
"Pak, tolong suruh dia minggir!" ucap ibra sopan.
"Baik, den."
Pak satpampun memberitahu jihan, kalau yang dibelakang akan masuk.
"Baiklah!" jawab jihan kembali harus mengalah, karena ternyata manusia batu itu salah satu penghuni rumah mewah milik riana.
Setelah jihan memajukan mobilnya, ibra segera masuk dan memarkirkan mobil di teras rumah riana. Ibra mendekati pak satpam dan memberikan beberapa paper bag, jihan pikir ibra sangat keterlaluan karena hanya membawa itu saja dia harus merepotkan pak satpam yang sudah cukup berumur. Hingga tanpa bertanya jihan melemparkan sepatu yang dia pakai pas mengenai kepala ibra, hingga pemuda tampan yang hendak masuk itu kembali berbalik dan menatap tajam jihan. Jihan yang merasa tidak bersalah kembali membalas tatapan ibra tidak kalah tajam, baginya ibra sangat menyebalkan karena beberapa kali bertemu dirinya harus mengalah.
"Berani juga." ucap ibra mendekati jihan.
"Aku memang tidak pernah takut, lagipula siapa kamu sampai aku harus takut!"
"Aku sudah cukup untuk mengalah, tapi kali ini aku tidak akan mengalah padamu. Lagipula badan saja yang besar. Bawa barang segitu saja harus minta tolong pak satpam, kamu tidak melihat beliau lebih tua darimu. Jangan mentang-mentang yang ounya rumah lantas kamu semena-mena." sambung jihan dengan suara yang meninggi.
"Ck! Bukan urusan lo." jawab ibra datar, kini dia tau alasan gadis cantik didepannya ini marah-marah gak jelas.
Ibra pergi begitu saja meninggalkan jihan yang masih belum puas melampiaskan kekesalannya.
"ish! Dasar batu. Kinanti kemana sih, hampir 30 menit masih belum juga nongol." gumam jihan, yang masih dapat didengar oleh pak satpam, orang yang sejak tadi hanya tersenyum melihat tingkah jihan, yang berusaha membelanya. Walaupun sebenarnya jihan hanya salah paham terhadap ibra.
"Pak, sini saya yang bawa. Sekalian saya mau menemui kinanti dan menyuruhnya cepat." ucap jihan melihat pak satpam yang masih tersenyum.
"Sebenarnya, neng jihan salah paham. Barang-barang ini memang den ibra berikan untuk saya, neng." ucap pak satpam, membuat jihan hanya menatap dengan bola mata membulat sempurna. Antara terkejut dan malu, entah yang mana yang sedang jihan rasakan saat tau kalau barang itu memang sengaja dibeli untuk pak satpam.
"Den ibra, memmang begitu neng. Setiap kali kesini dia selalu membelikan bapak banyak barang untuk anak-anak dan istri baoak dirumah. Ya, walaupun tampangnya seperti itu tapi dia sangat baik, neng." sambung pak satpam lagi. Yang membuat mata jihan semakin membualat dengan bibir yang sudah membentuk hurup O.
Tiiiinnnnn
"kak, jihan. Ayo!" teriak kinanti yang sudah masuk kedalam mobil. Entah kapan gadis itu keluar, hingga sudah nangkring di dalam mobil saja.
Jihan segera menghampiri kinanti, setelah sebelumnya pamit kepada pak satpam.
__ADS_1
"Kamu, lama sekali. Untung saja setok sabarku masih banyak. Kalau tidak sudah aku tinggal sejak tadi." ucap jihan saat sudah masuk kedalam mobil.
"Maaf." jawab kinanti sambil nyengir mempeelihatkan deretan giginya.
Jihan tidak lagi menyahuti ocehan kinanti. Dia segera melesat meninggalakan rumah mewah riana yang membuatnya terus merasa kesal, ditambah lagi dengan manusia batu yang jihan sebut, yang sudah membuat moodnya berantakan.
Hampir 30 menit dan akhirnya jihan sampai juga dirumah neneknya.
Melihat jihan yang turun lebih dulu tanpa mengatakan apapun, kinanti jadi merasa bersalah. Karena dirinya telah membuat jihan menunggu sangat lama, apalagi tadi kinanti pun sempat mendengar keributan antara jihan dan pamannya ibrahim abdulah.
