Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab8 Gagal


__ADS_3

Seharian bersama tante zia, membuat pinggangku rasanya sakit semua. Entah kenapa, banyak para kaum wanita bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk duduk mempercantik diri di salon.


"Jihan, terimakaksih ya" ucap tante zia saat kami di perjalanan pulang.


"sama-samq tante, apakah tante mau mampir dulu?" tanyaku saat sudah berada di depan rumah nenek.


"lain kali saja, salam buat ibumu." jawab tante zia.


Aku segera keluar dari mobil mewahnya dan melambaikan tangan saat mobil itu mulai berjalan.


Aku segera masuk dengan perasaan yang sangat bahagia.


ceklek


"Ibu, ada apa,?" tanyaku saat pintu aku buka, aku mendapati ibu yang duduk di ruang tamu dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan.


"Bu.. "


"Jihan, kamu sudah pulang?"


"Baru saja, ibu sedang apa? Kenapa duduk sendiri disini?" tanyaku penasaran.


"Tidak apa, ibu hanya sedang menunggumu. Sejak pagi kamu pergi dan tidak ada kabar."


"Astaga! Jihan lupa. Maafkan aku, bu." Ucapku memeluk ibu.


"Ayo, kita ke atas." Ajaku dan menggandeng tangan ibu.


Tapi entah kenapa ibu malah melepaskan tanganku.


"Jihan, duduk dulu. Nanti kalau mereka sudah selesai baru kita naik keatas."


"Mereka? Siapa?" Tanyaku.


"Duduk saja."

__ADS_1


Akupun dudum di sofa ruang tamu, menunggu mereka yang dimaksud ibu keluar. Entah siapa mereka tapi perkiraanku mereka yang dimaksud adalah paman dan tanteku.


Hampir 30 menit menunggu, tapi mereka tidak juga keluar. Entah apa yang sedang dibicarakan.


"Bu, lebih baik kita naik saja." Ucapku.


"Tunggu sebentar lagi.


"Tapi ini sudah hampir magrib, bu. Aku belum mandi."


Tidak lama setelah aku mengatakan itu, mereka yang ibu maksud akhirnya keluar. Dan benar saja mereka adalah paman dan tante. Tapi juga ada amanda dan kinanti.


"kak jihan, kapan pulang?" tanya kinanti dan mendekat kearahku.


Tapi baru saja satu langkah tangan kinanti ditarik tante riana, hingga langkahnya kembali mundur.


"Mamah." ucap kinanti kesal.


"Bu. Ayo ke atas. Aku belum mandi." ucapku, mengajak ibu meninggalkan mereka semua.


"iya, ibu juga mau melihat nenekmu." jawab ibu.


"Dan, jangan sok kecakepan!" sambung amanda.


"Maksud kalian apa?" Tanyaku.


"Dan bagaimana kalau aku tidak mau. Lagipula suka-suka aku mau dekat dengan siap, itu bukan urusan kalian!" sambungku lagi.


"Dasar anak kurang ajar!"


Plak


"Jihan!" Teriak ibu saat melihatku ditampar tante riana.


"Ri, ini ada apa? Apa salah jihan?" Tanya ibu.

__ADS_1


"Tanyakan pada anakmu, gara-gara dia perhodohan Amanda dan najib gagal." Jawab paman angga dengan mata melotot dan jari telunjuk mengarah kepadaku.


"Apa maksud kalian? Jihan tidak pernah mendekati najib." Ucap ibu dengan nada tinggi.


Baru kali ini aku melihat ibu berkata lantang. Ah ibu! Kenapa harus menunggu aku ditampar dulu baru ibu berani melawan.


"Ibu dan anak sama saja! Pokoknya aku gak mau tau. Kamu katakan pada anakmu yang batu itu, agar dia menjauhi najib terutama jauhi tantenya!" Teriak paman angga.


Setelah mengatak itu semua mereka segerq pergi meninggalkan aku dan juga ibu yang masih tidak mengerti arah pembicaraan mereka.


" Jihan, kamu tidak apa, nak?.." tanya ibu.


"Aku baik bu, lebih baik ibu lihat nenek saja. Aku mau mandi dulu." jawabku.


"Baiklah."


Aku segera naik ke atas, dan ibu menuju dapur dimana mereka tadi membicarakan sesuatu.


"Ya allah, ibu!." teriak ibu.


Aku yang hampir sampai ke atas, kembali turun menghampiri ibu yang berterik.


"Bu, ada apa?" Tanyaku dengam napas naik turun.


"Nenek, jihan. Kamu segera telpon pamanmu. Kita harus bawa nenek kerumah sakit!" Teriak ibu.


Aku segera mraih ponselku dan hendak menelpon paman, tapi...


"****! Aku bahkan tidak punya nomor mereka." umpatku kesal.


Tok tok tok


ceklek


" Apa..."

__ADS_1


" Untung kamu datang, ayo bantu aku bawa nenek kerumah sakit." ucapku menarik tangannya.


Bersambunh


__ADS_2