
"Kalian! Ada apa ini? Kenapa semuanya berkumpul disini? Memangnya ini tempat rakyat jelata sepertimu?" Teriak amanda yang tidak bisa menjaga ucapan nya. Mulutnya selalu saja seperti itu asal nyablak.
"Amanda, diamlah!" seru angga. Dia tidak mau anaknya itu keceplosan dan mengatakan kalau aisyah ada di rumahnya. Bukan tanpa alasan angga menakutkan akan hal itu, karena amanda yang selalu banyak bicara.
"Tapi, pah...."
"Diamlah! Dan masuk!" Teriak angga kesal.
Melihat itu tentu saja jihan semakin curiga, karena angga seperti sedang menyembunyikan sesuatu dan takut kalau-kalau amanda akan keceplosan. Dari situ jihan jadi semakin ingin memancing emosi amanda yang selalu saja cepat terpancing dan meledak-ledak.
"Pergilah amanda! Papahmu saja tidak mengharapkan kehadiranmu disini, apalagi aku!" Seru jihan sengaja memancing.
"Kamu bahkan lebih menyedihkan daripada kehidupanku, amanda!" Sambung jihan lagi.
Mendengar itu tentu saja amanda segera tersulut emosi, dengan wajah memerah dan tangan terkepal dia menghampiri jihan. Seruan angga bahkan dia abaikan saking kesalnya dengan ucapan yang jihan lontarkan.
"Kamu, dasar gadis miskin tidak tau diri!" Umpat amanda geram.
"Aku memang miskin, tapi ibuku selalu mengharapkan dan mengkhawatirkan aku. Sedangkan kamu! Apa?"
"Apa buktinya ibumu mengharapkanmu, dia bahkan lebih memilih tinggal di...."
"Amanda!" Teriak angga sekuat tenaganya. Hingga menghentikan ucapan amanda. Disaat itulah amanda baru sadar kalau jihan sedang berusaha memancing emosinya. Namun semuanya terlambat, walaupun amanda tidak menyebutkan tapi jihan bukan gadis bodoh.
__ADS_1
"Dimana?" Tanya jihan menatap tajam amanda yang masih membekap mulutnya. Bahkan kini jihan yang maju mendekati amanda.
"Dimanaa, hah!" Teriak jihan.
Ibrahim dan riko hanya menjadi penonton saja, karena saat ini mereka yakin jihan bisa mengatasi semuanya. Bahkan jihan lebih cepat ketimbang dirinya dan riko.
"Apa yang dimana? Kamu seperti orang bodoh yang mempertanyakan sesuatu yang tidak jelas!" Jawab amanda gugup. Langkahnya mundur seiring jihan yang terus maju kearahnya.
"Aku memang miskin! Tapi aku tidak bodoh, amanda! Bicara sekarang atau aku buat mulutmu itu tidak bisa bicara sekalian!" Ancam jihan dengan mata membulat, menatap tajam.
"A,,aku. Tidak mengerti, apa yang kamu tanyakan?"
"Oh, rupanya kamu mau bermain-main denganku, baiklah."
Srettt...
"Aku sedang tidak main-main! Jangan membuatku dengan senang hati melukaimu!"
"Papaaaaahhhh.... Tolong aku, pah." Teriak amanda dengan air mata yang mulai membanjiri pipi mulusnya. Ketakutannya semakin menjadi saat punggungnya menempel ke dinding tanda kalau dia sudah terdesak.
"Katakan! Atau kamu mau aku menggores wajah mulusmu itu."
"Baiklah!"
__ADS_1
"Amanda!" Teriak angga.
"Pah, apa papah mau aku dibunuh oleh gadis ini. Dia bahkan sudah seperti orang g*la!" Jawab amanda yang memang sudah kesal terhadap angga.
"Bagus! Katakan dan jangan coba-coba membohongiku atau tidak akan ada lagi kesempatan kedua."
"Baiklah! Dia ada di kamar belakang, tante riana yang membawa ibumu itu kesini dan mengurungnya disana."
"Ck! Aku tidak butuh penjelasanmu! Aku hanya mau ibuku!" Teriak jihan dan meninggalkan amnda dengan segala ketakutannya.
Jihan segera berlari ke arah yang ditunjukan amanda dan benar mendapati kamar di sebelah dapur yang ternyata terkunci. Matanya awas memperhatikan setiap inci demi mendapat kunci kamar itu, dan benar saja kunci berada di sisi lemari dekat pintu kamar itu, segera jihan meraihnya dan membuka pintu dengan cepat.
"Astagfirallah! Ibuuuuu...." Teriak jihan. Membuat ibrahim dan riko segera berlari menghampiri jihan.
"Jihan, ada apa?" Tanya ibra yang lebih dulu sampai.
"Ibuku pingsan, sepertinya mereka tidak memberi ibuku makan!"
"Brengs*k! Mereka keterlaluan." Umpat ibrahim
"Riko segera ke mobil!" Teriak ibrahim.
Ibra segera meraih aisyah dan menggendongnya keluar, jihan yang masih belum mencerna semua ucapan ibrahim mengekor dibelakang dengan khawatir.
__ADS_1
"Aku akan mencari kalian kalau sampai terjadi sesuatu kepada ibuku!" Teriak jihan sebelum benar-benar keluar dari pintu rumah angga.
Bersambung....