Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 9 Melamar


__ADS_3

"Eh! Ada apa ini?" tanya najib yang bingung dengan kelakuan jihan.


"Jangan banyak tanya! cepatlah."


Najib segera mengikuti langakah jihan yang sedikit berlari.


"Nenek, ke.."


"Ayo bantu!" Teriak jihan sebelum najib melanjutkan kalimatnya.


Aisyah mengambil tas dan segera memasuki mobil. Najib dan jihan sudah berada didalam mobil dan segera melesat membelah jalanan kota menuju rumah sakit.


"dokter, tolong nenek saya!" teriak jihan dan najib bersamaan.


Beberapa perawat segera membawa brangkar dan mendorong nenek masuk kedalam UGD.


"Apa yang terjadi? Kanapa nenek sampai pingsan?" Tanya najib dengan wajah khawatir.


Aisyah dan jihan tidak kalah khawatirnya, entah apa yang dilakukan angga dan riana hingga nenek sampai pingsan.


"Aku tidak tahu." jawab jihan ketus.


"Bagaimana tidak tahu, bukankah kamu berada dirumah, hah!" teriak najib kesal.


"Aku memang tidak tahu, ibuku menemukan nenek pingsan setelah tante dan paman bicara dengan nenek!" ucap jihan kesal.


"Astaga! Kamu tidak bisa diandalkan!"


"Maksudmu, apa?" tanya jihan dengan mata membulat sempurna.


"Ah! Ti,, tidak ada maksud apa-apa." jawab najib bingung.


"Jihan, sudahlah. Lebih baik kalian solat magrib dulu. Biar ibu yang menunggu disini." ucap aisyah menghentikan perdebatan manusia beda jenis itu.


"Baiklah" Jawab jihan dan najib bersamaan.


Waktu sudah hampir tengah malam, dan nenek juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dokter mengatakan kalau nenek mengalami serangan jantung ringan.


"Bu, tidurlah. Aku yang akan menjaga nenek." ucap jihan saat melihat ibunya masih saja duduk dengan wajah sendu. Entah apa yang sedang aisyah pikirkan, tapi kejadian ini mengingatkannya dengan keadaan suaminya yang juga mengalami serangan jantung sesaat sebelum akhirnya meninggal.


Itulah kenapa aisya tidak mau beranjak dari tempat duduknya dan terus menatap wajah ibu mertuanya yang sudah sangat baik itu.


"Bu,, ayolah. Ibu juga harus menjaga kesehatan, aku tidak mau ibu sakit." jihan masih terus memaksa ibunya.


"Baiklah." ucap aisyah akhirnya mau mendengarkan ucapan jihan.


Aisyah segera tertidur di sofa, menyisakan jihan yang masih terjaga dengan hati yang terus melangitkan do'a agar semua baik-baik saja.


Ceklek


Jihan segera mengalihkan wajahnya saat mendengar pintu dibuka.


"kamu! Mau apa?" tanya jihan saat melihat najib masuk.

__ADS_1


"Aku mau apa, bukan urusanmu!" jawab najib asal.


Merasa hanya akan membuang waktu saja bicara dengan najib, akhirnya jihan memilih diam. Dia tidak perduli lagi dengan keberadaan najib.


"Eh! Apakah dia marah." batin najib, saat melihat jihan yang malah diam tidak lagi menyahutinya.


"Ah bodo amatlah." gumamnya lirih.


Najib mendudukan diri di dekat ranjang nenek bersebrangan dengan jihan.


"Jihan, apakah paman dan tante sudah tau?" Tanya najib akhirnya.


"Belum." jawab jihan singkat.


"Kenapa? Kok belum dikasih tau."


"Aku tidak tahu kontak mereka."


"Astaga! Kamu kan bisa minta tolong aku. Aku... " najib tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat mata jihan yang sudah membulat sempurna.


"Maaf." ucap najib dan segera menghubungi paman dan tante.


Malam berganti pagi, dan keadaan nenekpun sudah mulai membaik. Aisyah dan jihan serta najib dengan telaten merawat nenek secara bergantian, tidak terasa kedekatan dalam satu malam itu membuat najib banyak mengenal jihan.


Ceklek


"Ibu,,, " teriak riana saat melihat nenek yang terbaring lemah.


