
Setelah hampir satu jam najib dan riana berbicara akhirnya dia bisa menarik napas dengan lega. Pasalnya kini riana sudah pergi dengan membawa harapan dari najib yang akan memikirkan perjodohannya dengan kinanti.
"Jihan, makan yuk. Aku lapar." Ajak najib yang memang sudah dari tadi merasakan lapar.
"Makan saja, aku masih banyak urusan."
"ck! Sok sibuk."
Jihan tidak perduli apa yang najib katakan, dia memang ingin segera memasuki kamarnya dan menulis beberapa bab. Tapi kenyataan nya sampai detik ini dia masih juga belum melakukan nya.
"Aku memang sibuk, kamu pikir cuma yang berdasi saja yang sibuk." jihan ingin segera mengakhiri pembicaraan nya dengan najib.
"Kamu sibuk apa? Aku perhatikan kamu cuma diam dirumah saja."
"jangan bilang kamu sibuk nangkepin tikus, ha ha ha ha." sambung najib dengan tawa terbahak.
Entah dimana letak lucunya, hingga membuat dia begitu bahagia.
"menyebalkan!" umpat jihan.
Jihan segera naik ke atas dan meninggalkan najib senidrian di ruang tamu.
sudah hampir jam 12 siang, tapi nenek dan juga ibunya belum pulang, entah pergi kemana mereka.
"Heiii, ayolah kita makan diluar. Temani aku, lagipula nenek dan ibumu juga lagi pergi." teriak najib.
"Saat aku sampai tadi aku sudah menelpon nenek, kalau mereka akan pulang setelah magrib." sambungnya lagi.
"Astaga! Kamu berisik sekali." ucap jihan yang sudah tidak sabar dengan celotehan najib.
"ya, baiklah." jawab jihan menyetujui permintaan najib, semoga setelah itu dia bisa terbebas.
Najib dan jihan segera pergi dari rumah nenek, mencari tempat makan diluar.
"Kamu mau makan dimana?" tanya najib.
"Yang mau makan kamu, bukan aku. Terserahlah!"
"Astaga! Galak bener."
"Kamu sangat merepotkan! Padahal makan ya makan saja. Kenapa harus ini dan itu." ucap jihan dengan nada ketus.
"iya, iya."
Najib dan jihan sama-sama diam, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Nah, sudah sampai." ucap najib memarkirkan mobilnya di depan rumah makan.
setelah memesan makanan mereka kembali menunggu pesanan yang sudah mereka pesan.
"Kamu yakin tidak mau makan?" tanya najib.
__ADS_1
"Tidak."
"Aku sangat lapar, dan makanan belum juga datang. Apakah kamu mau memebelikan aku roti, disana." ucap najib menunjuk stand yang menyajikan berbagai macam roti.
"Tunggu saja, bentar lagi mungkin sudah siap. Lagipula kalau lapar kenapa tidak pesan yang instan saja."
"Aku tidak mau yang instan."
"makanya jangan bawel! Aku serasa pergi makan dengan nenek-nenek, bahkan kamu lebih bawel." umpat jihan kesal.
"Sebenarnya mereka masak daging apa sih? Kenapa sangat lama sekali." tanya najib.
"Daging tikus!" jawab jihan asal.
"Astagfirallah, jihan!"
"Lagian kamu juga. Sangat menyebalkan! Dan bisa saja kan, mereka menghidangkan daging tikus buat pelanggan bawel macam kamu." jawab jihan.
Mendengar ucapan jihan, najib menelan salivanya beberapa kali. Entah apa yang sedang najib pikirkan.
Dan akhirnya makanan yang dipesan najibpun sudah dihidangkan, sedangkan jihan hanya memesan es kopi saja tanpa makanan.
"Mbak, ini daging sapi kan?" tanya najib kepada pelayan yang baru saja meletakan pesanan najib.
"Iya, pak. Ini daging sapi. Ada apa ya pak?" ucap si pelayan balik bertanya.
"Oh, tidak apa. Terima kasih." jawab najib. Lagi dan lagi dia menelan salivanya memperhatikan bistik daging sapi yang ada didepan nya.
"Aku kenyang." jawab najib singkat.
"Astaga! Baru beberapa menit yang lalu kamu bilang lapar, dan sekarang bilang kenyang!"
