Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 17


__ADS_3

Prank


Prank


Semua benda yang dilewatinya dia hempaskan, hingga menimbulkan kegaduhan dirumah mewah itu.


Angga dan beberapa asisten rumah tangga segera menghampiri asal suara.


"Astaga! Amanda, apa yang kamu lakukan?" tanya angga terkejut, karena barang mahalnya kini sudah berubah bentuk.


Para pelayan hanya memperhatikan ruangan yang sudah seperti kapal pecah, tanpa ada yang berani bertanya atau hanya menatap amanda. Sedang bahagia saja mereka tidak ada yang berani menegur apalagi disaat sedang emosi seperti sekarang. Bisa habis mereka kalau ada yang berani bersuara.


Amanda yang sudah puas membanting semuanya, kini dia mendudukan diri di sofa dengan airmata yang mengalir deras. Hingga membuat bingung angga sang papah.


"pah, hiks... Hiks" Amanda menghambur kedalam pelukan angga. Dia menangis tergugu.


Angga mengeratkan pelukannya, hingga tidak terasa sudut matanya kini ikut basah. Hatinya merasa sakit melihat putri satu-satunya menangis, angga selalu menuruti dan memberikan semua yang amanda inginkan sebagai bentuk cinta dan kasih sayangnya. Karena amanda tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu, itulah kenapa angga selalu berusaha menjadi ayah dan juga ibu sekaligus. Karena angga selalu merasa bersalah kalau mengingat bagaimana amanda harus kehilangan ibunya.


"Pah, kata jihan. Najiblah yang melamar kinanti." ucap amanda masih terisak.


"Kamu jangan khawatir, papah akan membuat perhitungan dengan mereka, karena sudah menyakiti putri papah." angga menepuk punggung amanda, agar anaknya merasa lebih baik.


Beberapa pelayan yang sejak tadi memperhatikan pun ikut terharu, karena mereka sangat tau bagaimana angga begitu menjaga dan menyayangi amamda. Hanya caranya saja yang salah.


"kalian, siapkan makanan yang enak. Aku akan mengundang semua keluarga datang." ucap angga kepada semua pelayannya yang berjumlah 4 orang itu.


"Baik, tuan." jawab mereka serentak. Dan segera menyiapakan apa yang diminta angga.


"pah, tapi nenek sedang diluar kota." ucap amanda memberitahu angga.


"papah tau, makanya papah akan mengundang keluarga najib dan juga riana. Papah ingin tau semuanya dari mereka." jawab angga.


"Tapi. Aku malu pak, kalau najib... Hik!" amanda kembali menangis.


"Jadi, manda maunya bagaimana?" tanya angga, dia tidak mau membuat anaknya tidak nyaman.


Mendapat pertanyaan seperti itu, amanda hanya menggelengkan kepalanya. Karena sekarang diapun sedang bingung harus apa. Amanda hanya ingin tau apakah yang dikatakan jihan benar atau tidak. Tapi diapun malu kalau harus bertanya langsung. Pasalnya setelah kejadian lamaran itu, najib benar-benar menjaga jarak dengan amanda.


"Naiklah, dan bersih-bersih. Ini sudah hampir magrib. Kita akan membicarakan ini lagi." ucap angga, dan amanda segera menuruti ucapan angga.


***


"kak jihan gak makan?" tanya kinanti dengan mulut yang masih terus mengunyah.


"nanti, bentar lagi magrib. Kalau aku makan sekarang maka aku akan susah buat solat." jawab jihan.


"kak, aku mau tanya. Boleh?"


"jangan banyak tanya. Diamlah!"


"Ini penting."


"Penting untukmu, bukan untukku."

__ADS_1


"Tapi...."


"Kalau kamu masih terus bicara, aku antar kamu balik kerumahmu!" ucap jihan memotong kaliamat kinanti.


Mendengar ultimatum jihan, tentu saja kinanti merasa takut. Pasalnya dia tidak mau kembali kerumahnya selama ujian sekokahnya berjalan.


"gadis pintar." ucap jihan. Saat kinanti makan demgan lahap tanpa banyak bicara lagi.


Tingtong... Tingtong...


"Rumah sebesar ini, tidak ada satpam." gumam seseorang dengan tangan terus menekan bell.


"Siapa sih, bertamu tidak tau waktu." gumam jihan. Dia segera berdiri meninggalkan kinanti yang masih makan.


Bell terus berbunyi saling bersahutan.


"Astaga! Siapa sih? Dia tidak tau apa, satu kali tekan bisa menghasilkan 5 suara. Dan dia terus menerus menekan bellnya." gerutu jihan.


