
"Kemana jihan? Baru saja tadi. Tapi sudah tidak terlihat." gumam zia yang masih bisa di dengar oleh najib.
"Sebenarnya, ada apa?" Tanya najib akhirnya.
"Ini semua pasti ulah keluarga angkatmu itu. Tante yakin kalau ibu aisyah ada di rumah itu."
"Tadi saat aku telpon tidak ada yang menjawabnya."
"Kalau begitu pasti bukan di rumah nenek. Tapi dimana?"
"Coba kamu telpon kinanti." Pinta zia saat dia teringat kalau kinanti pasti bisa membantunya.
"Baiklah." Jawab najib dan segera menepikan mobilnya.
Najib menghubungi kinanti, menanyakan kkeberadaan aisyah.
"Bagaimana?" Tanya zia tidak sabar.
"Tidak di jawab, tan."
"Ck! Ayo jalan. Kita kerumah nenek saja.
Najib kembali melaju dengan kecepatan di atas rata-rata sesuai permintaan tantenya yang sudah sangat tidak sabaran.
Mereka pun akhirnya sampai di rumah nenek, namun saat bertanya kepada pak hasan. Dia bilang tidak ada aisyah maupun jihan di dalam hanya ada nenek yang sedang sakit.
Zia pun meminta najib segera kerumah riana, perasaan nya semakin tidak karuan mengingat bagaimana riana terhadap jihan.
Najib lagi-lagi harus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karen zia terus saja mengatakan kalau dirinya sangat lambat macam siput.
Jarak yang biasanya hampir 30 menit. Kini hanya di tempuh 15 menit saja, karena najib mengemudikan nya dengan cepat. Beruntung tidak macet, kalau sampai macet rasanya kupingnya akan melebar karena terus mendengar ocehan tantenya.
Najib dan zia segera memasuki rumah mewah riana setelah parkir di luar pagar rumah mewah itu, sengaja tidak memasukan mobil karena zia tidak mau kalau penghuni rumah itu mengetahui kedatangannya. Setelah bicara dengan sekurity riana dan akhirnya mereka masuk kedalam.
"Kalau kamu mau ibumy, kamu harus tinggal di rumah nenek. Karena ibumu sudah setuju tinggal disana." Ucap riana.
__ADS_1
"Sekali lagi aku tanya, dimana ibuku?" Teriak jihan.
"Aku sudah katakan kalau ibumu sudah setuju tinggal disana. Kenapa kamu sangat keras kepala sekali jihan." Ucap riana lantang.
"Kami bukan siapa-siapa kalian! Kenapa kalian harus memaksakan kehendak, hah!"
"Dia itu menantu, dan aku ini adik iparnya. Jadi sudah kewajibannya mengikuti semua peemintaanku dan juga ibuku." ucap riana dengan senyum mengejek.
"Kamu itu siapa, tante? Kalaupun ayahku masih hidup dan ibuku masih menjadi menantu di rumah itu. Kamu hanya ipar untuk ibuku"
"Sampai kapanpun ipar tetap selamanya ipar, dia tidak akan seperti saudara kandung." Tegas jihan kepada riana yang notabene nya hanya mantan ipar sang ibu.
"Ipar ada karena suatu ikatan, bukan dari hubungan darah. Kalau ikatan itu putus maka dia hanya akan menjadi mantan." Sambungnya lagi dengan mata menatap tajam sang tante.
"Lancang sekali mulutmu, jihan. Bagaimanapun dia itu istri dari kakak ku!" Teriak riana.
"MANTAN ISTRI! Tepatnya." Jawab jihan dengan menekan kata mantan.
"Ibuku hanya mantan istri dari kakakmu, tante. Jadi kalian tidak punya hak mengatur hidupnya. Bahkan kalaupun dia masih menjadi istri dari kakakmu, kalian tetap tidak berhak mengatur hidupnya." Teriak jihan dengan sangat kesal, karena riana benar-benar memancing amarahnya.
"Baiklah! Tapi jangan sampai salahkan aku kalau aku berbuat nekat."
"Alah gak usah menakutiku. palingan kamu akan menyerah dan nangis-nangis memohon padaku agar di pertemukan dengan ibumu." ucap riana.
