Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 12 Gara-gara Najib


__ADS_3

"Ibu, ada apa?" tanya jihan, setelah keluar dari mobil najib dan melihat riana sedang marah-marah di depan ibunya.


"Akhirnya kamu pulang juga!" ucap riana saat melihat jihan yang sudah berada di belakangnya.


"Ada apa?" tanya jihan.


"Sudah-sudah, kita masuk dulu." ucap nenek menengahi semuanya.


Riana masuk terlebih dahulu dengan menghentakan kakinya, entah pelajaran apa yang didapatnya saat sekolah dulu, hingga sifatnya macam orang tidak sekolah saja.


"Bu, najib sudah menjawab akan memikirkan soal perjodohannya dengan kinanti, tapi dia malah sengaja menggoda najib dan mengajaknya jalan!" Ucap riana setelah semua orang duduk di ruang tamu.


Riana menatap jihan sinis, baginya jihan dan aisyah adalah orang yang sudah membuat kakaknya meninggal dan sekarang mereka hanya ingin memanfaatkan kebaikan ibunya.


"Apa! Jadi setelah angga sekarang kamu. Begitu!" teriak nenek yang tidak percaya dengan ucapan riana.


"Iya, memangnya salah! Lagipula kali ini aku yang bicara dengan najib terlebih dahulu. Lalu dimana letak salahny?" ucap riana dengan mata masih tertuju kepada jihan.


"Najib, apakah benar?" tanya nenek kepada najib yang juga sudah duduk di dekat nenek.


"Aku hanya bilang akan memikirkannya, nek. Lagipula tante riana belum bilang soal ini kepada kinanti." jawab najib.


"Riana, sebaiknya kamu bicarakan dengan kinanti." saran nenek.


"Aku akan mengatkannya nanti."


"Kamu tau, kinanti masih sekolah dan kamu main jodoh-jodohkan saja. Seperti semua cucuku tidak laku saja!" ucap nenek kesal.


"Tapi, ibu setujukan kalau kinanti dengan najib?" tanya riana.


"Itu kalau mereka mau, kalau tidak. Jangan ada paksaan." jawab nenek.


Jihan dan aisyah hanya menyimak saja, tanpa mau ikut bicara. Entah kenapa jihan merasa hidupnya semakin kacau saat dia tinggal dirumah mewah sang nenek.


Najib yang sejak tadi memperhatikan jihan, merasa disebagian hatinya mengatakan kalau jihan terlihat sangat cantik saat sedang diam.


"Dan kamu, jihan. Ini adalah terakhir kalinya jalan bersama calon mantuku!" bentak riana kepada jihan, hingga jihan sedikit terkejut. Pasalnya sejak tadi jihan tidak terlalu fokus dengan apa yang mereka bahas. Baginya semua itu tidak penting.


"Akan aku usahakan, tapi jangan salahkan aku kalau justru yang mendekatiku itu calon mantumu." jawab jihan asal.


Entah jawaban macam apa yang jihan katakan, dia sendiri tidak menyadarinya. Tiba-tiba saja keluar kalimat seperti itu.


"Percaya diri sekali, kamu! Kalau bukan kamu yang mendekat. Tidak mungkin najib mau jalan sama kamu yang penampilan lusuh begitu. Atau mungkin najib hanya merasa kasian saja!" ucap riana kesal.


"Terserah!" jawab jihan cuek.

__ADS_1


"Dasar tidak tau diri! Ibu dan anak sama saja."


"Jaga anakmu itu, kak ais. Jangan sampai dia menjadi pelakor!" sambungnya lagi.


"Jaga mulut, tante. Atau aku akan menjadi pelakor sungguhan!" teriak jihan. Dia paling tidak suka kalau ibunya harus kena imbas dari perbuatannya. Lagi dan lagi riana selalu menyinggung ibu dan anak. Itu membuat jihan tidak bisa mengontrol emosinya.


"Sudah-sudah! Riana. Kamu pulanglah. Bukankah urusanmu sudah selesai." ucap nenek menengahi semuanya.


"Najib, kamu pulanglah juga."


"Iya, nek." jawab najib dan segera menyalami nenek.


"Jangan mengambil keputusan karena kasihan. Ingat, kalau kamu tidak menyukai perjodohan yang dibuat riana. Katakan saja, nenek tidak mau kalau ada pemaksaan disini." ucap nenek menepuk bahu najib.


"Iya, nek. Najib akan minta pendapat tante zia dulu." jawab najib lagi.


"Ya, itu memang seharusnya." ucap nenek.


Setelah berpamitan, najib segera pulang. Tanpa sepengetahuan semua orang najib menayap jihan dengan tatapan yang sulit di artikan. Bahkan najib sendiri bingung dengan perasaan nya.


