
Semakin hari hati najib semakin tertuju kepada jihan, entah sudah berapa kali dia menggulir galeri di ponselnya hanya untuk melihat foto jihan, yang dia dapat dari hasil menjepret secara sembunyi-sembunyi.
Kalau saja jihan tau najib mencuri foto, jihan pasti akan menghajarnya dan lebih parahnya lagi ponsel kesayangan nya itu akan menjadi seonggok barang yang tidak layak pakai.
Puk
Tepukan keras dirasakan najib di punggungnya, hingga dia kesal dan membalik badan hendak marah, akan tetapi setelah tau siapa yang datang mulutnya seakan terkunci rapat.
"Hai, matamu biasa saja melihatnya. Aku bukan rentenir yang akan menagih hutang." ucap jihan asal. Dia duduk di sofa dengan menyilangkan kaki.
"Apa yang sedang kamu lihat? Hingga salam dan ketukan pintu berulang tidak ada respon darimu." tanya jihan lagi. Menatap wajah najib yang tidak biasa. Najib hanya diam mencerna semua klaimat demi kalimat yang jihan katakan, dia merasa jantungnya tidak akan sehat kalau lama-lama di tatap seperti itu. Bahkan paru-parunya kini sangat membutuhkan oksigen lebih banyak lagi.
"Sepertinya kamu sedang tidak mau di ganggu. Baiklah, kalau begitu aku pulang saja." ucap jihan dan beranjak dari tempat duduknya melangkah ke arah pintu.
Tap
Najib meraih tangan jihan. "Tunggu, duduklah."
Jihan kembali duduk ditempat semula.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu datang?" tanya najib setelah kewarasannya kembali dan dia mulai bisa mengontrol detak jantungnya yang tadi sempat berantakan akibat kedatangan jihan yang memdadak menurutnya.
"Aku ada janji dengan tante zia, dan dia menyuruhku menunggunya disini. Aku kira tante zia sudah memberitahumu."
"Benarkah? Tapi tante tidak ada bicara. tapi tidak apa, aku senang kau disini."
Jihan menautkan alisnya mendengar kalimat terakhir najib. Hingga dia menatap najib dengam tatapan heran.
"Eh! Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya najib keki ditatap seperti itu.
"Aku rasa kamu sedang sakit, tidak biasanya bahasamu baik saat bertemu denganku." jawab jihan asal.
__ADS_1
"Itu kalau kamu yang duluan nyolot, kalau kamu biasa saja aku justru suka, kamu jadi terlihat semakin cantik." celetuk najib, entah kenapa bisa-bisanya mulutnya mengeluarkan kalimat receh seperti itu. Berulang kali najib memepuk mulutnya menyesali ucapan yang baru saja keluar. hingga membuat jihan semakin tajam menatap najib.
"Lupakan! Aku akan keluar sebentar. Kamu silahkan menunggu dengan santai." sambung najib lagi. Dia segera keluar dari ruangan kerjanya demi untuk menyelamatakan jantungnya yang berdebar tidak karuan saat harus berdekatan dengan jihan.
Jihan hanya menatap kepergian najib, tanpa sepatah katapun. Sisi sensitif jihan merasakan kalau sikap najib berbeda dan mengandung banyak arti. Entah itu apa, yang pasti jihan merasa kalau najib menjadi aneh.
Ceklek
Mata jihan kembali menatap ke arah pintu, ternyata orang yang ditunggu datang juga.
"Jihan, maaf. Tante jadi membuatmu menunggu." ucap zia saat melihat jihan yang duduk sendiri, otak zia mulai berpikir tentang dimana keberadaan najib. Padahal zia sengaja datang agak lambat agar mereka bisa bicara, tapi entah kemana perginya najib membuat zia membuang napas besar.
"Tidak masalah, aku hanya suntuk menunggu sendiri disini." jawab jihan.
"Benarkah? Lalu dimana najib? Kenapa kamu hanya sendiri, pria itu memang mengesalkan, diberi kesempatan malah di sia-siakan ."
"Maksud tante?"
"Eh! Tidak, tidak. Baiklah, sekarang tante akan mengajakmu kesuatu tempat." jawab zia. Diapun melangkah terlebih dahulu dan di ikuti oleh jihan.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya zia saat tidak mendengar sepatah katapun dari jihan.
"Tidak, aku baik. Hanya saja..." jihan menjeda ucapan nya saat matanya menangkap sosok pria tampan di depannya.
"Hanya apa?" tanya zia, sedetik kemudian mengubah arah pandangnya mengikuti pandangan jihan.
"Apakah kamu mengenalnya?"
"Ya, dia ibra."
"Oh, jadi namanya ibra."
__ADS_1
"Iya, ibrahim abdullah."
"Bukankah dia yang menghajar najib waktu itu."
"Appakah najib mengatakan itu?"
Zia tidak menjawab lagi, karena ternyata pemuda tampan bernama ibrahim abdullah itu sudah mendekat.
"lo, jihan kan?" tanya ibra pura-pura, demi menutupi perasaan aneh di hatinya yang tiba-tiba saja muncul tanpa izin.
"Ya, apakah kamu mengalami gegar otak. Hingga begitu cepat melupakanku. Aku rasa kita baru satu minggu tidak bertemu." jawab jihan asal.
Zia terkekeh mendengar ucapan jihan yang selalu diluar dugaan, dia tidak pernah bisa bas basi demi untuk menghargai lawan bicaranya. Apa yang ada di pikirannya maka itulah yang keluar dari mulutnya.
"Astaga! Maafkan tante. Ibra maaf, jihan memang seperti itu." ucap zia merasa tidak enak hati mendapat tatapan dari ibra.
"Tidak masalah, aku bahkan sudah banyak menerima ucapan sadis lain nya."
"Ah, ya. Kamu ada apa? Kenapa ada disini?" tanya zia mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku hanya iseng saja, tidak tau kalau ini perusahan milik tante dari pria bernama najib, yang sudah berani melamar ponakan ku." jawab ibra, padahal ibra memang mengikuti jihan, setelah tadi dia keluar dari kantor bram, tidak sengaja dia melihat jihan yang mengendarai motornya. Dan refleks dia pun mengikuti jihan.
"Benarkah hanya iseng, tapi kenapa sangat kebetulan sekali."
"Dia memang orang iseng, tan. Lebih baik sekarang kita pergi, aku tidak bisa lama meninggalkan ibu dirumah." jihan menyela pembicaraan zia dan ibra.
"Baiklah, ibra kami permisi."
Ibra hanya menganggukan keplanya dan menatap kepergian dua wanita beda generasi itu.
Bersambung
__ADS_1
Hallo semuanya, semoga kalian sehat selalu yah....
Jangan lupa berikan dukungan nya untuk karya pertamaku. like, vote dan beri poin yah, kalau kalian suka dengan ceritanya. Terima kasih 😘