
"Pah, kapan adikmu itu pulang?" tanya riana kepada bram.
"loh, memangnya kenapa? Ini juga rumahnya, dia bebas mau datang dan pulang kapanpun dia mau." jawab bram santai.
Bram sudah tau watak istrinya, jadi dia tidak perlu adu otot dengan sang istri hanya untuk membahas prihal adiknya yang tidak disukai riana. Begitupun dengan ibra yang sama sekali tidak menyukai riana sebagai kakak iparnya.
"kamu selalu saja seperti itu, aku tidak suka dia disini!"
"Aku tau, tapi aku tidak punya hak mengusirnya." jawab bram dan menyeruput kopi yang disediakan riana.
"Tapi..." riana menjeda ucapannya saat melihat ibra baru saja masuk, dengan tatapan tajam membunuh. Hingga riana harus susah payah menelan salivanya.
"jadi kamu mau memintaku pergi?" tanya ibra yang memang sudah mendengar obrolan keduanya.
"Ti.. tidak!" jawab riana gugup.
"Benarkah! Kalau begitu aku akan menetap disini, selamanya." ucap ibra dan mendudukan diri di sofa berhadapan dengan bram dan juga riana.
"Apa!" ucap riana hampir teriak karena terkejut.
"Santai saja, kakak ipar! Aku cuma mau tinggal disini. Bukan mau mengusirmu. normalkan matamu, karena sangat menakutkan jika melotot seperti itu."
Bram hanya menggelengkan kepalanya mendengar percakapan riana dan adiknya.
"Apakah kamu serius?" Tanya bram membenarkan duduk ya yang semula agak nyender.
"Ya, aku serius. Dan semoga istrimu itu tidak sakit jantung saat aku disini." jawab ibra asal.
Riana pergi meninggalkan kakak beradik itu dengan menghentakan kakinya karena kesal. Riana selalu saja kalah kalau bicara dengan ibra, bahkan bram suaminyapun tidak pernah mau mengikuti permintaannya kalau itu menyangkut masalah adiknya. Padahal bram begitu royal kepada riana, apapun yang istrinya minta selalu jadi prioritas utamanya. Tapi tidak dalam masalah ibra dan kinanti anaknya. Soal harta dan apapun yang riana mau, bram akan segera memberinya berapapun yang riana mau.
"Lihatlah istrimu, seperti gadis minta kawin saja." ucap ibra saat riana berlalu dengan kesal.
"Kamu seperti tidak tau kakak iparmu saja."
"Didiklah dengan benar, kak. Jangan sampai kakak gagal menjadi suami hanya karena alasan cinta, aku rasa kak riana terkadang melampaui batas. Jangan ragu menegurnya kalau memang dia salah."
"Siap pak ustad. Ha ha ha..."
__ADS_1
"Ck! Aku bicara begini. Karena gak mau keponakanku jadi korban."
"Baiklah. Tentu akupun tidak akan membiarkan hal itu. Bagaimanapun mereka berdua tanggung jawabku."
"Lalu bagaimana denganmu? Benarkah mau tetap disini?" tanya bram
"Ya, apakah kakak keberatan?"
"Bicara apa kamu? Aku justru senang. Hanya saja ini tidak biasa, aku jadi curiga.." jawab bram dengan tatapan menyelidik.
"Terserah! Aku mau istirahat dulu. Katakan pada kak riana jangan teriak-teriak selama aku di rumah ini. Aku bukan kak bram yang punya telinga tebal!" ucap ibra dan pergi meninggalakan bram yang hanya terkekeh mendengar ocehan adiknya itu.
Riana yang akan turun ke bawah jadi semakin kesal saat mendengar ibra mengatakan hal itu.
"Dasar adik ipar durhaka." gumam riana melangkah mendekati bram yang masih santai duduk di ruang tamu.
"Pah, aku kerumah ibu dulu."
"Ya, tapi jangan buat keributan disana. Dan jaangan paksa kinanti pulang, kalau dia tidak mau." ucap bram.
"iya, aku tau." jawab riana pergi meninggalakn bram setelah mencium punggung tangan suaminya.
Aisyah yang baru semalam sampai di rumah, merasakan seluruh badannya sakit. Hingga hari ini dia hanya berbaring ditempat tidurnya. Jihan yang melihat ibunya kelelahan dia merasa iba, andai saja dia mempunyai banyak uang tidak akan dia biarkan ibunya merasa kelelahan seperti itu.
"Bu, apakah pergi kemarin begitu melelahkan." tanya jihan yang mendudukan dirinya di sofa kamar aisyah.
