
"Apa!!!" Teriak nenek yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Nenek!!"
"Ibrahim, antarkan nenek sekarang juga ke rumah sakit. Jihan pasti sangat sedih, ayo nak. Nenek mohon antarkan nenek." Ucap nenek memghampiri ibrahim yang baru saja akan masuk kedalam rumah.
"Baiklah! Tapi aku mohon nenek tidak akan memaksa jihan, seandainya dia menolak kedatangan nenek." Ucap ibrahim.
Nenek tidak menjawab apapun, pandangan nya menerawang jauh mengingat bagaimana dia memperlakukan ibu dan anak itu hanya karena hasutan dari angga dan riana. Dia benar-benar menyesal karena sudah mempercayai semua kebobongan itu dan akibatnya kini jihan dan aisyah semakin menjauh dan hampir tidam lagi bisa di gapainya.
"Bu, sebaiknya ibu tetap di rumah." Ucap riana meraih tangan keriput ibunya.
"Diamlah! Aku sudah siap menerima semua perlakuan jihan seandainya dia tidak menerima kehadiranku disana. Karena semua itu memang salahku yang sudah percaya dengan kebohongan yang kamu ciptakan." Nenek menepis tangan riana, dia segera berjalan menghampiri ibrahim dan mengajaknya segera ke rumah sakit.
Bram dan kinanti mengekor di belakang nenek, karrna mereka pun ingin tau keadaan aisyah dan juga jihan.berbeda dengam riana dan angga yang segera menerbitkan senyum bahagia sesaat setelah nenek keluar dari pintu rumah.
"Aku sangat bahagia kak, semoga saja wanita itu segera mati. Setelahnya kita hanya akan mengurus seorang jihan saja." Ucap riana.
"Ya, tapi kamu jangan lupa. Gadis itu sangat nekat, andai saja dia tidak membawa pisau waktu itu." jawab angga dia mendudukan diri di sofa berhadapan dengan riana sang adik.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman zia, dia sangat terkejut saat menelpon jihan dan ternyata dia sedang di rumah sakit dan aisyah yang dinyatakan koma oleh sang dokter. Tanpa berpikir panjang lagi dia segera meluncur ke kediaman najib untuk memberitahu keponakan nya itu. Jarak 30 menit ditempuhnya dengan cepat.
Tiiiiiinnnnnnnnn......
Seorang satpam membukakan pintu pagar, zia segera keluar dari mobil dan membiarkan monilnya patkir di depan pintu pagar tanpa berniat memasukannya.
"Bu, apakah mobilnya..."
"Tidak usah pak, aku akan segera keluar lagi." Ucap zia sebelum sang satpam menyelesaikan ucapan nya.
Zia bergegas masuk saat melihat pintu rumah najib terbuka dan ada beberapa pasang sepatu di luar menandakan kalau sedang ada tamu.
"Jib, ikut tante segera. Kita ke rumah sakit."
"Tapi, aku.... "
"Tante tidak mau tau, apapun kesibukanmu. Ikut aku sekarang!"
Rio yang melihat zia begitu terburu, menganggukan kepalanya saat mendapat tatapan dari najib.
__ADS_1
"Ri, kerjakan semua tugas najib. Kamu di bayar untuk itu!" Ucap zia kesal karena najib masih saja belum beranjak.
"Siap tante." Jawab rio.
"Tan, masa begitu sih bicaranya." tegur najib.
"Iya, maaf ya, ri. Tante kesal sama najib yang selalu saja kelemar-kelemer." jawab zia.
"Dih! Kenapa jadi aku sih."
"Ayo cepatlah! Jihan di rumah sakit dan aisyah dinyatakan koma."
"Apa!"
"Kenapa tidak mengatakan nya sejak tadi?" sambung najib.
"Ck! Kamu selalu saja lambat. Pantas saja hari gini masih belum juga menikah." ucap zia. Dia segera keluar rumah meninggalkan najib yang masih bingung ke arah mana ucapan tantenya itu.
"Ri, selesaikan semuanya. Aku harus segera pergi." Ucap najib dan segera keluar meninggalakan rio yang bahkan belum menjawab ucapan najib.
__ADS_1
Bersambung.....