
"Bagaimana, ri. Apakah kita akan tetap menunggu kinanti?" Tanya nenek yang entah sejak kapan berada di belakang riana.
"Aku tidak tau. Bu. Tapi, kalau kinan tidak ditunggu..."
"Ibu tau, kalau begitu biar ibu saja yang bicara dengan kinanti." Ucap nenek. Dia mengerti kegalauan hati riana.
"Baiklah."
Setelah nenek masuk kamar kinanti, riana dan amanda kembali turun untuk menemui semua keluarga.
"Assalamu'alaikum." Ucapan salam jihan dan zia membuat angga dan semua keluarga besar menatap kedatangan mereka.
"Wa'alaikumsalam." jawab semuanya.
"Mau apa kamu datang kesini?" Tanya riana langsung saat dirinya baru saja turun dan melihat jihan dan zia di depan pintu.
"Aku hanya mau melihat paman untuk yang terakhir kalinya." jawab jihan menatap mata tajam riana.
Riana tersenyum sinis mendengar jawaban jihan yang begitu percaya dirinya akan dibiarkan untuk melihat bram. "Suamiku tidak perlu dilihat olehmu! Dan, aku minta kamu pergi dari sini sekarang juga!" Usir riana.
__ADS_1
"Riana, kendalikan emosimu!" Bisik angga di telinga riana.
"Tapi.."
"Ck!" riana mendengus kesal. Karena dia teringat akan ibunya yang tidak suka kalau dirinya menyakiti jihan.
"Untuk kali ini saja! Dan, segera pergi saat kamu sudah melihat jenazah suamiku." Ucap riana akhirnya.
Jihan menganggukan kepalanya, dia tidak mau banyak membantah karena memang tujuannya datang hanya untuk melihat bram yang terakhir kalinya. Beruntung dia tidak terlambat.
Jihan berjalan gontai menuju jasad sang paman, air matanya berkali-kali dia hapus namun terus saja mengalir tanpa permisi. Langkahnya berhenti tepat di depan jenazah sang paman. Jihan duduk dan terus beristighfar di dalam hatinya agar ia bisa kuat dan tidak menangis.
"Paman, terima kasih untuk semuanya. Untuk waktu dan untuk semua yang sudah paman berikan, maafkan aku karena belum bisa memenuhi semua keinginan paman. Karena sesungguhnya aku memang tidak pantas untuk itu. Maafkan aku." Ucap jihan lirih, namun masih bisa di dengar oleh zia yang setia berada di samping jihan.
Zia mengusap kepala jihan dan memintanya agar tidak menangis. " jihan," jihan melihat zia yang duduk di dekatnya. jihan menganggukan kepalanya dan segera menghapus air matanya. Dia segera mundur dan berdiri setelah menutup kembali penutup wajah bram.
"Pergilah!" Sentak riana saat jihan baru saja berdiri.
Zia benar-benar kesal, karena sejak tadi riana begitu tidak menghargai jihan. Membuat dirinya ingin membalas ucapan riana. Namun, urung dia lakukan karena dia tau jihan lebih tau apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
Jihan tersenyum sinis menanggapi ucapan riana. "Aku akan pergi! Dan, terima kasih." jihan melangkah keluar rumah bersama dengan zia. Namun langkahnya kembali terhenti saat seseorang memanggil namanya.
"Jihan, tunggu!"
Jihan berhenti sejenak, hanya sebentar saja. karena dia kembali melangkah saat tau suara siapa yang memanggilnya
Tangan zia menahan jihan yang akan melangkah pergi. "Jihan, tunggulah! Temui nenekmu."
Jihan kembali diam, dia menunggu sampai langkah kaki neneknya mendekat, dan mendengar apa yang ingin beliau katakan.
Dengan langkah cepat nenek segera mendekat dan meraih tangan jihan. " Tetaplah disini." pinta nenek dengan suara bergetar. Tidak ada tanggapan dari jihan.
"Kak jihan, tetaplah disini. Paling tidam sampai papah dikebumikan, hiks!" suara lirih kinanti membuat mata jihan memanas.
Kinanti meraih bahu jihan dan memeluknya erat. "Aku sendiri, kak. Aku kini tau bagaimana rasanya kehilangan sosok ayah, hiks.. Aku..."
"Aku akan tetap disini! Untukmu dan juga untuk paman bram." Ucapan jihan, semakin mempererat pelukan kinanti.
Melihat itu riana bergumam kesal. "Ck! Anak itu lagi dan lagi memanfaatkan keadaan. Dan, apa tadi yang dikatakan kinanti. Dia bilang sendiri. Lalu aku ini apa? Astaga! Apakah dia..." Riana kembali mengingat kejadian malam kemarin saat kinanti pingsan.
__ADS_1
Bersambung...