
"Jihan, kamu mau kemana, sayang?" tanya zia mendekati jihan yang masih berdiri dengan koper ditangan.
"Kak, ais. Kalian mau kemana?" kembali zia bertanya. Karena dia belum mendapatkan jawaban dari jihan.
"Mereka, akan keluar dari rumah ini. Nenek yang minta, itu bentuk rasa kasihannya. Hingga nenek mencabut laporan nya dengan syarat mereka pergi dari rumah ini." jawab amanda dengan sinis.
"Kenapa kalian bisa setega itu, hah! Biar aku bicara dengan nenekmu." ucap zia kesal.
"Tidak perlu." seseorang masuk kedalam. yang tak lain adalah nenek dan kedua anaknya.
"Kamu tidak perlu bicara apapun denganku, zia. Keputusanku sudah bulat. Mereka harus pindah dari sini." ucap nenek. berjalan mendekati amanda.
Aisyah yang melihat nenek datang segera memdekati nenek, dan mengukurkan tangannya hendak menyalami nenek. Namun tangan itu justru di tepis oleh nenek.
"Tidak perlu pura-pura! Aku tidak butuh rasa hormatmu yang palsu itu."
Riana yang melihatpun menyunggingkan senyumnya kini dia merasa menang, karena ibunya tidak lagi berpihak kepada aisyah.
"Jangan kalian pikir aku mencabut laporanku, karena sudah memaafkanmu. Tapi ini semua karena aku ingin kalian bekerja agar bisa mengganti uang yang sudah aku keluarkan untuk menwbus rumahku. Andai saja bram tidak memeberi saran ini. Aku mungkin tidak akan terpikirkan." ucap nenek dengan ketus. Wajah yang dulu begitu ramah, kini tidam lagi. Bahkan kemarahan itu terlihat jelas di wajah tua nenek.
"Akan aku ganti, walaupun aku tidak pernah memakan uang haram itu." jawab jihan, dia segera meraih tangan ibunya menjauhkan nya dari neneknya.
"Apa ada lagi? Jika tidak ada aku akan segera pergi dari sini. Ingatlah aku dan ibuku disini bukan karena mau kami. Tapi atas permintaanmu, nek. Dan jika, suatu hari nanti aku dapat membuktikan, kalau bukan aku yang mencuri dan menggadaikan surat rumah itu. Maka hari itu akan jadi hari penyesalan terbesar nenek." sambung jihan lagi.
"Ck! Sudah miskin banyak omong. Pikirkan saja dimana kalian mau tinggal. Ibuku tidak butuh kalian. Dan jangan lupa agar segera membayar hutang. Jangan cuma membual saja!" ucap riana dengan nada penuh ejekan.
__ADS_1
Zia dan najib hanya menyimak apa yang mereka bicarakan dari luar rumah. sesungguhnya mereka bukan tidak berani membela jihan. Tapi lebih menghormati nenek karena itu sudah masuk dalam masalah keluarga mereka. sebab itu jugalah zia dan najib memilih keluar.
"Dan satu hal lagi, jangan hasut suami dan adik iparku!" teriak riana saat jihan sudah berada di ambanh pintu depan.
"Pergilah yang jauh. kalau aku jadi nenek mungkin aku akan melemparkanmu masuk kedalam penjara." sambung amanda.
Jihan berusaha untuk menahan emosinya, itu semua karena janjinya kepada aisyah. Andai saja dia tidak terikat janji dengan ibunya. Mulut amanda dan riana sudah dipastikan akan berdarah-darah karena sudah menghinanya dan ibunya.
Jihan mengepalkan erat tangannya, demi untuk menahan ledakan emosi didada. Aisyah segera mengurai kepalan tangan jihan, dia tidak mau dengan jihan emosi. Neneknya justru akan berubah pikiran dan batal mencabut laporannya. Aisyah sungguh tidak mau putri satu-satunya itu masuk penjara. Dia lebih memilih untuk mengalah asalakan jihan selalu bersamanya.
Jihan dan aisyah segera menuju pagar rumah neneknya, dilihatnya jam yang sudah hampir jam 9 malam. Entah kemana tujuannya tapi pergi dari rumah itu adalah yang terbaik. Sejak awal jihan memang tidak pernah menginginkan untuk tinggal disana, andai ibunya tidak memaksa.
"Kak ais, tinggalah dirumahku." ucap zia menahan tangan aisyah yang akan menarik kopernya keluar pagar, setelah pak hasan membukanya.
