
Bram yang sudah tahu kalau semua kekacauan yang di alami jihan dan aisyah adalah ulah istrinya, dia merasa pusing. Apalagi sekarang ibra berdiri di kubu jihan. Mau tidak mau dia akan melawan ibra seandainya dia tidak bisa membuat riana meminta maaf kepada jihan dan aisyah.
Di aduknya kopi yang disuguhkan riana, tanpa berniat untuk meminumnya. Hatinya benar-benar pusing memikirkan semua kelakuan riana.
"Bram, apakah aku boleh bicara denganmu?" tanya nenek yang tak lain adalah ibu mertuanya.
"Ibu, maaf aku tidak tau kalau ibu disini." jawab bram yang sedikit terkejut dengan kedatangan mertuanya.
"Ya, kamu bahkan sudah berulang-ulang mengaduk kopi itu." ucap nenek dia duduk di kursi sejajar dengan bram. Kursi teras itu hanya ada dua yang di beri jarak dengan meja bundar kecil.
"Apakah kamu sedang ada masalah?" tanya nenek.
"Aku sedang memikirkan riana."
"Riana? Ada apa dengan nya?"
"Bu, maaf. Apakah aku boleh bertanya sesuatu tentang jihan dan aisyah?"
"Anak itu! ibu sangat kecewa kepada mereka." Wajah nenek nampak murung, tatapan nya jauh menatap ke arah taman bunga mawar yang di tata indah di halaman rumah mewah bram.
"Apakah ibu yakin, kalau jihan yang mengambil surat iti dan menggadaikannya? Bagaimana kalau itu hanya fitnah. Ada seseorang yang sedang menjebaknya karena tidak suka."
"Entahlah! Tapi bukti yang diberikan angga sudah cukup membuat ibukecewa kepada jihan." jawab nenek dengan wajah sendu.
"Bukti? Bukti apa?" tanya bram penasaran.
"Jaman sekarang apapun bisa dijadikan bukti, bahkan bisa direkayasa sedemikian rupa. Sekarang, apakah ibu sudah bicara dengan jihan? Menanyakan langsung kepada jihan?"
Deg
Deg
Deg
Nenek benar-benar merasa buruk, karena dia sudah percaya kepada angga tanpa bertanya kepada jihan orang yang bersangkutan. Tapi... hati nenek benar-benar membenci jihan, nenek membaca sendiri surat yang menyatakan kalau jihan menggadaikan rumahnya sebesar lima milyar berikut bunganya. Bagaimana nenek tidak percaya, disitu juga terdapat tanda tangan jihan. Hingga keputusannya melaporkan jihan atas permintaan angga di setujui.
"Bu, apakah ibu baik-baik saja?." tanya bram saat melihat mertuanya hanya diam saja.
"Bu, saran bram. Ibu bicara dulu dengan jihan, dan cabut laporan ibu."
"Pah, apa yang kamu katakan?" tanya riana. Yang entah sejak kapan istrinya itu berada disana.
Riana mendekati ibunya dan segera mengajaknya masuk kedalam, karena hari juga sudah hampir gelap.
"Jangan pernah hasut ibu, biarkan ibu memberikan hukuman untuk cucu tidak tau diri itu!" ucap riana sebelum benar-benar masuk kedalam.
__ADS_1
Bram merasa riana sudah melampaui batasan nya. Tapi bram tidak akan menegur riana selama ibu berada didekatnya. Dia akan bicara dengan riana saat malam nanti, tentunya hanya mereka yang akan bicara.
***
"Jib, apakah kamu sudah tau siapa pelaku sebenarnya?" tanya zia yang baru saja masuk kedalam rumah najib. Dan langsung menuju dapur dimana najib berada.
Najib yang akan menyuapkan makanan kedalam mulutnya terpaksa menghentikan kegiatannya.
"Belum." jawab najib, diapun kembali menyuap makanan yang tinggal sedikit itu.
"Kenapa belum? Kamu ini ngapain saja! Gercep dong."
Zia mendudukan dirinya di bangku meja makan berhadapan dengan keponakan nya itu, dia berniat akan menginap di rumah najib malam ini.
"Aku sudah minta rio mencari tahu, tan."
"Dan belum ada hasilnya, begitu?"
