Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 22


__ADS_3

Kinanti segera menuju kantin rumah sakit, banyak yang dia akan beli untuknya, nenek dan juga jihan.


"Kinan" suara seseorang menghentikan langkah kinan. Dia berbalik melihat kearah suara.


"Kak najib" kinan merasa canggung bertemu najib, entah karena apa. Tapi setelah riana berniat menjodohkan nya dengan najib. Kini keadaan hatinya jadi tidak senyaman dulu saat bertemu dengan najib.


"Kamu mau kemana? " tanya najib mendekati kinan.


"Aku mau ke kantin, maaf kak aku buru-buru." jawab kinan dan akan kembali melanjutkan langkahnya.


Tapi najib meraih tangan kinan dan menahannya, membuat kinan terkejut dengan kelakuan najib.


"Tunggu! Kamu lihat. Aku sudah banyak membeli makanan, jadi sekarang ikut aku." ucap najib memeperlihatkan beberapa kantong makanan yang dia bawa.


"Ikut kemana?"


"ke kuburan!"


"Eh!" kinan menautkan kedua alisnya.


"Kamu ini kenapa?" najib balik bertanya dengamln tatapan yang sulit di artikan.


Hingga jantung kinan seakan mau lepas, ditatap seperti itu meembuat kinan sulit bernapas.


"Sepertinya kamu sedang banyak pikiran." sambung najib lagi.


"Tidak" jawab kinan cepat.


"Ayo ikut aku masuk kedalam." ajak najib lagi dan segera berjalan menuju kamar rawat aisyah. Kinan mengekor dibelakang najib tanpa mengatakan satu patah katapun. Hingga membuat najib heran, karena biasanya kinan akan sangat bawel jika bertemu dengan nya, ada saja yang akan dia tanyakan entah itu penting atau tidak. Tapi tidak kali ini dia terlihat lebih alim dan pendiam.


"Apakah kamu sedang sakit, hem?" tanya najib lembut.


"Eh! Apakah aku terlihat jelek. Hingga seperti orang sakit." ucap kinan.


Sontak saja ucapannya membuat najib terbahak, bagaimana bisa jawaban seperti itu keluar dari mulut kinan.


"Astaga! Kenapa aku jadi seperti orang bodoh." gumam kinan.


Hatinya terus merutuki kelakuannya, yang entah kenapa jadi kaku seperti sekarang ini. Bahkan kinan sendiri bingung dengan sikapnya yang mendadak janggung bertemu najib.


"Apa yang lucu? Kalau kak najib seperti itu, lebih baik kinan ke kantin saja." ucap kinan kesal.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan berhenti tertawa." ucap najib dengan masih menampakan senyumannya. Najib benar-benar merasa geli dengan sikap kinan hari ini.


Najib dan kinanti memasuki ruang rawat aisyah, mendapati nenek dan zia masih berbincang. Najib segera membuka semua makanan yang dia bawa tadi dibantu oleh kinan.


"Nek, makanlah dulu." ucap najib saat sudah semuanya terhidang.


"Jihan, ayo makan dulu. Kamu harus sehat agar bisa terus menjaga ibumu." ajak nenek dan kalimat itu sungguh sangat ampuj membuat jihan bergerak meraih makanan.


Jihan tidak mau sakit dan tidak bisa menjaga ibunya, sungguh nenek sangat paham bagaimana sifat dan karakter jihan yang kadang kala sangat keras kepala terhadap apa yang sudah jadi keinginannya.


Jihan mengambil nasi dan menyendok beberapa lauk kedalam piringnya, membuat najib hampir saja terbahak melihat jihan yang seperti orang kelaparan. Untung saja zia segera membekap mulut najib, kalau tidak dia akan kena omelan.


"Tidak apa tante, biarkan saja dia mentertawakan aku. Lagipula aku tidak perduli padanya." ucap jihan tanpa melihat kearah zia yang masih membekap mulut najib.


"Ah, jihan. Kamu memang terbaik, laki-laki seperti ini memang pantas diabaikan." jawab zia asal.


