
Langkah ibrahim begitu berat, apa yang ada di dalam pikirannya membuatnya semakin tidak kuasa menahan dirinya sendiri.
"Apa maksud ucapan, pak surya?" Ibrahim bertanya dengan suara lirih nyaris tidak terdengar. Dia takut akan segala hal, takut kalau kinanti keponakan yang begitu dia sayangi, bahkan kelahirannya membuat dunia ibrahim penuh dengan canda dan tawa. Kini, dia harus mendengar kenyataannya yang entah benar atau tidaknya semua yang ada di pikirannya.
"Maafkan saya, ibrahim. Karena apa yang kamu pikirkan benar adanya?" jawab pak surya, dia yakin ibrahim berpikiran sama dengannya, karena pria tampan di depannya itu bukan orang bodoh.
"Jadi?" langkah ibrahim mundur seketika.
"Apa yang kamu katakan, surya!! Kamu jangan asal bicara!" Teriak riana lantang. Namun, suara itu terdengar bergetar.
Pak surya mengeluarkan surat. "Ini, bukti tes DNA yang di lakukan pak bram saat usia kinanti menginjak 10 tahun." pak surya melangkah mendekati ibrahim dan meraihnya.
"Kamu tau, ibra. Kakakmu selalu ingin berbagi tentang ini kepadamu, tapi..."
"Bohong!! Ini semua bohong. Kinanti anak suamiku bramasta ibrahim. Kamu tidak bis mengubah itu hanya karena surat yang belum jelas punya siapa." kembali riana berteriak.
"Bahkan, kami sedang melakukan program anak kedua sebelum suamiku meninggal." sambungnya lagi.
"Apakah anda tau, ibu riana? Kenapa pak bram melakukan tes DNA saat usia kinanti 10 tahun?" Tanya pak surya. Dia kembali mengambil sebuah amplop putih tertera dari rumah sakit internasional. Riana menerimanya dengan tangan bergetar.
Sraakkk...
Ibrahim merebut surat itu dan dengan terburu membukanya.
Bruukkk
Nenek dan kinanti serta semuanya berdiri saat melihat ibrahim terduduk dengan wajah memerah menahan air matanya. Bahkan jihan segera meraih surat itu, namun di tariknya surat itu oleh riana.
Riana menutup mulutnya tidak percaya. "A,,, apa i,,, ini? Kenapa..."
__ADS_1
"Ya, pak bram seorang yang mandul, bu riana. Andai saja waktu itu dia tidak sakit mungkin pak bram tidak akan tau kalau dirinya mandul." Ucapan pak surya tentu saja membuat kinanti meraung... Bahkan nenek lemas seketika hingga terduduk kembali di sofa. Jihan sigap menuju sang nenek, namun langkahnya terhenti karena riana dan angga menahannya.
"Tetap disana!! Kamu, dan ibumu benar-benar pembawa sial!!" teriak riana.
Jihan tidak merespon apapun yang di ucapkan riana, matanya fokus menatap neneknya yang tidak berdaya. "semoga saja jantung nenek kuat mendengar kenyataan ini." gumam jihan.
Ibrahim meraih tangan jihan dan menariknya. "lepas! Apa?" mata bulat jihan semakin bulat karena kesal dengan gerakan refleks ibrahim.
"Pulang!" ibrahim kembali akan meraih tangan jihan. Namun, teriakan riana menghentikan pergerakan mereka berdua.
Jihan segera berlari ke ruang tamu, dan ternyata...
"Kinanti, lepaskan pisau itu!!" teriak riana dan angga. Amanda dan pak surya membawa nenek masuk ke kamar karena menolak di bawa ke rumah sakit. Amanda segera menelpon dokter keluarga mereka.
"Aku, anak haram! Benar begitu, mah? Katakan padaku, siapa ayahku?" Kinanti menatap riana tajam. Air matanya terus saja mengalir walau beberapa kali kinanti menghapusnya.
"Katakan!!"
Plak
Plak
Ibrahim menampar keras pipi mulus ibu tirinya. "Jaga ucapan anda, nyonya dinda."
"Ibrahim! Apa yang kamu lakukan? Dasar anak durhaka!" Ucap sang ayah yang sudah menaikan tangannya, namun tangan itu hanya menghalau angin saja, karrna ibrahim lebih dulu menepisnya.
"Aku bukan anakmu! Jangan katakan aku anak durhaka. Pergi dari sini tapi, jangan katakan kejelekan apapun kepada kinanti. Dia bahkan lebih baik dari istrimu itu! jaga istrimu baik-baik sebelum aku melemparnya ke neraka!"
"Kamu!"
__ADS_1
"Pah, ayo pulang. Kita urus mereka nanti." dinda menarik suami dan anaknya untuk meninggalakan semua kekacauan yang terjadi.
Ibrahim mendekati kinanti yang masih dengan pisaunya. Dia meraih keponakan nya dan memeluknya erat.
"Aku anak haram, paman. Hikz! Aku..."
"Diamlah! Kamu tetap keponakanku, tidak ada anak haram di dunia ini, yang haram adalah tindakan kedua orang tuanya, tetaplah menjadi kinantiku yang baik jangan da yang berubah."
"Aku..."
"percayalah kalau papahmu sangat menyayangimu. Jangan menjadi gadis bodoh, lepaskan pisau itu!"
Riana menjambak rambutnya dengan frustasi. Kecewa, kesal, marah dan takut menjadi satu dalam hatinya. Melihat itu angga pergi meninggalkan dang adik, menurutnya membiarkan riana seperti itu akan jauh lebih baik, karena di ajak bicarapun hasilnya akan percuma. angga pun pergi ke kamar ibunya.
Ibrahim membawa kinanti pergi ke rumahnya di ikuti jihan dan juga riko. Pak surya pun segera pamit setelah memastikan kalau nenek sudah ditangani oleh dokter dan dalam keadaan baik-baik saja.
"Urusan kita belum selesai, riana. Kamu harus merasakan apa yang sudah kamu lakukan terhadap kakak ku!"Ucap ibrahim sebelum dirinya benar-benar pergi dari ruangan itu.
Aaarrgghhhhh....
"Jihan, si*lan!! Kamu sudah mengacaukan semuanya!" Teriak riana melampiaskan rasa di hatinya.
Ditempat yang berbeda seseorang pun merutuki kebodohannya.
"Percuma bekerja sama dengannya, kalau ternyata gadis miskin itu yang menguasai harta itu!!"
"Kamu tenang saja, kita pasti akan mengambil apa yang seharusnya jadi milik kita. Gadis itu hanya gadis miskin yang tidak tau apa-apa, tidak akan sulit membuatnya hancur."
"Buktikan ucapanmu itu!"
__ADS_1
Bersambung...