"Kalau kerja kalian lambat, jihan keburu masuk bui. Tante dengar kalau nenek sudah membuat laporan di kantor polisi."
Zia menyayangkan keputusan nenek yang terkesan buru-buru.
"Ya, tante riana sudah membuat pengumuman dirumah nenek siang tadi."
"Apakah kamu juga tau?
"Astaga! Kamu benar-benar lambat."
"Ibrahim abdulah, bahkan dia sudah mendapatkan info siapa dalang dibalik ini semua, dan dia juga sedanng bertindak saat ini. Dan kamu.... Apa ini? Kamu malah asik makan disini." zia menepuk jidatnya merasa kesal kepada najib yang menurutnya sangat lambat.
"Satu hal lagi, ibra itu menyukai jihan!"
Uhuk
Uhuk
Najib benar-benar terkejut, hingga dia menelan sisa rendang yang baru saja masuk kedalam mulutnya, yang bahkan dia belum sempat mengunyahnya.
"Minumlah, kamu sungguh payah." zia menyodorkan air minum ke arah najib.
"Minum yang banyak, aku gak mau kamu mati hanya karena tersedak sepotong rendang."
"Astaga! Jahat amat, tan. Ucapannya." jawab najib yang wajahnya memerah karena ulah si rendang.
"Sejarang apa rencanamu?" tanya zia.
__ADS_1
"Entah!"
"Jawaban konyol. Sekarang juga, ayo kita kerumah nenek. Aku akan melamarkan jihan untuk mu. Sebelum ibra mendahuluinya."
Zia segera beranjak dan berjalan keruang tamu, tanpa menunggu jawaban dari najib.
Najib segera mengekor di belakang zia, dia tidak mau kembali memdapat ocehan tantenya yang entah kenapa semakin hari semakin bawel saja, apalagi kalau menyangkut tentang jihan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah nenek, baik zia ataupun najib keduanya tidak ada yang bersuara, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Tiiiiinnnn.
"Pak hasan, tolong buka kan pintu pagarnya." pinta najib menyembulkan kepalanya keluar.
Pak hasan segera membuka pagar rumah, setelah tau kalau najiblah yang datang.
"Terima kasih, pak." ucap najib saat sudah keluar dari mobil.
Mereka segera masuk kedalam, pintu terbuka membuat mereka bisa melihat siapa saja yang ada di dalam sana.
"Najib."
"Amanda, kamu disini?" tanya najib.
"Ya, ini rumah nenek. Kenapa harus heran kalau aku disini." jawab amanda sinis.
"Kamu ngapain malam-malam kesini? Jangan mentang-mentang nenek gak ada terus kamu dan jihan menjadikan rumah nenek tempat mesum!" sambung amanda yang tidak memgetahui kalau zia berada di belakang najib.
Ya, amanda tidak melihat zia, karen zia belum sepenuhnya masuk kedalam. Dia sedang membalas pesan yang masuk di ponselnya. Mendengar amanda mengatakan hal itu, zia segera menampakan dirinya. Hingga membuat mata amanda membulat sempurna melihat kehadiran zia.
"Tante."
"Ya, najib bersama denganku kesini. Jadi sudah bisa dipastikan tidak ada perbuatan mesum antara najib dan jihan, seperti yang kamu ucapkan barusan." jawab zia dengan menatap wajah cantik amanda. ditatap sedemikian rupa, membuat amanda jadi salah tingkah.
"Em... Maafkan aku. Aku hanya tidak mau..." Amanda menjeda ucapan nya, saat melihat jari tangan zia menempel di bibirnya. Tanda kalau zia tidak mau mendengar apapun dari amanda.
Hati amanda benar-benar memanas mendapat perlakuan seperti itu. dia segera mendudukam dirinya di sofa demi untuk mendinginkan kepala dan juga hatinya.
"Jihaaan, kalian mau kemana?" tanya najib.
Ucapan najib membuat zia mengalihakan pandangannya ke arah jihan berada. Jihan dan aisyah yang sedang menarik koper terpaksa harus berhenti, karena ternyata di ruang tamu ada zia dan juga najib.
Bersambung.
Bagaimana sahabat....masih semangat baca yah? Semangat dong. Semoga selalu suka dengan ceritanya. Silahkan like dan komen kalau kalian suka. Terima kasih
__ADS_1
Selamat sore 😘😘