"Kalau begitu, aku juga pulang saja." ucap riana. Dia bergegas berdiri dan mengambil tasnya.


"Ingat, jaga anakmu. Jangan sampai apa yang aku mau, gagal karena ulah anakmu!" ucap riana sebelum benar-benar pergi dari ruang tamu itu.


"Jaga saja dirimu, tante. Jangan sampe kena serangan jantung, kalau usahamu itu ternyata gagal!" teriak jihan yang sudah sangat geram dengan tingkah riana.


"Nek, bu. Aku naik dulu." pamit jihan. Dan segera naik menuju kamarnya setelah nenek dan ibunya mengiyakan ucapannya.


Dirumah riana...


Brak


Riana yang masih kesal kepada jihan, membanting pintu rumahnya.


Mendengar suara berdentum didepan, segera bram dan kinanti menghampiri asal suara dan mendapati riana yang sudah dudum di sofa ruang tamunya.


"Mah, ada apa?" tanya bram saat melihat istrinya yanh duduk dengan raut wajah tak biasa itu.


"Aku sedang kesal, pah. Entah bagaimana caranya aku bisa mengusir jihan dan aisyah dari rumah ibu." jawab riana dengan wajah yang memerah menahan emosi.


"Astagfirallah, mamah. Gak baik seperti itu, lagipula aku senang ada kak jihan disana." sambung kinanti yang baru saja meletakan minuman untuk riana.


"Kamu tau apa! Jangan ikut campur." hardik riana. Membuat wajah kinanti seketika murung.


"Dan satu lagi, mamah sudah mengatur perjodohanmu dengan najib." ucap riana.

__ADS_1


"Apa!" kinanti dan bram kompak terkejut mendengar kalimat yang di ucapkan riana.


"Ada yamg salah?" tanya riana saat melihat wajah anak dan suaminya yang tidak biasa.


"Mah, aku masih sekolah."


"Kamu bentar lagi lulus."


"Tapi aku masih mau kuliah, seperti kak amanda."


"Kamu bisa kuliah, setelah menikah." riana tidak mau mendengar alasan apapun.


"Dan itu akan lebih bagus, karena nanti yang membiyayai kuliahmu adalah suamimu." sambung riana tanpa rasa bersalah.


"Mamah, bicara apa? Seperti kita sudah tidak mampu saja!" ucap bram yang tidak setuju dengan keputusan sepihak riana.


"pah, ini kesempatan kita. Lagipula najib itu pengusaha sukses dan kinanti pasti bahagia."


"Tapi mamah gak boleh memaksa kinanti, papah tidak setuju kalau kinanti tidak mau." ucap bram dengan nada yang mulai meninggi.


"Ah! Kalian semua sama saja." riana kesal mendengar penolakan anak dan juga suaminya. Tapi riana tidak kehabisan akal, dia akan membuat kinanti menyetujuinya dan otomatis brampun akan setuju.


Riana pergi meninggalakan kinanti dan juga bram, mereka masih tidak percaya kalau riana begitu berambisi menjadikan najib menantunya. Setelah angga ditolak oleh najib.


"pah, aku gak mau." ucap kinanti kepada papahnya.


"kamu tenang saja, papah akan bicara dengan mamahmu." jawab bram menggusuk puncak kepala kinanti.


"Pah, apakah aku akan tetap kuliah?"


"Tentu saja! Kalau mamahmu tidak mau membiyayaimu. Masih ada papah, kamu jangan khawatir."


"Aku sangat khawatir, pah. Kita semua tau bagaimana sifat mamah." ucap kinanti merasa dunianya sebentar lagi runtuh. Kinanti punya banyak cita-cita yang ingin dia wujudkan saat setelah kuliah nanti. Tapi permintaan riana seakan membuat semua mimpi-mimpi kinanti mulai berterbangan menjauhinya.


Bukan tanpa sebab kinanti merasa khawatir, karena dia tau betul seperti apa riana, dia akan menggunakan segala cara agar semua yang dia inginkan terwujud.


Kinanti menarik napas besar, mengingat bagaimana riana memperlakukan jihan dan ibunya hanya demi sesuatu yang menurutnya sangat tidak penting, tapi riana begitu sangat berambisi memilikinya. Padahal dari segi harta riana mempunyai seorang suami yang juga pengusaha sukses, tapi entah kenapa dia selalu saja iri dengan apa yang dimiliki jihan dan juga aisyah.


"Berhentilah berpikir yang tidak-tidak, sekarang lebih baik kamu ke kamarmu." ucapan bram meruntuhkan semua lamunan kinanti.


"Baiklah,"


Kinanti segera menuruti ucapan bram.


Setelah kinanti pergi, bram segera menghubungi seseorang melalui ponselnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2