"Kak jihan, kakak masih marah?" tanya kinanti saat sudah masuk kedalam rumah, dan mendapati jihan duduk di sofa ruang tamu.
"Menurutmu?" jihan balik bertanya.
"Aku minta maaf, tadi mamah membuat semuanya lama." jawab kinanti dengan wajah memelas.
"Sudah kuduga, nenek lampir itu memang selalu saja menyusahkan!" batin jihan.
"Kak, kok diam sih." kinanti mengamati setiap pergerakan wajah jihan, yang menurutnya tanpa ekspresi itu namun sangat cantik dan enak dipandang.
"Itu berarti, kak jihan sudah memaafkanku?" tanya kinanti lagi.
"Anggap saja seperti itu." jawab jihan datar.
Kinanti hanya memonyongkan bibirnya saat memdengar jawaban jihan yang ambigu menurutnya. Kinanti merebahkan dirinya di sofa menatap langit-langit dengan mata menerawang jauh, entah apa yang gadis itu sedang pikirkan.
"Nampaknya, bebanmu sangat berat? dan nenek kenapa memintaku menjemputmu?" tanya jihan melihat raut wajah kinanti yang sangat buruk.
"Aku, aku sedang kesal sama mamah, kak. Masa aku dijodohkan dengan kak najib. Diakan sudah tua." jawab kinan asal.
"A, ha ha ha ha.. Kamu benar, najib itu memang sudah tua. Dasar tua-tua tidak tau diri." ucap jihan terbahak.
"Bukan kak najib yang tidak tau diri, tapi mamah yang keterlaluan. Memangnya aku sudah tidak laku apa." kinanti meluapkan semua rasa kesalnya terhadap riana mamahnya.
__ADS_1
"Jangan dipikirkan! Lebih baik kamu fokus saja belajar. Bukankah sebentar lagi kamu akan ujian."
"Iya, tapi nampaknya ujian hidupku yang lebih dulu datang."
Kinanti benar- benar tidak tau apa yang harus dia lakukan demi menghindari rencana mamahnya itu, itulah kenapa dia minta dijemput agar bisa tinggal dirumah neneknya selama dia sedang ujian semester akhir. Agar fokusnya tidak berantakan hanya karena mendengar mulut manis mamahnya.
"Ya, mau bagaimana lagi, dia mamahmu. Untungnya bukan ibuku." ucap jihan asal.
"Tapi kamu tetap harus menghormatinya, karena melahirkanmu dia harus bersusah payah. Tolaklah dengan cara yang baik, atau terima saja. Lagipula najib gak tua-tua amat sih." sambung jihan yang langsung di sambut dengan mata melotot kinanti.
"Matamu sangat kecil, mau kamu paksa melototpun, hasilnya tetap sama."
"Kak jihaaan! Ish, nyebelin banget sih." kinanti merasa kesal dengan tanggapan yang diberikan jihan, dia pikir jihan akan berada dipihaknya untuj bisa diajak berdemo menolak pernodohan ini, tapi nyatanya jihan sangat tidak bisa diandalkan.
Ceklek
Pintu dibuka dari luar, saat jihan hampir saja akan menapakan kakinya di tangga, mendengar pintu dibuka jihan mengurungkan niatnya. Penasaran siapa yang datang, karena nenek dan ibunya sedang pergi ke luarkota dan berencana akan menginap satu malam.
"Oh, rupanya kamu ada disini?" ucap amanda, ketima pintu sudah dibuka nya lebar.
"Kak manda, ayo duduk." ucap kinanti dengan senyum mengembang.
"Jangan sok baik, kamu!"
"Maksudnya?" tanya kinanti bingung kenapa amanda terlihat begitu sangat mafah melihatnya.
"Alah! Jangan pura-pura kamu. Jadi begini yang dinamakan saudara, hah!" teriak amanda.
Mendengar teriakan amanda, jihan yang sejak tadi hanya melihat dari dekat tangga, kini dia menghampiri mereka. Jihan takut amanda akan berbuat kekerasan.
Kinanti benar-benar bingung melihat perubahan sikaf amanda, dia tidak mengerti apa yang membuat amanda begitu marah.
"kamu,,, "
__ADS_1
Ucapan amanda terhenti saat melihat jihan mendekat.
Bersambung