Ceklek..


"Hei... Berhenti menekan bell nya!" teriak jihan saat sudah didepan pintu rumah.


Jihan segera menghampiri orang yang berdiri di depan pagar rumah nenek.


"Kamu!"


"Cepatlah. Buka pintu saja lama." ucap ibra yang sudah tidak sabar.


"Mau apa? Aku gak mau."


"Mau buka, atau aku panjat pagar rumah ini." ancam ibra.


"Terserah!" jawab jihan ngeloyor pergi meninggalkan ibra yang masih didepan pagar.


Brak


Ibra mendarat tepat didepan jihan. Hingga mata gadis cantik itu membulat sempurna. Wajah terkejutnya membuat jihan semakin cantik di mata ibra. Hingga tanpa sadar ibra menatap jihan tanpa berkedip.


"Kak, masuklah. Sudah mau magrib." ucap kinanti membuat keduanya jadi salah tingkah.


Jihan segera beranjak meninggalakan ibra dengan wajah merah merona. Entah malu atau bahagia, jihanpun tidak mengerti.


"Om ibra. Ayo masuk." teriak kinanti lagi.


Ibra segera mendekati keponakan nya itu dan masuk bersama kedalam rumah nenek.


Allahu akbar


Allahu akbar


Adzan magrib berkumandang disetiap penjuru, menandakan siang kini telah berganti malam.


jihan yang baru saja selesai menunaikan kewajibannya kepada sang pencipta, kini duduk terpekur di atas sajadah. Memohon ampunan kepada sang pemilik diri.

__ADS_1


Tok tok tok


"kak jihan, apakah kakak masih solat?" tanya kinanti dibalik pintu kamar jihan.


Ceklek


Jihan membuka pintu kamarnya dan mendapati kinanti tersenyum didepan nya.


"Ada apa?" tanya jihan yang masih mengenakan perlengkapan solatnya.


"Kak, kata om ibra. Boleh gak dia menginap disini?"


"Menginaplah, banyak kamar dirumah ini. Asal jangan dikamarku saja."


"Ish! Ya enggaklah. Masa iya di kamar kak jihan. Kecuali...."


"kecuali apa? Jangan berpikir melampaui usiamu." ucap jihan menyentil kening kinan. Hingga yang punya kening meringis kesakitan.


"Turunlah! Aku akan turun setelah mengganti pakaian."


"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Dibawah ada yang nungguin. Sampai nyusulin kesini loh."


jihan tidak memperdulikan ucapan kinanti, dia segera menutup pintu kamarnya dan bergegas mengganti pakaian nya dan turun.


"Astagfirallah, kinan. Apa-apaan ini?" tanya jihan terkejut saat melihat ruang tamu sudah berantakan.


Kinan memonyongkan bibirnya, hingga jihan refleks mengikuti arah bibir kinanti.


"Eh! Kapan najib datang? Dan kenapa jadi berantem sih." tanya jihan yang masih belum memahami kondisi.


"Hei, kalian. Berhenti!" teriak jihan.


"kak, kenapa malah santai sih." tanya kinanti khawatir.


"Biarkan saja, aku mau lihat siapa yang mati di antara mereka!' jawab jihan dengan nada yang ditinggikan.


Sontak saja ucapan jihan menghentikan kedua pemuda tampan itu, mereka beralih menatap jihan yang duduk dengan santai. Tanpa perduli dengan sekitarnya.


"Kenapa berhenti? Memangnya sudah ada yang mati? " tanya jihan asal.


"Bicaramu, han." ucap najib mendudukan dirinya di sofa.


"han, han.... Hantu!" kesal jihan.


"Ngapain duduk, siapa yang suruh. Bangun!"


"Eh! Emang gak boleh ya. Aku tamu loh."


" Kalau merasa tamu, yang sopan. Kalian berdua itu tamu dirumah ini. Jaga sikap, dan tolong tuh semua yang kalian hancurkan. Kalian bereskan semuanya." ucap jihan melihat kesekitarnya yang sudab sangat berantakan.


"Gak mau! Kamu suruh saja dia." najib menunjuk ibra yang sejak tadi masih berdiri menatap tajam najib.


"Lagipula aku bingung, kenapa datang-datang aku langsung dihajar. Padahal kita baru saja kenalan." sambung najib.

__ADS_1


"Aku tidak perduli, yang penting semuanya kembali rapi. Setelah itu baru kita bicarakan masalah ini, kalian ini merepotkan saja!" ucap jihan. Dan berlalu meninggalakan mereka di ruang tamu.


Bersambung...


__ADS_2