Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 34.


__ADS_3

"Riana, kenapa hanya berdiri. Apakah itu kopi untuk ku?" Tanya bram. Dia sudah melihat bagaimana interaksi antara ibra dan juga riana tadi. Dia sengaja tidak menampakan diri di antara mereka. Bram akan menyelidiki lagi apakah riana masih terlibat dalam urusan jihan atau tidak. Mendengar apa yang ibra katakan nampaknya ada masalah baru lagi.


"Eh! I...iya, ini untukmu." jawab riana. Dia berusaha menetralkan jantungnya yang entah kenapa kalau bertemu ibra mendadak tidak karuan, seperti maling ketahuan saja.


"Apa yang kamu lihat disana?" Tanya bram menyelidik.


"Tidak, aku tidak melihat apapun. Hanya saja tadi sepertinya adikmu baru pulang." jawab riana.


"Ya, dia baru saja pulang. Aku tidak mau dia kembali seperti dulu." ucap bram penuh arti dan riana sangat mengerti apa maksud perkataan suaminya itu. Ibra yang dulu, hidup di jalanan berteman dengan preman dan tidak segan membunuh siapapun yang mengusiknya. Tekanan mental akibat kehilanga sosok ibu dan menikahnya sang ayah membuat ibra menjadi seorang yang tak punya hati. Riana sangat tau bagaimana bram membawa adiknya kembali dari keterpurukan. Riana pun tau bagaimana bram dengan sabar dan tekun memberikan penjelasan hingga ibra seperti saat ini, mulai terkontrol. Itulah yang membuat riana sendiri sebenarnya takut berurusan dengan seorang ibra, yang bisa kapan saja sifat iblisnya keluar.


"Aku mau ke rumah ibu." ucap riana, dia tidak mau membahas semua tentang ibra, rasa-rasanya kepalanya akan benaran pecah memikirkan itu semua.


"Ya, berhati-hatilah."


"hemm"


Riana segera meluncur menggunakan mobilnya, setelah pamit dan mencium punggung tangan suaminya.


20 puluh menit berlalu dan kini riana sudah berada didepan rumah mewah ibunya, rumah yang terlihat sepi seperti bangunan kosong. Ibunya selalu saja menolak ketika riana memintanya mencari asisten rumah tangga. Dan kini rumahnya terlihat sangat menyeramkan. Beruntung masih ada pak hasan di pos jaga. Kalau tidak entah akan seseram apa rumah besar ini.


Tiiiiinnnnn


Mendengar suara mobil, pak hasan yang sedang menyiram tanaman di samoing rumah, segera menghampiri dan membukakan pagar rumah itu.

__ADS_1


"Terima kasih pak, ibu ada?" tanya riana.


"Ibu ada, tadi baru saja di periksa dokter keluarga." jawab pak hasan ragu. Pasalnya dia sudah di wanti-wanti agar tidak memberitahu riana ataupun angga.


"Apa! Ibu kenapa? Kenapa tidak telpon saya pak?"


"Maaf, ibu meminta saya tidak menghubungi bu riana ataupun pak angga." jawab pak hasan.


Riana segera memasuki rumah mewah yang sangat sunyi itu, terbesit dihatinya menyesali kepergian aisyah dan jihan. Setidaknya mereka berdua sangat membantu ketika ibunya sedang sakit.


"Bu, ibuuu..."


Riana mendapati sang ibu berbaring menghadap tembok. Bahkan panggilan riana tidak diresponnya.


Bu hadijah, nama yang selama ini tidak pernah disebut di rumah itu, dia selalu senang di panggil nenek oleh siapapun yang dikenalnya. Kini dia terbaring lemah di kasurnya. Bukan karena suatu penyakit, tapi karena rasa bersalahnya yang telah termakan ucapan angga dan riana, hingga dia mengusir jihan dan aisyah yang sudah begitu tulus merawat dan menemaninya. Bahkan aisyah mengabaikan perasaan jihan yang tidak mau tinggal di rumah itu hanya untuk memenuhi permintaan sang mantan mertua.


"Bu, bicaralah. Riana tidak tau kalau ibu sakit, kenapa ibu melarang pak hasan menghubungi kami. Lalu bagaimana kalau terjadi sesuatu, bu." ucap riana lirih. Dia merasa ibunya sedang menyembunyikan sesuatu. Pikiran riana semakin tidak tenang.


"Bukankah itu bagus, kalau aku mati kalian jadi tidak harus repot datang kesini." jawab sang ibu ketus.


"Bu, apa yang ibu katakan. Aku dan kak angga tidak seperti itu. Kalau ibu mau, tinggalah bersamaku dirumah."


"Untuk apa? Untuk mengikuti semua sandiwara dalam hidupmu itu atau menjadikan ibumu ini budak di rumahmu."

__ADS_1


"Apa maksud ibu!" riana mulai terpancing emosinya.


"Aku sudah tau kalau kalian lah yang menjebak jihan, hingga membuatku mengusir mereka."


Deg


Deg


Deg


Jantung riana seakan berhenti berdetak, bagaimana bisa aang ibu mengetahuinya. Siapa yang sudah berkhianat disini. Atau mungkin ibra yang memberitahu semuanya kepada ibu. Riana benar-benar sangat terkejut. Hingga kakinya refleks mundur menjauhi ranjang sang ibu.


"Kenapa? Apa kamu terkejut mendengarnya, hah! Anak macam apa kamu riana, sudah bagus ibumu ini ada yang merawat dan menemani dirumah seluas ini. Tapi kalian begitu sanagt berambisi mengusir mereka. Apa salah mereka, riana. Apa?" teriak ibunya dengan air mata terus mengalir.


Keringat dingin mulai membasahi dahi riana, dia tidak tahi harus berkata apa kepada ibunya.


"Pergi saja kalian, aku tidak butuh kasih sayang palsu dari kalian!"


"Bu, itu tidak seperti yang ibu pikirkan. Kami hanya..." ucapan riana menggantung saat sang ibu mendorongnya keluar kamar. Dan menutup pintu kamarnya dengan kencang.


Riana benar-benar tidak memyangka. Ibunya akan semarah itu. dia masih mematung mencerna semua kejadian yang baru saja terjadi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2