
Seminggu sudah jihan tinggal di rumah yang dia sewa, tidak ada kegiatan lain yang jihan lakukan selain mengetik novel dan membantu ibunya merawat tanaman yang ada di teras rumah, entah siapa pemilik rumah yang dia sewa itu. Rumah yang minimalis tapi asri dan sejuk.
Semalaman jihan berpikir akan bekerja apa, ternyata keberuntungan sedang berpihak kepadanya, entah bagaimana caranya tiba-tiba saja dia membaca info lowongan kerja di sebuah perusahaan yang sedang membutuhkan OG. Dia memutuskan akan mendatangi perusahaan itu besok pagi. Walaupun minggu kemarin zia dan najib sudah menawarkan pekerjaan untuknya, tapi jihan tidak menerimanya. Dia tidak mau lagi dan lagi terlibat dengan balas budi, yang akan membuatanya terus menerus bergantung kepada orang lain.
Allahu akbar
Allahu akbar
Suara adzan subuh berkumandang saling bersahutan. Jihan bergegas bangun dan menuju kamar mandi dan dengan segera menunaikan shalat subuh berjama'ah dengan ibunya. Lantunan ayat yang aisyah baca dengan suara merdunya mengawali hari mereka. Tidak lepas dari do'a dan rasa syukur atas segala yang mereka dapatkan setiap harinya.
"Bu, hari ini aku akan mencari pekerjaan. Selama aku di luar, ibu berhati-hatilah." Ucap jihan, hatinya masih tidak yakin untuk meninggalkan ibunya sendiri, tapi kalau dia hanya di rumah bisa-bisa dia dan ibunya tidak makan. Apalagi uang tabungan jihan sudah semakin menipis.
"Kamu sudah tau mau kerja di mana? Biarkan ibu juga bekerja, agar bisa membantumu, nak."
"Sudah bu, semalam aku membaca lowongan pekerjaan sebagai OG di perusahaan. Do'akan jihan ya bu." jawab jihan. Dia segera meraih tasnya dan mencium punggung tangan ibunya.
"Jihan, kamu tidak sarapan dulu!" teriak aisyah. Karena jihan pergi dengan terburu.
"Tidak bu, aku akan sarapan di jalan." Ucap jihan yang kembali menyembulkan kepalanya di pintu.
Pagi-pagi sekali jihan pergi, selain karena dia takut terlambat. Dia juga gak mau kalau harus naik angkot berdesakan. Kalau pagi begini angkot tidak terlalu padat. Angin pagi juga masih segar.
Sampailah dia di depan sebuah gedung 5 lantai. Perusahaan yang membutuhkan seorang ofice girl. Yang tak lain adalah perusahaan milik ibrahim abdulah. Perusahaan yang bergerak di bidang properti.
Jihan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 6 pagi.
"Masih banyak waktu. Aku mau cari sarapan dulu dekat sini." gumam jihan.
Matanya mengedar mencari warung nasi atau apapun yang menjual makanan. Hingga dia melihat kedai kecil di pinggir jalan yang sudah ramai di jam segini.
Segera jihan mendekati kedai tersebut dan memesan satu porsi nasi uduk dan teh hangat. Tidak butuh lama pesanan jihan pun sudah terhidang di meja yang bermuatan 5 orang itu.
"Jihan, kamu sedang apa disini?" Suara orang tersebut menghentikan gerak tangan jihan yang sedang makan dengan lahap. Yang tak lain adalah ibra.
__ADS_1
Sungguh dia tidak menyangka kalau gadis itu sudah berada di depan kantornya. Padahal fia pikir setelah membaca lowongan itu dia akan datang siang atau bahkan tidak sama sekali.
"Kamu."
"Ya, apakah kamu kesini jauh-jauh hanya untuk sarapan?" Tanya ibra dengan wajah yang segar. Namun penampilan nya tetap saja setia dengan celana robek-robek nya.
Tidak ada jawaban dari jiha , dia kembali fokus kepada makanan yang ada di depan nya, karena dia tidak mau selera makan nya menghilang kalau harus meladeni ibra.
"Nampaknya sangat lapar!" Ucapnya lagi. Dia pun duduk di dekat jihan setelah memesan satu porsi nasi uduk.