"Eh! Kok gitu. Aku tampan loh dan mapan lagi. Sayang kalau diabaikan." jawab najib.


"Tampan saja percuma kalau gak punya otak." jihan benar-benar sudah menghabiskan semua makanan nya dan kembali duduk di dekat aisyah.


Semua yang dilakukan jihan tidak luput dari pandangan semua orang diruangan itu, mereka merasa heran bagaimana bisa sworang gadis makan sebanyak itu hanya dalam hitungan detik saja.


"Berhenti menatapku seperti itu. Apa mata kalian mau aku colok." ucap jihan asal.


Nenek sampai menenggak minumannya beberapa kali demi untuk mengembalikan kewarasan nya setelah mendengar ucapan jihan yang tanpa penyaring itu.


"Baiklah, kalau begitu aku dan najib pamit pulang dulu. Kabarin tante kalau ada apa-apa yah." pamit zia menggenggam tangan jihan. Bagi zia jihan sudah seperti anaknya sendiri.


"Terimakasih, karena sudah repot-repot kesini." ucap jihan.


"Tidak masalah, dan sangat tidak merepotkan. tante pamit."


Zia dan najib segera meninggalkan ruangan aisyah setelah pamit kepada nenek dan juga kinanti.


***


Seminggu kemudian...


Brak


Bram benar-benar sangat emosi mendengar cerita dari kinan, kalau riana lagi dan lagi membuat jihan dan ibunya susah.

__ADS_1


"papah heran sama kamu, bagaimana bisa kamu selalu ingin menyakiti ibu dan anak itu. Sedangkan mereka sama sekali tidak pernah merugikanmu." bentak bram saat melihat riana yang hanya diam saja ketika ditanyai.


"Aku membenci mereka, karena mereka sudah merebut semua orang yang aku sayangi. Dan bahkan sudah membuat kakak ku meninggal." teriak riana lantang.


Bram benar-benar pusing menghadapi riana yang keras kepala.


"Terserah kamu! Tapi kalau jihan sampai nekat membuatmu sengsara. Jangan pernah minta bantuanku." ucap bram. Dan pergi meninggalkan riana yang masih belum puas meluapkan semua emosinya.


Arghhhh


"lagi dan lagi mereka membuatku susah!" teriak riana semakin mendendam terhadap jihan dan juga aisyah.


Riana selalu saja berpikiran kalau semua kebahagiaannya selalu saja di rusak oleh ibu dan anak itu, hingga dia semakin membenci mereka, ditambah lagi sekarang bram yang selama ini tidak pernah marah kini dia harus menerima kemarahan bram hanya karena membela jihan dan juga aisyah.


Tap


Tap


Tap


"Kak, mau kemana?" tanya ibra saat bram melewatinya begitu saja.


"Mau ke rumah ibu." jawab bram tanpa mengalihkan pandangan nya dan terus berjalan menuju mobil.


"Ibu siapa?"


"Ibu mertuaku! Memangnya kita punya ibu lagi." jawab bram kesal.


"Ck! gue kira lo mau kerumah ibu tiri kita."


"Kapan-kapan kita kesana."


" tidak mau."


"Bagaimanapun papah masih ada, dan di rumah ibu diana itulah papah kita tinggal."


"tetap tidak mau, setelah papah memilih wanita itu. dan membuat mamah meninggal. gue sudah menganggap tidak lagi mempunyai papah."


Bram tidak lagi menjawab ucapan adiknya itu, karena itu akan kembali membuka luka lama, susah payah bram membuat ibra mau membuka diri setelah kematian mamahnya. Hingga sekarang dia tidak mau kembali mengingatnya. Walaupun bram sendiri tau kalau ibra tidak sepenuhnya membuka dirinya kepada semua orang. Bahkan dia hanya akan bicara semaunya dia saja. Tidak ada yang berani memaksa, karena ibra begitu sangat nekat. Hingga kelahiran kinan membuat ibra sedikit banyak mau tersenyum.


Ya, ibra begitu sangat menyayangi kinan. Celotehan kinanlah yang mampu menerbitkan senyum diwajah tampan yang hampir tidak terawat itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2