
"Sekarang katakan, apa yang membuat kalian mengacaukan rumah nenek?" tanya jihan dengan mata tajam menatap semuanya.
Setelah najib dan ibra membereskan semuanya, walaupun dengan terpaksa. Kini mereka sudah berada di meja makan, tapi bukan untuk makan. Mereka sedang membicarakan perkara baku hantam yang baru saja terjadi.
"Dia yang mulai." ucap najib menunjuk ibra.
"lalu" ucap jihan ingin lebih jelas lagi.
"lalu apa?" tanya najib
"Lalu om ibra terus menghajarnya, kak. Itu semua sebenarnya kesalahan aku, gara-gara kinan mereka jadi..."
"Diamlah! Aku mau mereka yang menjelaskan." ucap jihan memotong kalimat kinan.
"gue yang menghajarnya duluan, itu semua karena gara-gara dia, kepknakanku yang masih sekolah ini harus dibuat pusing." ucap ibra
"Maksudnya apa?" tanya
"Itu bukan salah aku, tante riana yang salah."
"kalau lo langsung nolak, keadaan nya gak kayak gini. Breng**k!" ucap ibra kesal.
"Diam!" jihan segera menghentikan semuanya. Kini dia sudah mengerti apa masalah yang membuat semuanya jadi kacau.
"lebih baik kalian berdua, pulang!" ucap jihan dengan tatapan tajam.
Ibra segera bangun dan berjalan meninggalkan semuanya, mereka pikir ibra akan pulang, tapi ternyata dia malah masuk ke kamar tamu yang sudah disediakan kinan saat dia datang tadi.
"Aku pamit" ucap najib dan berlalu pergi keluar rumah nenek.
Setelah najib pergi jihan dan kinan mendudukan diri di sofa, menghembuskan napas kasar karena merasa masalah sudah selesai.
"kak..."
"Jangan berisik! Aku mau tidur. Kamu tidurlah." ucap jihan.
"Ish! Kebiasaan deh. Aku belum ngomong, kak jihan sudah main potong aja."
"Besok lagi ngomongnya, aku benar-benar ngantuk." ucap jihan yang sudah menaiki tangga menuju kamarnya.
"Tapi kalian belum makan!" teriak kinan.
"Gak lapar."
Setelah jihan naik, kinan merasa hening duduk sendirian diruang tamu, hingga diapun memutuskan untuk tidur walaupun belum ngantuk. Karena biasanya jam segini kinan dan ayahnya akan main game bersama sambil menunggu mata mereka ngantuk.
Jihan terbangun karena suara ponselnya yang terus berdering, entah siapa yang menelpon di tengah malam begini.
"Hallo"
Hening, tidakada suara dari sebrang telponnya. merasa kesal jihan melihat kembali siapa yang menelpon, dan ternyata nomor yang tidak dia kenal.
"Duh, perutku lapar banget." gumam jihan dan melihat jam sudah berada di angka 12 malam.
__ADS_1
jihan segera keluar kamar dan menuju dapur, mencari sesuatu yang bisa dia makan untuk mengatasi rasa lapar yang mengganggunya.
Glek
Susah payah jihan menelan salivanya, saat matanya menatap sosok tampan di meja makan tanpa mengenakan baju. Hanya celana selutut yang dia kenakan.
Jihan segera berbalik arah meninggalkan dapur, tapi ternyata sang pria terlanjur melihatnya.
"Mau kemana?"
"Makanlah. gue bikin banyak." ucapnya lagi.
Ya dia adalah ibrahim abdulah, pria tampan yang kini berada dihadapan jihan tanpa mengenakan baju. Otot di tubuhnya membuat jihan susah bernapas. Ibra dengan santai menikmati sepiring nasi goreng yang masih mengeluarkan asap. Dari aromanya saja membuat perut jihan meronta-ronta. Hanya saja bentuj tubuh ibra yang seksi di mata jihan, membuat gadis itu pusing tujuh keliling.
"Aku tidak lapar!" bohong jihan.
"Lalu untuk apa lo turun."
"aku... Em"
"Sini, duduk. Temani gue makan." ucap ibra yang sudah berhasil meraih tangan jihan. hingga tubuh kecil jihan segera tertarik mendekat ke arah ibra.
Glek...
Lagi dan lagi jihan harua bersusah payah menelan salivanya.
"Duduk!"
"Astaga! kenapa aku jadi hilang akal begini." batin jihan.
