Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 61.


__ADS_3

"Kalau begitu, kita akan menunggunya." Ucap ibrahim akhirnya. Entah kenapa dia merasa kalau kakaknya menyembunyikan sesuatu. Ibrahim semakin merasa bersalah karena tidak pernah ada di saat kakaknya membutuhkannya, dia begitu bodoh dan lemah hanya karena kehilangan ibunya dia mengabaikan sang kakak. Hingga harus mengurus semuanya, di tambah lagi dirinya yang sempat depresi untuk waktu yang lumayan sangat lama hingga membuat bram benar-benar tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Bahkan setelah sembuhpun ibrahim begitu jarang menemui kakaknya karrna dia lebih memilih merintis usahanya sendiri hingga dia tidak mau bergantung kepada sang kakak.


"Harus berapa lama lagi? Aku sungguh bosan!" gumam riana yang masih bisa di dengar semua yang ada di sana.


Ibrahim tersenyum sinis, akhirnya dia akan melihat bagaimana permainan riana dan ibu tirinya akan gagal dengan kehadiran jihan.


Tap


Tap


Tap


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." kompak semuanya menjawab, tentu tidak dengan riana dia bahkan memalingkan wajahnya.


"Jihan, mari masuk!" seru nenek yang merasa begitu bahagia karrna jihan mau datang. Bagi nenek apapun isi surat yang di tinggalkan bram untuk jihan dia tidak perduli, dia hanya mau menebus segala kesalahan nya kepada jihan dan aisyah.


Jihan hanya berdiri mematung menatap semua mata yang kini tertuju ke arahnya. jihan yang awalnya menolak datang karena merasa khawatir aisyah tidak ada yang menjaga, akhirnya memutuskan datang setelah zia meyakinkannya kalau dia yang akan menjaga ibunya.


"Jiham, Duduklah." pinta pak surya dengan ramah. jihan hanya menganggukan kepalanya. Dia sangat tau siapa pak surya, pasalnya dulu jihan pernah dikenalkan oleh bram saat dia diminta untuk menandatangani sebuah surat, namun jihan menolaknya secara halus setelah tau isi surat yang harus di tanda tanganinya. Kini dia kembali bertemu dengan pak surya, tentu saja jihan sudah paham apa yang akan di bicarakannya.

__ADS_1


"Cepatlah! Aku bukan babumu yang rela membuang-buang waktu hanya untuk menunggu gadis miskin sepertimu." Ucap riana.


Nenek yang kesal dengan ucapan riana pun tidak tinggal diam. "Riana! Jaga bicaramu." membuat riana mencebikan bibirnya.


Ibrahim menatap jihan yang seakan sudah tau maksud dari kehadiran dirinya di keluarga itu. Ibrahim sendiri tidak berniat dengan harta kakaknya, karena dirinya bahkan lebih kaya dari sang kakak, sayangnya tidak semua orang tau kalau ibrahim abdulah adalah seorang pengusaha sukses di kota itu. Perusahannya berada dimana-mana. Bahkan pusatnya berada di luar negara. itulah kenapa dia tidak begitu memperhatikan sang kakak karena sibuk dengan semua bisnisnya. Ya, walaupun semuanya tidak nampak. Karena cara berpakaiannya yang amburadul hingga orang yang melihatnya hanya seperti pereman pasar yang kerjaannya luntang lantung gak jelas. Sebab itu jugalah ayah dan ibu tirinya tidak menyukai ibrahim. Bahkan riana pun tidak menyukai ibrahim lantaran bram tidak pernah cerita kalau sang adik adalah seorang pengusaha sukses.


"Baiklah, karena semua sudah berkumpul di sini saya selaku pengacara yang diberikan amanah oleh almarhum. Akan membacakan isi dari surat wasiat ini." Ucap pak surya tanpa menghiraukan ucapan riana.


Ibrahim begitu intens menatap sang ibu tiri, tatapan tajam itu membuat sang ayah murka. Namun dia masih tetap sabar menunggu apa yang akan dibacakan oleh sang pengacara.