"Ibu, apa yang terjadi? Bukankah kemarin kita bicara dan ibu maaih baik-baik saja." Tanya angga yang berada di belakang riana.


"Kamu apakan ibuku?" teriaknya lagi.


"A,, aku... "


"Mulai sekarang aku mau, kalian pergi dari rumah ibu!" teriak riana lagi.


Jihan yang sudah bersiap akan menjawab, dihentikan oleh aisyah dengan menggelengkan kepalanya. Aisyah tidak mau keadaan nenek malah memburuk kalau sampai jihan terpancing emosinya.


"Riana! Hentikan!" ucap nenek dengan suara bergetar.


"Tante, maaf. Tapi lebih baik tante tidak membuat nenek malah tertekan. Tolong jangan membuat keributan." tegur najib kepada riana.


"Ini semua demi ibu!" dengus riana kesal.


Beruntunglah riana mau mendengarkan ucapqn najib, kalau tidak, bukan tidak mungkin jihan akan kembali melawan kalau riana terus terusan menuduh aisyah.


Beberapa hari kemudian...


Tap


Tap


Tap

__ADS_1


"Bagaimana, apakah semuanya sudah siap?" tanya angga dengan setelan jas mewahnya.


"Sudah dong, pah." jawab amanda.


"Ayo, tante riana dan yang lainnya sudah menunggu."


Angga dan amanda turun menemui riana dan bram serta semua keluarga yang sudah berkumpul, termasuk jihan dan juga aisyah.


Angga sengaja mengajak mereka, agar mereka tau kalau najib adalah calon suami dari anaknya amanda.


Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tanpa pemberitahuan kepada najib. Keluarga amanda mendatangi rumah najib. Dengan segala barang-barang mewah yang tertata rapi. Entah apa maksud angga melakukan semua ini. Padahal nenek sudah melarangnya agar tidak melakukan ini semua, karena hanya akan mempermalukan keluarganya. Tapi angga yang keras kepala tidak juga mendengar ucapan nenek.


Tok Tok Tok


"Assalamu'alaikum." ucap angga didepan pintu rumah najib.


Tante zia yang sedang berada dirumah keponakan nya itu segera membuka pintu setelah menjawab salam dari dalam.


Celek


"Ada apa ini?" tanya zia bingung.


"Boleh kami masuk?" tanya angga tanpa menjawab pertanyaan zia


"Oh, iya. Silahkan masuk" jawab zia ,dan mempersilahkan semuanya masuk kedalam rumah.


"Siapa, tan?" tanya najib yang baru saja turun dan akan sarapan bersama tantenya.


Zia tidak menjawab peertanyaan najib, karena najib bisa melihat sendiri siapq yang datang.


Najib segera menghampiri semuanya saat tau kalau nenek dan keluarganya yang datang, dengan sopan najib menyalami semua tangan orang yang lebih tua.


"Ada apa?" tanya najib lirih didekat tantenya.


Zia hanya mengendikan bahunya menjawab pertanyaan najib. Karena diapun memang tidak tau ada apanya.


"Nek, duduklah. Ini semua ada apa?" tanya najib sesaat setelah semuanya duduk.


"Maafkan kami, najib. Karena tidak memberitahukan kepadamu dan juga tantemu." ucap angga dengan senyum yang sejak tadi tidak pernah hilang, apalagi saat matanya beradu pandang dengan zia tante dari najib.


"Langsung saja, paman." ucap najib yang penasaran.


"Jadi, paman kesini untuk mengatakan kalau paman ingin melamar nak najib untuk anak paman amanda." ucap paman angga dengan percaya dirinya yang tinggi.


"Apa!" najib dan zia kompak terkejut.


Jihan sudah tidak sabar rasanya ingin terbahak, hingga dia segera menutup mulutnya takutnya malah kelepasan dia terbahak didepan semuanya. Bisa kacau kalau itu semua terjadi.


"Astaga! Apakah kalian tidak salah?" tanya zia yang masih dengan wajah terkejutnya.


" Iya, ini semua tidak salah. Amanda sangat mencintai najib, apa salahnya kalau saya sebagai orangtua tunggalnya, mendukungnya dengan melamarkan pria yang dia cintai." Jawab angga dengan menekan kata orangtua tunggal.


Entah apa maksud dari ucapan angga, sepertinya ada udang dibalik batu ya gaes....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2