Riana tidak menyadari kalau kelakuannya di lihat oleh najib dan juga zia yang memang sengaja sejak tadi tidak bersuara. Dan yang lebih parahnya lagi bram pun ada di belakang najib.
"Riana!" Suara barito bram membuat riana membeku di tempat. Bukan hanya riana, najib dan zia pun terkejut karena suara itu tepat di belakang mereka. Karena terlalu fokus melihat jihan dan riana hingga mereka tidak menyadari kedatangan bram.
"Mas bram." bathin riana. Wajahnya sudah pucat padahal dia sendiri belum melihat wajah bram yang sudah sangat menakutkan.
"Apa lagi yang kamu lakukan? Hah!" Teriak bram. Riana masih belum juga melihat ke arah suaminya, dia tidak tau kalau bram akan pulang. Padahal dia sudah memastikan dengan menelpon suaminya dan bertanya akan pulang jam berapa. Tapi justru karena itulah membuat bram mencurigai sesuatu, karena tidak biasanya riana bertanya pulang jam berapa. Dulu pernah sekali waktu dia bertanya seperti itu dan ternyata dia sedang hamil kinanti. Dipikiran bram riana mungkin sedang hamil, namun dia tidak menyangka kalau pertanyaan nya itu karrna dia akan melakukan sesuatu kepada jihan dan aisyah.
Najib dan zia segera menepi dari pintu depan membiarkan bram masuk terlebih dahulu. Jihan yang melihat bram segera menyalami pria paruh baya yang menyayanginya itu. Walaupun sangat jarang bertemu tapi bram selalu memperhatikannya dengan seringnya dia membantu perekonomian keluarganya saat baru saja ayahnya meninggal.
"Kamu ada masalah, jihan?" Tanya bram dengan nada lembut.
__ADS_1
"Tante riana membawa ibuku. Katakan pada nya kalau dia mau hidup nyaman jangan mengusik." Jawab jihan masih dalam mode sopan.
Bram menghampiri riana yang masih membeku ditempatnya. Begitupun jihan, dia segera menghampiri zia dan meminta maaf karena pergi begitu saja.
"Riana, jawab aku. Apa yang sudah kamu lakukan?" Ulang bram. Namun riana masih setia dengan diamnya. Hatinya benar-benar ketar ketir mendapati bram yang sudah sangat dekat dengannya.
"Kamu tau, kalau ibrahim sampai tahu soal ini. Tamat riwayatmu, riana."
"Aku..."
"Apa maksud paman? Kenapa harus melibatkan ibrahim?" Tanya jihan memotong ucapan riana yang akan menjawab pertanyaan bram.
Degh
Bram lupa kalau jihan tidak pernah tau kalau ibra yang sudah membantunya diam-diam.
"Jihan, bukankah kamu ingin bertemu ibumu? Jadi, biarkan aku menyelesaikan ini semua dengan riana. Setelah itu paman janji akan menjelaskan semuanya." Ucap bram.
Dan akhirnya jihan tidak lagi bertanya, dia hanya menganggukan kepala mengiyakan ucapan bram. Setelah ibunya ditemukan jihan akan segera menanyakan semuanya kepada bram.
Zia merasa harus segera menyampaikan keinginannya kepada jihan, sebelum bram yang lebih dulu mengatakan kalau ibrahim adiknya itu juga menginginkan jihan. Tapi bagaimana caranya zia sendiri masih bingung. Karena kalau bicara sekarang akan sangat tidak mungkin karena jihan masih menunggu kabar dimana ibunya.
"Riana, ikut aku!" Teriak bram. Dia menarik lengan riana hingga riana sedikit terseret.
"Aku tidak mau, mas. Aku tidak tau dimana aisyah." Bantah riana menghentakan tangannya namun gagal. Karena genggaman tangan bram lebih erat.
"Aku akan bertanya, setelah itu baru kamu jawab dan berikan alasannya. Aku akan menghukum mu kalau ternyata benar kamu terlibat dalam hilangnya aisyah."
"Tapi aku tidak tau, mas. Aku benar-benar tidak berbohong."
"Katakan itu nanti setelah aku selesai bicara."
Bram menatik riana, dia tidak perduli bagaimana riana yang terus saja memberontak. Bahkan bram terpaksa harus menyeretnya.
Bersambung....
__ADS_1