Aisya menatap jihan, meminta pendapat anaknya itu.
"Tapi ini sudah malam, paling tidak hanya untuk malam ini saja. Besok kalian bisa pikirkan akan mencari tempat dimana. Najib juga akan membantu mencarikan tempat." zia terus memaksa jihan, agar mau menerima tawaran nya. Dia sungguh tidak bisa membiarkan jihan dan aiayah luntang lantung dijalanan sedangkan malam semakin larut.
"Tidak, tante. Aku dan ibu akan mencari penginapan. Ini maaih jam 9. Aku yakin masih bisa menemukan penginapan." ucap jihan tetap pada pendiriannya. Aisya tidak lagi mengatakan apapun. Kemanapun jihan membawanya dia akan turut serta. Dia tidak mau karena ke egisannya yang memaksa jihan tinggal dirumah nenek terulang. Hingga mengakibatkan jihan dalam masalah seperti sekarang.
Andai saja dulu dia menuruti jihan, untuk tidak tinggal dirumah neneknya. Mungkin semua ini tidak akan terjadi dan rumahnya tidak akan di jual oleh angga. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Menyesalpun percuma. Lebih baik bubur itu ditambah ayam dan kerupuk hingga akan tetap enak untuk dinikmati ketimbang disesali.
"Baiklah, tante tidak akan memaksa. Tapi, kalau kalian tidak menemukan penginapan. Segera hubungi tante atau datang langsung ke rumah. Rumah tante selalu terbuka lebar untuk kalian." ucap zia yang sudah tidak bisa lagi memaksa jihan, dia memanh sudah menduganya. Jihan tidak akan menerima bantuan dari siapapun.
Setelah mereka keluar rumah mewah itu. Jihan terus berjalan mencari penginapan terdekat agar tidak kemalaman, tanpa jihan sadari seseorang terus mengikuti langkah mereka.
__ADS_1
***
Allahu akbar
Allahu akbar
Adzan subuh berkumandang saling bersahutan. Jihan dan aisyah yang sejak dini hari tadi sudah terbangun. Mereka segera bergegas menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba. Mengerjakan dua rakaat solat subuh dan berdo'a memohon keluasan rizki dan kesehatan. Bait demi bait do'a mereka panjatkan, memasrahkan jiwa dan raga sepenuhnya kepada sang pemilik jiwanya.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum" salam seseorang di luar rumah kontrakan. Yang baru semalam mereka sewa. Beruntung semalam mereka menemujan tulisan di tiang listrik, kalau ada rumah yang dikontrakan dengan harga murah, bahkan jihan sendiri merasa bingung bagaimana bisa rumah yang masih sangat bagus itu hanya di sewakan 400 ribu perbulannya. Tapi jihan segera menepis semua pikiran buruknya. Yang terpenting malam itu dan seterusnya dia sudah mempunyai tempat tinggal.
Tanpa jihan ketahui kalau rumah itu adalah milik seseorang yang sudah mengikutinya semalam. Ya, orang itu adalah ibrahim abdulah. Dia sudah menyiapkan segalanya saat tau kalau nenek akan meminta jihan keluar dari rumah itu. Sebagai syarat pencabutan laporannya kepolisi. Bahkan ibra sudah menyiapkan pekerjaan untuk jihan. Agar dia mempunyai pekerjaan dan bisa mencicil uang ganti rugi. Semua dilakukan ibra tanpa jihan ketahui, karena dia yakin kalau gadis itu tau. Hanya penolakan yang akan dia dapatkan dari gadis keras kepala itu.
"Bu, siapa yang bertamu sepagi ini?" tanya jihan mengerutkan dahinya. Jihan segera merapihkan mukenanya dan mengekor dibelakang ibunya yang sudah siap akan membuka pintu depan. Jihan memasang mode waspada. Karena dia masih baru ditempatnya yang sekarang dan tiba-tiba saja ada yang bertamu sepagi ini.
ceklek...
"Kamu!" jihan terkejut saat pintu sudah dibuka dan mendapati seorang pria tampan yang dimenalnya berdiri di depan pintu dengan wajah datar.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat siang semuanya... Hari ini aku update sekali ini saja ya gaes, karena ada beberapa yang harus dikerjakan. Terima kasih karena sudah membaca cerita ku. Tidak ada aku tanpa kalian.
😘😘😘