"ini semua gara-gara kamu."
"kalau saja kamu tidak bicara sembarangan, aku pasti sudah memakan nya." ucap najib lagi.
"Memang akau bicara apa?" tanya jihan tanpa dosa.
"Ah sudahlah! Ayo pulang. Aku tidak mau terus-terusan berpikiran tentang daging tikus!"
"Apa! Astaga, jadi kamu percaya dengan ucapanku. A ha ha ha ha." uvap jihan dengan tawa terbahak.
"Untung saja bukan aku kokinya, andai saja aku yang memasak. Akan aku berikan daging tikus sungguhan untukmu!" ucap jihan lagi.
Najib yang sudah kesal meninggalkan jihan, setelah meletakan uang di meja, untuk membayar makanan yang belum dia makan sama sekali.
"Hei, tunggu!" teriak jihan. Melihat najib yang sudah pergi meninggalkan nya.
brak
Jihan membanting pintu mobil, dan segera menatap tajam tepat didepan wajah najib.
__ADS_1
lagi dan lagi najib harus menelan salivanya dengan susah payah, bukan hanya karena masih mengingat dahing tikus, melainkan melihat wajah garang jihan dihadapan nya.
"Maaf." hanya itu yang bisa keluar dari mulut najib.
"Ck! Kalau saja aku punya ongkos pulang. Aku malas duduk disini." Ucap jihan.
Merekapun kembali pulang dengan perut najib yang masih sama seperti saat mereka berangkat, bahkan kali ini rasa lapar menjadi dua kali lipat.
Kriuk
Kriuk
"Aku mau pulang, aku gak mau kamu bawa pergi makan lagi." ucap jihan, saat mendengar bunyi yang berasal dari perut najib.
Tapi najib tidak menghiraukan ucapan jihan, dia mengehntikan mobilnya saat matanya melihat rumah makan.
Kali ini najib akan memakan ayam saja, dia tidak mau bayang-bayang daging tikus membuat selera makan nya hilang tidak berbekas.
"Eh! Kenapa berhenti?" tanya jihan, saat mobil sudah berhenti dan najib bahkan sudah masuk kerumah makan yang menyediakan berbagai macam olahan ayam.
"Kalau kayak begini, aku akan kesusahan menulis. lebih baik aku tungggu disini saja sambil mengetik bab cerita." gumam jihan.
Baru saja jihan menyelesaikan babnya dan berhasil menguploadnya, najib sudah kembali dengan wajah yang lebih enak dipandang.
"Jihan, maaf. Tadi aku sudah sangat kelaparan." ucap najib yang merasa bersalah karena sudah meninggalkan jihan.
"Ck! Alasan saja. Cepatlah!" ucap jihan kesal.
Najib segera memasuki mobilnya dan melaju memebelah jalanan kota, selama perjalanan mereka hanya diam tanpa ada yang mau memulai untuk bicara.
Dirumah nenek...
"Jihan, jihan!" teriak riana saat baru saja membuka pintu rumah nenek.
Tidak ada yang menjawab teriakan riana, karena rumah dalam keadaan kosong.
"Dasar pelakor! Bisa-bisanya dia pergi jalan dengan najib." riana masih terus berteriak dirumah ibunya, karena terlalu emosi saat mendapat kabar, kalau najib pergi dengan jihan. Riana sampai lupa membawa kunci rumah ibunya. Hingga dia tidak bisa masuk.
" Kemana mereka! " riana mendengus kesal.
"Riana, sedang apa kamu?" tanya nenek yang baru saja sampai dirumahnya bersama dengan aisyah.
"Ibu, dari tadi pagi baru sampai sekarang? Kenapa tidak pergi denganku saja, bu?" tanya riana tanpa menjawab pertanyaan ibunya.
"Jangan kebiasaan, aku bertanya padamu, bukannya menjawab malah ballik bertanya."
"Ais, buka pintunya."
"Sini, biar aku saja yang buka." riana mengambil kunci di tangan aisyah hingga kunci tersebut jatuh.
"Ais, kamu kenapa sih? Hanya pegang kunci saja tidak becus!" umpat riana terus saja mengomel dan mengumpat. Entah marah kepada siapa...
__ADS_1
Bersambung