Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 55.


__ADS_3

"Berikan ponselku." pinta jihan, saat melihat ponsel kesayangannya di remas oleh ibrahim.


"Lagipula aku hanya mau membantumu memberitahu kinanti. Tapi bukan berarti harus telpon dengan ponselku." sambungnya lagi. Jihan menarik paksa ponsel yang masih di genggam erat oleh ibrahim.


"Riko, pinta nomor ponsel anak buahmu itu!" Ucap ibrahim kepada riko.


"Sudah ponsel butut, gak punya pulsa pula. Memalukan!!"


"Heiii! Kamu pikir kamu siapa? Bisa-bisanya menghinaku. Aku masih mampu beli pulsa bahkan konternya sekalipun." jawab jihan kesal.


Bukannya menjawab, kini ibrahim yang terbahak mendengar ucapan jihan yang menurutnya terlalu tinggi itu.


"Kalau kamu mampu, lalu apa itu? Bahkan ponsel saja keluaran zaman pra sejarah."


"Astaga! Minta di sambel tu mulut."


"Pergilah!! Malas juga melihat wajahmu itu. Ucapan yang keluar dari mulutmu itu gak ada yang berfaedah!!"


"Kamu..."


"Bos, lebih baik bos mengalah." ucap riko memotong kalimat yang akan ibrahim katakan.


"Ck! Sejak kapan kamu menjadi kacungnya? Yang memberimu gaji itu aku. Jadi, yang harusnya kamu nasehati itu dia." ucap ibrahim menunjuk jihan yang menatapnya tajam.


"Kalian ada apa kesini?" tanya jihan akhirnya kembali pada pertanyaan inti.


"Maaf jihan, aku kesini ingin meminta bantuanmu" jawab riko.


Pletak

__ADS_1


Riko mengernyit kesakitan saat jidatnya di sentil ibrahim dengam sekuat tenaga.


"Sakit?" tanya ibrahim kesal


"Ya sakitlah, bos. Kalau mau tau sini saya kasih tau." jawab riko dengan tangan mengusap jidatnya yang sakit.


"Makanya kalau bicara jangan asal, apa maksudmu meminta bantuan jihan?"


Jihan hanya menyimak kedua manusia di depannya yang masih terus beradu argumen, hingga mendengar pintu di buka dan ternyata tante zia, kinanti dan najib yang datang.


Ceklek.


Semua mata tertuju ke arah pintu.


"Assalamu'alaikum..." Ucap zia saat pintu sudah dibuka, matanya membulat karena ternyata ada ibrahim dan riko di dalam ruangan aisyah.


"wa'alaikumsalam" jawab ketiganya serempak.


"Tidak, tante. Ayo masuk." Jawab jihan.


Melihat kinantipun berada di antara mereka, ibrahim mengusap dahinya berkali-kali, karena entah kenapa ruangan ber AC itu mendadak jadi sangat panas.


"Paman, ternyata kamu disini?" Ucap kinanti.


"Ya, memangnya tidak boleh."


"Bukan begitu, tapi ini sudah hampir tengah malam. Tidak baik kalian disini, kalian bukan mahram. Atau aku nikahkan saja paman dengan kak jihan. Agar bebas berduaan kapanpun." Ucap kinanti, dia merasa puas karena bisa membalas ucapan ibrahim sore tadi.


"Ck! Kamu sendiri ngapain malam-malam kesini?" Tanya ibrahim.

__ADS_1


"Entahlah! Perasaanku sejak tadi tidak enak, aku tidak tau kenapa. Jadi aku meminta tante zia mentarku kesini, aku takut terjadi sesuatu kepada ibu ais. Tapi syukurlah, karena itu hanya perasaanku saja." Jawab kinanti dengan wajah murung. Pasalnya dia masih merasakan jantungnya berdebar, mengkhawatirkan yang entah apa itu.


Degh


Jantung ibrahim seakan berpacu dengan cepat, melihat wajah khawatir kinanti dia semakin tidak tau apa yang harus dia lakukan.


"Benar, ibra. Sejak tadi sore kinanti terus saja tidak tenang. Bahkan dua kali memecahkan gelas karena rasa khawatir yang entah bagaimana." Ucap zia.


"Dia tidak tau khawatir kepada siapa. Tapi, mengingat aisyah yang sedang koma, akhirnya kami memutuskan untuk kesini dan menginap menemani jihan." sambung zia lagi.


Ibrahim hanya diam saja mendengar semua yang zia katakan, dia sendiri bingung harus bagaimana, riko yang menyadari kegalauan bosnya, akhirnya dia memutuskan untuk mendekati jihan dan membisikan sesuatu. Hingga akhirnya jihan mendekati kinanti.


"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan ibuku. Hanya saja, aku rasa kekhawatiranmu itu lebih kepada orang tuamu, kinan." Ucap jihan.


Jantung ibrahim seakan berhenti saja, menanti kelanjutan ucapan jihan. Bahkan wajahnya memucat seakan tidak ada aliran darah disana.


"Maksud kak jihan apa?" Tanya kinanti.


"Kamu tau, kenapa pamanmu berada disini?" Jihan balik bertanya. Yang membuat kinanti mengerutkan dahi karena bingung.


"Pamanmu baru saja datang, dia baru saja memintaku agar menelponmu. Tapi sayang, pulsaku habis. Dia mau mengabarimu kalau ayahmu sekarang berada di rumah sakit." Sambung jihan dengan wajah menatap kinanti.


"Apa!" Teriak kinanti yang membuat ibrahim mulai bergerak meraih tangan kinanti.


"Paman, kenapa..."


"Kamu sabar dulu, ayo kita lihat papahmu." Ucap ibrahim memotong kalimat yang akan kinanti ucapkan.


"Ayo cepat! Ini semua salahku, karena sudah meninggalkan rumah." ucap kinanti dengan airmata yang mulai menetes.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2