Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 54.


__ADS_3

Ceklek


"Pak riko, ada apa? Dan..." Ucapan jihan terhenti saat melihat riko masuk begitu saja tanpa meminta persetujuan jihan.


"Hei, jangan mentang-mentang anda bos, lalu bisa seenaknya saja begitu." Ucap jihan ketus.


"Pecat saja dia jadi bos!" celetuk ibra, tanpa melihat bagaimana terkejutnya wajah cantik jihan.


"Pria ini memang keras kepala! Kalau di jadikan bos dia akan semena-mena terhadap karyawan." sambungnya lagi. Tanpa menghiraukan jihan yang sudah terbengong dengan segudang pertanyaan dikepalanya


"Ck! Kamu sendiri saja sudah macam manusia tidak berguna, bos." umpat riko. Entah keberanian darimana hingga dia bisa mengeluarkan suara dengan bunyi seperti itu.


Jihan terbahak mendengar ucapan riko, pasalnya dia sangat setuju kalau ibrahim itu memang seperti manusia tidak berguna, kerjanya hanya luntang lantung saja, bahkan anehnya dimana dia berada pasti akan menemukan ibra di pandangan matanya.


"Apa yang lucu?" tanya ibrahim kesal, hatinya masih kesal terhadap angga dan sekarang dia seakan sedang di bully.


"Tidak ada! Hanya saja, aku setuju dengan ucapan bos riko." jawab jihan enteng. Bahkan masih dengan senyum bahagia mendengar kalimat tidak berguna itu..

__ADS_1


"Jangan panggil dia bos, akulah bosnya!" Ucap ibrahim, rasanya dia memang sudah harus membuka jati dirinya di depan jihan agar sedikit mendapat perhatian. Namun bukannya merasa bagaimana, jihan malah semakin terbahak bahkan semakin kencang saja suaranya hingga dia sendiri mengeluarkan airmatanya.


"Ah, astaga! Terima kasih karena sudah menghiburku." Ucap jihan di sela-sela nafasnya yang tersengal karrna menahan tawanya.


"Riko, jelaskan pada anak buahmu itu. Kalau akulah bos besarnya." Pinta ibrahim kepada riko yang sejak tadi mengulum senyum karena entah kenapa melihat jihan tertawa bahagia hatinya pun ikut bahagia, dia sudah menganggap jihan seperti adiknya sendiri.


"Tidak, tidak. anda tidak perlu menjelaskankan bos riko, karena bagiku siapapun dia itu tidak penting. Karena untuku andalah bosnya." Ucap jihan acuh, walaupun dalam hatinya begitu penasaran benarkah manusia batu di depannya itu adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Kalau dilihat dari keluarganya, kemungkinan benarnya sangat besar. Tapi melihat dari penampilan ibrahim sendiri dia sangat tidak percaya sama sekali. Memikirkan itu membuat jihan tidak sadar kalau kedua pemuda tampan itu sedang memperhatikannya.


"Terserahlah! Kamu memang keras kepala." Ucap ibrahim akhirnya setelah beberapa saat tadi tercipta keheningan.


"Apa!!" jihan terkejut saat mendengar bram kritis, sebab pagi tadi dia masih melihat bahkan sudah menolak pria yang sudah seperti ayahnya itu, dan tiba-tiba saja ibrahim mengatakan kalau sedang kritis. Jantungnya berpacu dengan cepat seakan dirinya sedang berlari maraton dengan jarak ratusan ribu kilo meter.


"Apa yang kamu katakan, ibrahim! Kenapa paman sampai kritis?" Tanya jihan dengan nada sedikit tinggi karena terkejut.


"Akupun tidak tau, pulang-pulang kak bram sudah dibawa ke rumah sakit. Dan sialnya semua itu ulah dari istrinya sendiri di bantu oleh si brengsek angga itu." Jawab ibrahim.


"Dan sekarang, bodohnya aku ikut kesini dengan bosmu yang otaknya hanya secuil itu!"

__ADS_1


"Apakah kinanti sudah tau?" Tanya jihan.


Degh!


Ibrahim bahkan tidak mengingat gadis itu, karena dia yang begitu panik dan khawatir hingga lagi dan lagi harus melupakan keponakannya itu.


"Tidak, aku tidak tau bagaimana cara memberitahunya." Jawab ibrahim.


"Biar aku saja yang memberitahu, dia harus tau. karena ini tentang ayahnya."


"Tapi, bagaimana kalau dia... Jihan, berikan ponselmu. Biar aku yang memberitahunya, aku tidak mau gadis itu kembali salah paham." Ibrahim segera meraih ponsel jihan dari genggaman tangan jihan.


Di tekannya nomor kinanti dan dengan terburu dia menelpon kinanti tanpa bertanya apakah ponsel jihan ada pulsa atau tidak.


"pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan pangggilan ini, tut... Tut...tut" begitulah bunyi operator di ponsel jihan saat sedang melakukan panggilan itu. Ibrahim benar-benar kesal dan hampir saja membanting ponsel jihan satu-satunya itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2