Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 38.


__ADS_3

Jihan masih terdiam di tempatnya, hingga hentakan tangan aisyah di punggungnya mengembalikan kesadaran jihan.


"Bu, bagaimana bisa sebanyak ini? Ini punya siapa?" Tanya jihan ragu, dia takut kalau-kalau akan ada tagihan yang tiba-tiba saja datang dan memintanya untuk membayar semua itu. Sedangkan dia benar-benar tidak akan bisa membayar semua ini walaupun harus menguras semua tabungannya. Dari kardus-kardus itu tertulis sebuah brand butik ternama di kota itu. Jihan pernah kesana bersama zia. Betapa terkejutnya jihan saat melihat satu helai gaun yang di bandrol dengan harga fantastis. Bagi jihan harga satu gaun itu bisa mencukupi hidupnya dan ibunya selama beberapa bulan.


"Apa, ibu benar-benar tidak tau, bu? Ini punya siapa?" Tanya jihan. Dia benar-benar kacau.


"Jihan, tenanglah! Ibu yakin seseorang sudah mengirimnya." Ucap aisyah menenangkan jihan.


"Baiklah, biar aku rapihkan saja di pojokan. Sampai kita tau siapa pengirimnya," ucap jihan akhirnya. Dia tidak mau terlalu banyak berpikir yang berat-berat. Dia hanya akan fokus menata kembali hidupnya setelah berhasil di porak pirandakan paman dan tantenya.


Aisyah dan jihan saling membantu menumpuk semua kardus itu ke pojokan. Tanpa mereka sadari seseorang sudah memperhatikan mereka sejak tadi.


Drezzztttttt


Sebuah notif masuk di ponsel ibra. Dia segera meraih ponsel itu dan melihat apa yang riko kirimkan padanya melalui sebuah chat.


Riko


"Bos, semua perintah beres.


Ibra


"Perintah yang mana?"


Riko

__ADS_1


"Hadeuh! Soal baju gamis bos!"


Ibra


"Lalu, apa respon mereka?"


Riko


"Mereka menolak tapi akhirnya di terima, tapi barang-barang itu tidak dibukanya bo, melainkan ditumpuk di pojokan."


Ibra


"🤬🤬🤬🤬"


Ibra benar-benar kesal pada riko. Bisa-bisanya dia tidak menyelesaikan tugas dengan benar, harusnya baju-baju itu di pakai, kenapa malah ditumpuk di pojokan. Apa maksudnya? Memangnya berapa banyak baju yang riko kirimkan? Pertanyaan demi pertanyaan bergentayangan di otaknya.


Tring


Satu notif masuk ke ponsel riko.


Ibra


"Temui aku sekarang!"


Riko menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia merasa sudah pasti gajinya bulan ini akan tertahan. Dengan kecepatan kilat dia segera menemui bosnya yang moodnya naik turun itu.

__ADS_1


Dalam hitungan menit riko sampai 5 menit lebih dulu daripada ibra. Setidaknya dia tidak akan menambah kekesalan bosnya nanti karrna harus menunggunya.


"Bagus! harusnya kamu setiap kali aku suruh datang langsung begini." Ucap ibra.


"Di usahakan bos"


"Sekarang jelaskan! Kenapa baju yang aku kirim malah di tumpuk di pojokan. itu apa maksudnya? Memangnya berapa banyak kamuengirim baju ke rumah jihan?" Tanya ibra yang sudah tidak tahan ingin segera mendengar jawaban riko.


"Sesuai intruksi bos."


"Lebih detail."


"Bos bilang warna serta motif ambil semuanya. Maka dari itu saya memgambil semua warna dan motif sesuai ukuran ibu aisyah. Semua warna dan motif berjumlah banyak bos, jadi semuanya ada 10 kardus besar satu kardus berisi 25 gamis lengkap dengan kerudungnya." Jawab riko panjang lebar.


"Apa?"


"Pantas saja semuanya di taro di pojokan, ternyata sebanyak itu. Astaga!" Ibra menepuk jidatnya sendiri. Dia bingung mau bilang apa nanti kepada aisyah dan jihan. Riki benar-benar membuatku pusing saja.


"Apakah bos sudah puas? Saya rasa harusnya sudah."


"Puas jidatmu!"


Pletak


Ibra menyentil jidat riko yang menurutnya sudah kosong gak ada otaknya.

__ADS_1


Riko mengusap-usap jidatnya yang terasa sakit. Dia benar-benar tidak mengerti dimana letak kesalahannya.


Bersambung


__ADS_2