"Eh! Ngapain disini? Disana kosong." tujuk jihan ke arah depannya yang memang sudaha kosong.
"Suka-suka akulah mau duduk dimana?" jawab ibra santai dan segera menyendok nasinya.
"Dasar... Hah. Sudahlah, terserah!" Jihan sudah tidak mau melanjutkan ucapan nya. Dia memilih diam dan menghabiskan makannya dengan cepat.
"Eh! tumben sekali." Bathin ibra.
Merekapun menghabiskan makanan nya tanpa ada yang bersuara, jihan segera pergi meninggalkan ibra setelah membayar makanan nya. Ibra menyusul jihan dan mensejajari jalannya dengan jihan.
"Bukan urusanmu! Kamu urus saja dirimu. Jangan terus mengikutiku." Jawab jihan ketus.
"Aku mau masuk kesana, kita satu arah jadi apa salahnya kita jalan bareng." Ibra menunjuk gedung yang sama yang akan jihan datangi untuk melamar kerja.
Jihan menghentikan langkah nya saat tahu kalau tujuan mereka sama.
"Untuk apa kamu kesana?" Tanya jihan kesal, karena rasanya dia selalu saja bertemu dengan orang yang berhubungan dengan keluarga neneknya.
"Aku... Aku hanya mau bertemu teman saja." jawab ibra asal.
Jihan menatap ibra curiga, entah kenapa setiap ibra mengatakan sesuatu dia selalu berpikir kalau pria di depannya ini sedang berbohong. Lagipula mau bertemu teman di jam sepagi ini, membuat jihan semakin curiga.
"Sepagi ini?" Tanya jihan akhirnya.
__ADS_1
"Ya, aku mau pinjam uang pada temanku itu, makanya harus datang pagi kalau siang aku bisa-bisa tidak makan karena gak punya uang." Jawab ibra asal. Entah kalimat darimana itu, tiba-tiba saja melintas di otaknya.
"Pagi-pagi hanya untuk pinjam uang. Astaga! Kamu itu benar-benar tidak berguna!"
"Eh! Aku..." Ucapan ibra menggantung karena jihan sudah pergi meninggalkannya, dia sudah berlari masuk kedalam gedung yang tak lain adalah perusahaan miliknya.
Jihan tidak memperdulikan ibra, setelah mengatakan hal itu dia langsung masuk kedalam untuk langsung interview.
Setelah jihan masuk, ibra menghubungi riko, meminta riko untuk menerima jihan tanpa mempersulitnya.
***
Setelah hampir seminggu nenek mengurung dirinya di dalam kamar, kini dia sudah mulai mau keluar kamar setelah bram menelponnya dan mengatakan akan datang kerumah.
Baru saja nenek mendudukan dirinya di sofa, bram sudah masuk dengan seorang wanita paruh baya.
"Assalamu'alaikum." Ucap bram memberi salam saat melihat nenek duduk di sofa, dengan pintu depan terbuka lebar.
"Wa'alaikumsalam." jawab nenek, dan mempersilahkan keduanya masuk.
"Biar ibu buatkan minum."
"Tidak perlu, bu. Aku hanya sebentar."
Nenek pun kembali duduk. Bram segera mengenalkan wanita yang bersamanya, dan menjelaskan kedatangannya kerumah nenek. Wanita yang bernama sarah itu pun memperkenalkan dirinya kepada nenek.
"Bu, apakah ibu tidak keberatan kalau sarah disini, dia akan pulang sore hari. Karena ada anak-anaknya di rumah." Tanya bram, karena sedari tadi nenek hanya diam saja.
"Baiklah, kalau kamu mau tinggal di sini pun aku tidak keberatan. Bawa sekalian anak-anakmu. Agar rumah ini ramai."Ucap nenek dengan mata menerawang jauh kedepan. Entah apa yang ada dipikiran nya.
"Eh! Tidak nek, tidak perlu. Itu akan sangat merepotkan nenek nantinya. Saya hanya akan bekerja sampai sore saja" Ucap sarah ragu.
"Baiklah."
__ADS_1
Setelah nenek setuju, bram akhirnya pamit dan meninggalkan sarah bersama nenek.
Bersambung...