Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 30.


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan disini, hah?" Tanya jihan dengan mata membulaat. Jihan meminta aisyah untuk berdiri di belakangnya. Rasa takut akan segala hal membuat jihan benar-benar waspada. Dia tidak akan membiarkan siapapun dekat dengan ibunya. Terutama dari keluarga ayahnya.


"Kamu disuruh nenek. Memata-matai kami. Atau disuruh nenek untuk mengusir kami. Atau..." ucapan kinan menggantung, karena ibra segera menutup mulut jihan. Dan menariknya masuk.


"Ibu ais, tolong tutup pintunya. Aku akan bicara dengan kalian." ucap ibra masih dengan tangan menutup mulut jihan.


Jihan yang kesal akhirnya menggigit tangan ibra dengan sekuat tenaga.


Aaargh!


Spontan ibra segera melepaskan tangannya dari gigitan jihan.


"Kamu itu gadis, lembut sedikit! Aku bisa mati muda kalau menjadikanmu istri." ucap ibra. Dia segera duduk di kursi ruang tamu tanpa diminta.


Aisyah dan jihan merasa heran kepada pria didepan mereka.


"Hei, ini bukan rumahmu, lagipula siapa yang mau jadi istrimu." ucap jihan kesal.


"Aku tau, tapi kalian tidak ada yang menyuruhku duduk. Aku cape kalau harus berdiri terus." jawab ibra santai.


"Duduklah, akan ibu ambilkan air." Aisyah segera kedapur dan menuangkan air putih. Ya, di rumah itu hanya ada air putih. Karena mereka belum membeli apapun untuk mengisi dapur. Rencananua jihan dan aisyah akan mulai belanja pagi ini. Tapi ternyata ibra lebih dulu bertamu, hingga mau tidak mau hanya air putih yang bisa mereka berikan.


"Minumlah, hanya ada ini saja. Kalau kamu mau tunggulah agar kami bisa memberimu sarapan." ucap aisyah lembut.


"Eh! Untuk apa, bu. Gak usah! Dia itu gak perlu di kasih sarapan. Di kasih air putih saja sudah bagus." ucap jihan masih dengan wajah kesal.


"Aku heran deh, bagaimana bisa ibu aisyah yang begitu lembut dan penuh kasih sayang, tapi mempunyai anak macam preman pasar." ucap ibra membuat jihan mendelik.


"Apa jihan bukan anak ibu? Atau ibu menemukan jihan di emperan pasar? Katakan saja bu. Jangan takut." tanya ibra dengan mengarahkan pandangannya ke arah aisyah.


Aisyah hanya terkekeh mendapat pertanyaan konyol ibra.


"Apa yang kamu katakan! lebih baik kamu pergi dari sini. Aku heran, darimana kamu tau kami tinggal disini." ucap jihan menatap ibra tajam.


"Ini rumah..." hufz ibra segera menghentikan kalimatnya yang hampir saja keceplosan.


"Ini rumah... Ya ini rumah. Benarkan, bu ais?" sambung ibra.


"Dasar aneh! Semua orang juga tau kalau ini rumah. Pertanyaanku darimana kamu tau aku tinggal disini? Ah, sudahlah. Lupakan. Bicara denganmu hanya akan membuat moodku berantakan." jihan pergi kedalam kamar meninggalakan aisyah dan ibra.


"Eh! Kenapa dia pergi. Memangnya aku salah, bilang ini rumah."


"Tidak salah, yang salah itu bertamu di jam segini. Apakah, kamu sudah solat subuh?" Tanya aisyah.

__ADS_1


Deg


Deg


Deg


"Be... Belum, bu." jawab ibra gugup. Ibra sudah sangat lama sekali meninggalkan solat, bahkan semua hafalan alqur'an yang dulu pernah dia hafal saat sang ibu masih hidup pun, barus ikut terkubur bersama jasad ibunya. Dia benar-benar tidak pernah melakukan solat. Dan tidak ada yang mengingatkannya.


Semenjak bertemu dengan jihanlah, sedikit demi sedikit kini dia mau meninggalkan kebiasaan buruknya, entah kenapa. Padahal jihan tidak pernah meminta itu. Bahkan kini kata lu dan gue pun lenyap entah kemana. Digantikan dengan aku dan kamu. Sungguh pengaruh jihan begitu kuat dalam hidup ibra. Bahkan dia rela menyiapkan segalanya hanya agar jihan tidak luntang lantung di kota yang menurutnya kejam itu.