"Apakah kamu tidak bisa memakai pakaianmu sebelum makan?" tanya jihan tanpa menatap ibra.
"Tidak."
"Tapi ini bukan rumahmu! Harusnya kamu bisa menjaga sopan santun."
"Kamu..."
Jihan menjeda ucapan nya, saat jari ibra menempel dibibirnya.
Sontak saja perlakuan ibra membuat napas jihan seakan berhenti. Jantungnya berdebar tidak karuan, entah perasaan apa yang kini jihan rasakan. Semua sendinya terasa mati.
"Jangan berisik!" ucapan ibra mengembalikan kesadaran jihan yang sempat melayang entah kemana.
"Ck! Kamu membuatku seperti orang bodoh." ucap jihan sesaat setelah dirinya berhasil menguasai perasaan anehnya.
Ibra menghabiskan nasi goreng di piringnya dan segera berlalu dari hadapan jihan.
"Habiskan semuanya." teriak ibra sebelum benar-benar meninggalkan jihan.
Merasa perutnya yang sudah sangat lapar, jihan benar-benar menghabiskan makanan yang ada di meja.
***
__ADS_1
Allahu akbar
Allahu akbar
Adzan subuh berkumandang di seluruh penjuru alam. Jihan yang baru saja terlelap membuatnya jadi bangun kesiangan.
"Astagfirallah! Jam berapa ini?" ucap jihan saat matanya terbuka karena silau dari sinar matahari yang masuk dari celah jendelanya.
"jam 9." jihan histeris.
Padahal seingatnya dia baru saja mendengar adzan subuh, tapi jihan malah tidur kembali, hingga membuatnya melalaikan kewajibannya.
"Ini semua gara-gara si ibra!" gumam jihan, segera meraih handuk dan masuk kamar mandi.
30 menit berlalu dan kini jihan sudah segar dan cantik.
"tumben, sepi banget." gumam jihan saat sudah dilantai bawah.
"si kinan kemana?"
"Ah, biarlah! Mungkin dia masih tidur. Inikan hari minggu." gumam jihan bermonolog.
Jihan segera menuju dapur, melihat masakan sudah tersedia dimeja makan. Jihan jadi teringat kejadian semalam yang sudah menyesatkan pikirannya dan menodai matanya.
"Ck! Kenapa jadi ingat mulu sih." ucap jihan segera menepis semua pikiran tentangnya.
"Tapi, kira-kira siapa yang masak yah?" gumam jihan.
"Ah, masa bodo siapa yang masak. Yang penting aku mau makan."
Jihan segera makan dengan lahap, memikirkan kejadian semalam membuat perutnya semakin lapar.
Ceklek..
Suara pintu depan dibuka, jihan melongokan kepalanya ke arah depan. Dan terlihat kinan bersama ibra yang baru saja datang.
"Eh! Kak jihan sudah bangun?" tanya kinan.
"Ya, kamu pikir orang tidur bisa makan." jawab jihan.
Kinan nyengir menampakan deretan giginya.
"Tadi nenek telpon, katanya akan pulang malam. Nenek juga bertanya kenapa ponsel kak jihan tidak bisa dihubungi." ucap kinan sambil menyendok makanan.
Ibra hanya duduk manis sambil memperhatikan jihan yang dimatanya terlihat sangat cantik. Kalau yang belum tau gadis di depan nya ini akan terlihat manis dan anggun. Tapi kenyataannya jihan sangat bar-bar dan galak.
"Kamu, kenapa melihatku seperti itu." ucap jihan yang merasa gugup dipeehatikan seperti itu.
"Kayaknya, om ibra menyukai kak jihan." celetuk kinan. Yang mendapatkan sorotan tajam dari jihan dan ibra. Hingga membuat kinan mati kutu. Mengunci mulutnya dengan rapat, dia tidak mau mati konyol diserang ratu dan raja iblis.
Mereka melanjutkan makan tanpa ada yang mau membuka suara , hanya dentingan sendok yang mengisi ruangan besar itu.
Bukan kinan tidak tau, kalau kedua manusia beda jenis itu saling mencuri pandang. Hanya saja kinan takut kalau-kalau dia salah bicara, bisa-bisa napasnya akan berhenti karena tersedak makanan saking takutnya.
__ADS_1
kinan mengulum senyum saat mereka tidak sengaja mengambil sesuatu yang sama. Nampaknya jiwa muda kinan meronta-ronta ingin mengejek dua manusia didepannya itu.
Bersambung