
Proses pemakaman bram akhirnya selesai, kepergiannya membuat hati seseorang begitu hancur sehancur-hancurnya. Dia terus menyesap rokok dengan tiada henti. Bahkan sudah dua hari tidak makan apapun selain rokok dan kopi. Ya, dia adalah ibrahim abdulah. Walaupun dirinya sudah berusaha kuat di depan semua orang, nyatanya dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau kematian bram menjadi pukulan terbesar setelah kepergian ibunya.
Melihat ibrahim yang masih saja seperti itu selama dua hari ini, membuat riko kesal. "Bos, berhentilah bersikap gila seperti itu!"
Ibrahim menatap riko sebentar, dan kembali lagi menyalakan rokoknya untuk yang kesekian puluh kalinya. "Apa kamu tau, riko? Kak bram itu sangat bodoh!"
Riko mendengus kesal. " Ck! Kamu bahkan lebih bodoh darinya, bos."
Membuat mata ibrahim membulat. "Aku jadi takut jatuh cinta! Cinta hanya membuat seorang pria menjadi bodoh."
"Bahkan sebelum cintamu terbalas saja, kamu sudah bodoh!" Ucap riko. Ibrahim terkekeh mendengarnya, dia tidak menyangka kalau ada orang sebodoh dirinya.
"Kamu harus dengar ini, kalau selain riana dan angga ada dua orang lainnya yang menginginkan kematian kak bram. Salah satunya adalah ibu tirimu, bos." Sambung riko. Membuat ibrahim berdiri seketika dari duduknya.
Brak...
Saru meja hancur sekali gebrakan ibrahim. Hatinya benar-benar memanas mendengar laporan dari riko.
"Aku sudah menduganya, riana tidak mungkin berrindak sendiri."
"Hari ini, bos diminta datang oleh pengacara kak bram. Dia akan membacakan hak waris." sambung riko lagi.
"Ck! Warisan. Aku yakin riana sudah memanipulasi semuanya. Aku akan datang!" ibrahim segera meraih kemejanya dan pergi begitu saja tanpa merapihkan dirinya yang terlihat begitu berantakan.
__ADS_1
Riko mengekor di belakang ibrahim. Hatinya terus saja mengomel dengan kelakuan bosnya. Dengan cekatan dia menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi langsung meluncur ke arah rumah riana, namun tiba-tiba saja ibrahim menghentikan riko, membuatnya mengerem dengan mendadak.
Ciiiittttttt.....
Dugh!
"Astaga!"
"Kamu mau kemana?" ucap ibrahim santai. Dia tidak perduli dengan kepala riko yang membentur setir.
"Kemana? Bagaimana? Ya. Ke rumah kak bram, bos."
"Putar balik, cari butik. Aku mau ganti baju dulu. Kamu sudah gila, aku kesana dengan penampilan gembel seperti ini. Riana akan bahagia melihatku terpuruk."
Sementara itu di rumah riana semua orang sedang bertanya-tanya, karena pengacara yang sudah di percaya oleh bram menanyakan kedatangan seorang jihan, tentu saja itu membuat riana kesal. Padahal dengan susah payah dia harus mengambil cap jempol suaminya atas surat yang dia buat sendiri tentang harta waris. Namun ternyata bram sudah terlebih dahulu membuat surat waris yang isinya bahkan diberikan kepada jihan. Membuatnya semakin geram dan marah.
Semua orang menunggu pengacara membacakan apa isi surat yang ditinggalkan bram. Selain menunggu ibrahim riana pun harus menunggu jihan.
"Pak, apa yang sebenarnya ditulis suami saya untuk gadis itu?" Tanya riana tidak sabar.
"Maaf, ibu riana. Saya akan membacakannya saat semuanya sudah hadir disini, termasuk jihan."
Riana mendengus kesal. "Tapi, sebelum kepergian nya. Suami saya menitipkan surat ini kepada saya, bagaimana bisa dia mempunyai surat yang lainnya."
__ADS_1
"Pak bram bahkan menulis surat ini jauh sebelum dirinya sakit, bu riana." jawab pak riyan selaku pengacara kepercayaan bram.
Riana mendengus kesal, lagi dan lagi nama jihan yang selalu saja ada dalam kegagalan yang di alaminya. Kini riana kembali harus menelan kekecewaan saat tau kalau ternyata suaminya sudah jauh hari menyiapkan surat warisan.
Tap
Tap
Tap
Derap langkah kaki seseorang mengalihkan pandangan mata semua yang berada di ruang tamu itu, termasuk sang pengacara. Dia tersenyum saat melihat ibrahim datang dengan wajah segarnya. Padahal dua hari yang lalu dia mendapat kabar dari riko kalau adik dari bram itu sangat terpukul hingga harus mengurung dirinya tanpa makan apapun. Tapi, kini dia bangga karena melihat ibrahim tampil dalam keadaan yang jauh lebih baik.
"Apa kabar pak surya? Senang, akhirnya bisa bertemu dengan anda lagi." Sapa ibrahim. Setelah berjabat tangan ibrahim pun duduk berhadapan dengan riana dan juga nenek. Ada angga, kinanti dan juga amanda. Bahkan ayah dan ibu tirinya serta adik tiri ibrahimpun turut serta di ruang tamu itu.
"Silahkan di mulai." Sambung ibrahim.
Pak surya tersenyum simpul dan menghembuskan napasnya berat. "Masih ada seorang lagi yang harus kita tunggu."
Membuat kedua alis ibrahim bertaut menjadi satu, pasalnya dia merasa semua keluarga sudah berkumpul.
"Jihan, kita menunggu jihan. Kalau gadis itu tidak bisa datang hari ini, kita akan menundanya sampai dia bisa datang." Ucap pak riyan saat melihat kebingungan ibrahim.
Ibrahim menatap riko dengan sejuta tanya. Namun riko hanya mengendikan bahunya sebagai jawaban kalau dia tidak mengetahui akan hal itu.
__ADS_1
Bersambung...