan nya. Wanita paruh baya itu selalu nampak bak abege yang selalu ceria. Namun senyum jihan seketika lenyap saat melihat najib menghampiri mereka.


"Kamu!"


Melihat ekspresi jihan, zia segera menoleh dan benar saja ternyata najib sudah berada dibelakangnya.


"Jihan, maaf yah. Tante harus membawanya, sebab dia sedang sakit." Ucap zia asal.


Najib sampai mengerutkan dahi mendengar ucapan tantenya.


"Maksud, tante. Kita akan ke dokter?" tanya jihan.


"tidak."


"Ah, baguslah! Aku pikir kita akan ke dokter." ucap jihan.


"Memangnya kalau kita kedokter dulu, kamu gak mau." tanya najib kesal.


"Ya enggaklah! Merepotkan saja. lagipula kalau sakit itu dirumah, ngapain ikut kesini." jawab jihan


Zia mulai pusing mendengar pertengkaran mereka, dia sudah menduga akan hal ini. Jadi daripada dia juga ikutan stress karena mendengarkan mereka, zia memilih untuk meninggalkan mereka dan duduk di sofa yang sudah disediakan pihak cafe.


Jihan mengekor dibelakang zia, meninggalakan najib yang masih terbengong dengan jawaban jihan. Pikirannya mulai kacau. Berandai-andai kalau jihan menjadi istrinya dia bisa mati karena ditelantrkan.

__ADS_1


Mengingat itu najib bergidik ngeri, entah pikiran macam apa yang melintas di otaknya.


Bersambung


__ADS_2