"Assalamu'alaikum... Jika kalian mendengar dan mengetahui isi surat ini, itu berarti saya sudah tidak lagi bersama dengan kalian lagi. Pesanku hanya satu tolong hargai dan patuhi semua yang saya tulis dalam surat ini."


Tes


Tes


Kembali sang pengacara melanjutkan. "Saya bramasta abdulah dengan sangat sadar dan tanpa tekanan dari siapapun menuliskan surat wasiat untuk kelak di patuhi oleh seluruh keluarga tanpa terkecuali. Dengan ini memutuskan seluruh aset perusahaan atas nama bramasta abdulah yang meliputi 4 perusahaan properti termasuk cabang-cabangnya. Dan 2 perusaahan kuliner termasuk dengan seluruh cabang-cabangnya. Semua akan saya hibahkan kepada putri angkat saya seorang anak yatim yang bernama jihan."


"Apa!! Apa-apaan ini?" Teriak riana dengan emosi yang semakin memuncak.


"Sabar dulu, ibu riana. Biarkan saya menyelesaikan semuanya dan ibu baru boleh bersuara." Pak surya semakin yakin kalau keputusan bram menghibahkan semuanya kepada jihan adalah keputusan yang tepat.

__ADS_1


"Riana, duduklah!" seru nenek meminta riana tenang. Pasalnya bukan hanya riana yang terkejut, nenekpun sangat terkejut mendengar semua itu. Ibu tirinya bahkan sampai membulatkan matanya mendengar itu semua.


"Pak surya silahkan dilanjut." Ucap ibrahim dengan senyum tercetak jelas di wajahnya melihat riana dan ibu tirinya yang hampir sesak napas. "Rasakan itu! Semoga saja kalian terkena serangan jantung sekalian." gumam ibrahim. Yang hanya bisa di dengar riko. Hingga sang asisten mengulum senyum mendengar ucapan kekanakan ibrahim


"Baiklah saya akan melanjutkan."


"Dan semua itu sah menjadi milik jihan, yang kepengurusannya akan di bantu oleh kinanti. Dan untuk istri saya riana saya sangat berterima kasih karrna kamu sudah mau menemani saya walaupun tanpa rada cinta yang tulus. Sebagai bentuk terima kasihku padamu, rumah dan dua salon yang sudah kamu kelola akan tetap menjadi milikmu sepenuhnya."


Brak!


"Kamu pikir anakku ini apa? Hah!! Dia hanya membantu mengurus begitu? Aku rasa kamu dan gadis miskin itu sudah memanipulasi semuanya!!" Teriak riaana dengan wajah merah padam.


"Benar, pak surya. Disini bram mempunyai seorang anak. Tapi..." Ucapan sang ibu tiri terjeda karrna pak surya mengangkat tangannya meminta semuanya untuk kembali diam.


"Kinanti, mungkin sekaranglah saatnya kamu tau, nak." Ucap pak surya, yang membuat semua orang dibuat terkejut dengan kalimat pak surya. Termasuk ibrahim. kaca mata yang sejak tadi bertengger di hidung mancungnya harus dia lepaskan demi bisa melihat keseriusan di wajah sang pengacara.


"Maksudnya apa, pak surya?" Tanya kinanti dengan lirih. Dia merasa akan ada sesuatu tang terjadi. Dadanya bahkan sudah terasa sesak sebelum mendengar semua penjelasan dari pak surya. Entah apa yang sudah di rahasiakan kedua orang tuanya.


"A... Apa maksudmu, pak surya? Bicara yang jelas!!" Teriak riana geram. kekhawatiran terlihat jelas di wajah cantik riana, pasalnya dia sangat takut akan sesuatu yang bahkan hanya dirinya saja yang tau kebenaran tentang kinanti. Namun, kini riana merasa sepertinya bram pun mengetahuinya tanpa bicara kepadanya.


"Tentunya, ibu riana lebih tau apa maksud dari ucapan saya." jawab pak surya. Membuat ibrahim melangkah mendekati sang pengacara.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2