"Tidak, hanya saja ibu belum terbiasa dan mungkin karena cuaca disana dan disini berbeda hingga ibu jadi sakit." jawab aisyah dengan senyum khasnya. Senyum yang selalu jihan rindukan kala sang ibu jauh dari pandangan matanya.
"Apakah disana sangat panas?" tanya jihan penasaran. Pasalnya baik jihan ataupun aisyah tidak pernah pergi keluar kota yang memiliki suhu lebih dingin.
"Tidak, disana sangat dingin. Berbeda dengan disini. bahkan AC disini kalah dingin dengan suhu disana."
"Benarkah! Aku jadi ingin kesana, bu."
"Insya allah. Kalau ibu sudah punya uang, ibu akan membawamu kesana. Disana sangat enak, sejuk dan damai."
"Tidak, tidak. Aku yang akan mengajak ibu kesana. Tapi bukan dalam perjalanan pekerjaan seperti yang ibu dan nenek lakukan. Aku akan mengajak ibu untuk pergi berlibur. Agar saat pulang ibu tidak sakit seperti sekarang." ucap jihan semangat.
__ADS_1
Aisyah tersenyum melihat begitu jihan sangat sayang dan perhatian kepadanya, didalam hati aisyah terus melangitkan do'a agar anak semata wayangnya bisa hidup bahagia dan disayangi semua orang.
Jihan dan aisyah terus bercerita sambil tangan jihan terus memijit kaki sang ibu. Hingga suara riana menghentikan obrolan keduanya.
Brak
"Oh, jadi begini kelakuan kalian berdua, dasar orang miskin baru di kasih hati langsung minta jantung!" teriak riana mendorong pintu kamar aisyah yang memang sengaja tidak jihan tutup rapat saat masuk tadi.
"Kalian sudah seperti tuan rumah saja!" teriak riana lagi.
Asiyah menatap jihan dengan tatapan yang sulit diartikan, aisyah takut jihan akan kembali meledak-ledak.
"Apa maksudmu, riana?" tanya aisyah lembut. aisya terpaksa bangun dari tempatnya.
"Alah, jangan sok baik kamu! Bisa-bisanya kalian berdua enak-enakan disini, sedangkan anak dan ibuku sedang beres-beres dibawah!" teriak riana kembali kali ini riana mendorong aisyah hingga aisya yang baru saja duduk di sisi tempat tidur harus kembali terbaring.
" Jangan sentuh ibuku. Aku akan memotong tanganmu kalau berani menyakiti ibuku lagi." ucap jihan dengan emosi yang sudah di ubun-ubun. Jihan menarik angan riana yang dia gunakan untuk mendorong ibunya. Hingga riana meringis kesakitan.
"Lepaskan!" teriak riana dengan wajah merah padam.
"Kamu yang memulai, aku bahkan bisa lebih kejam dari ini tante." ucap jihan dengan napas memburu.
Aisyah merasa pusing hingga dia jatuh pingsan. Jihan yang melihat ibunya pingsan segera mendorong riana hingga terjatuh dan menabrak pintu, hingga menimbulkan suara gaduh. Jihan segera menaiki tempat tidur dan menghampiri ibunya
Nenek dan kinanti yang berada didapur merasa heran kenapa ada suara ribut-ribut dilantai dua. Karena mereka tidak menyadari kedatangan riana saat sedang masak tadi.
Riana yang baru saja datang, segera menuju dapur.tapi riana malah melihat ibu dan anaknya sedang sibuk memasak. riana yang awalnya akan memberi kejutan kepada putrinya akhirnya emosi melihat anak dan ibunya berada didapur sedang masak. Riana lantas mencari aisyah dan jihan ke atas dan mendapati mereka sedang bicara sambil tertawa menyulut emosi riana. Riana yang memang sudah membenci mereka, tanpa bertanya riana langsung menuduh yang tidak-tidak terhadap aisyah dan jihan.
"Bu, ibu... Bangun." ucap jihan menepuk-nepuk pipi ibunya.
"Rasakan, mamp*s saja sekalian!" dengus riana.
"Kalau terjadi sesuatu kepada ibuku, aku pastikan tante akan merasakan hal yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian!" ancam jihan dengan mata membualat sempurna.
"Aku tidak takut, kalian hanya orang miskin yang bisanya membual!" ucap riana dengan senyum sinis.
Nenek dan kinanti yang baru saja sampai di atas, terkejut melihat riana berada dipintu kamar aisyah. Nenek khawatir kalau riana melakukan hal aneh, karena nenektau kalau aisyah sedang sakit.
__ADS_1
Bersambung