"Solatlah, nak. ini baru jam 05:15. Masih ada waktu." aisyah segera mempersilahkan ibra untuk mengambil air wudhu. Dan mengambilkan sarung serta baju koko peninggalan suaminya yang selalu dia bawa kemanapun pergi.


Tak


Tok


Tak


Menit demi menit sudah berlalu, aisyah sungguh tidak mengerti kenapa ibra mengambil wudhu begitu lama.


"Jihan, nak. Keluarlah." pinta aisyah di depan pintu kamar.


Jihan yang sedang menulis bab untuk ceritanya, menghentikan aktifitasnya, saat mendengar suara ibunya di depan pintu.


"Ibu, ada apa?" tanya jihan saat pintu kamar sudah terbuka, dan mendapati raut wajah ibunya yang tidak biasa itu.


"Bantu ibu melihat ibra."


"Ibra? Jadi dia belum pulang, dimana dia sekarang?"


"Di kamar mandi, ibu tadi memintanya berwudhu untuj solat subuh. Tapi sudah 15 menit berlalu dia belum juga keluar dari kamar mandi. Ibu takut dia pingsan di dalam."


"Astagfirallah! Menyusahkan saja."


"Hust! Kamu tidak boleh begitu. Ayo ikut ibu."


Jihan mengekor dibekang ibunya menuju dapur. Pintu kamar mandi masih tertutup, jihan segera meminta ibunya untuk menjauh. Karena dia akan mendobrak pintunya.


"Jihan, tidak bisakah kamu ketuk saja."


"Tidak bisa bu, aku yakin pria itu tidur di dalam."


Jihan segera mundur dan berlari menabrakan dirinya ke pintu kamar mandi.

__ADS_1


Bugh


Sekali hentakan, pintu kamar mandi langsung terhempas dari slot kuncinya.


"Jihan, kamu tidak apa-apa, nak?" tanya aisyah yang segera mendekati jihan.


"Aku tidak apa-apa, bu." jawab jihan.


Keduanya sekarang menatap ke arah dalam kamar mandi, dan benar saja apa yang dikatakan jihan. Pria itu tertidur di atas kloset duduk. Dengan posisi menyandar. Ibra yang semalaman mengikuti jihan dan terus memantaunya sampai subuh tadi merasa sangat mengantuk.


"Ibraaaaaaa!!!" teriak jihan dengan sepenuh tenaga.


Ibra langsung terbangun dari tidurnya, dia bahkan langsung berdiri spontan.


"Dasar manusia aneh! Menyusahkan saja. pergi dari sini." usir jihan, dia benar-benar murka saat melihat pria itu malah tertidur di dalam kamar mandi, sedangkan ibunya harus mencemaskan nya karena takut terjadi sesuatu.


Jihan, menarik tangan ibra yang masih belum sepenuhnya sadar. Dia tarik hingga keluar dari kamar mandi yang sudah tidak ada pintunya.


"Eh! Ada apa ini?" tanya ibra masih dengan mode mengantuk.


"Ada apa! Nih lihat, aku sampai harus mendobraknya. Semua gara-gara kamu." jihan menunjuk pintu kamar mandi yang sudah lepas dari engselnya. Jihan kembali menarik ibra sampai ke depan pintu rumah. Dan mendorkngnya keluar


"Apa yang aku lakukan?" tanya ibra tanpa dosa.


"Pergi dari sini! Dasar menyebalkan. Sudah salah masih pura-pura bodoh." usir jihan.


"Tapi... "


Bruk


Belum sempat ibra mengatakan apapun, jihan sudah menutup pintunya dan menguncinya dari dalam.


"Jihan, buka pintunya dong. Aku masih ngantuk." teriak ibra.


"Tidur saja di luar!" teriak jihan dari dalam.


Aisyah benar-benar bingung menghadapi jihan. Dia terlalu keras pada siapapun. Aisya lantas berpikir kalau jihan terus seperti itu, kapan gadis itu akan menikah.


"Apa yang ibu pikirkan?" tanya jihan saat melihat ibunya hanya berdiam diri seperti sedang berpikir.


"Eh! Tidak. Ibu tidak mikir apa-apa." bohong aisyah.


"Baiklah, tapi aku tau ibu sedang berbohong." ucap jihan sebelum benar-benar masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2